Abdul Somad dan Adi Hidayat; Standar Baru Dakwah Islam Indonesia

Breaking News Editorial Headline

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

(Intelektual Muda Persatuan Tarbiyah Islamiyah)

Selama hampir setengah abad ini, wacana keislaman modern Indonesia memang didominasi oleh cendekiawan NU dan Muhammadiyah. Masing-masing mewakili tradisionalis dan modernis. Dan umat Islam seolah secara otomatis telah tergolong menjadi dua bagian mengikuti kedua ormas tersebut.

Selain faktor wacana keislaman yang muncul dari kedua organisasi tersebut, faktor eksistensi organisasi dalam masyarakat melalui kegiatan sosial, budaya dan politik, juga ikut membangun dugaan bahwa hanya ada dua ormas Islam di Indonesia.

Kedua organisasi tersebut memang merupakan ormas Islam berpengaruh, besar dan dikenal oleh masyarakat luas. Survei Alvara Research Center menyebutkan bahwa kedua ormas tersebut adalah ormas paling dikenal oleh masyarakat lintas profesi dan mempunyai keanggotaan paling dominan. Sehingga bila ada masyarakat atau kelompok yang berpaham sama atau mirip maka secara otomatis akan dianggap menjadi bagian dua organisasi besar tersebut.

Kosentrasi intelektual muda dua organisasi terbesar Islam, NU-Muhammadiyah akan wacana modernitas Islam, membuat ruang dakwah menjadi ‘kosong’. Sehingga hampir satu dekade belakangan dunia dakwah Islam lebih banyak diisi oleh wawasan dakwah yang memecah belah, provokatif, dan miskin wawasan keragaman pendapat dalam tradisi Islam. Sehingga perbedaan pendapat dipahami sebagai sesuatu yang berlawanan dan pihak yang berbeda dianggap menyimpang dari ajaran Islam.

Selain itu, kekosongan dakwah Islam Indonesia, menjadi ruang tarik menarik ideologi yang sebagian dijadikan objek penyebaran Islam takfiri (pengkafiran), yakni keislaman dengan budaya mengkafirkan orang yang tidak sependapat. Tradisi-tradisi keislaman yang telah ada sejak lama, seperti maulid nabi, shawalatan, memperingati Isra Mi’raj, dianggap oleh penganut Islam takfiri ini sebagai perbuatan bid’ah, budaya kafir dan harus ditinggalkan. Sehingga umat Islam menjadi kebingungan, bahkan dengan keislamannya sendiri.

Di tengah kebingungan tersebut, Abdul Somad dan Adi Hidayat muncul sebagai anti-tesis Islam takfiri. Ia dengan begitu terang menjelaskan segala tuduhan itu, berikut perbedaan pendapat dalam tradisi Islam. Kehadirannya ke ruang publik seperti setetes air di tengah padang ketika siang terik di bawah matahari. Umat yang tengah haus dan kepayahan, merasa lega dengan kehadirannya.

 

Standar Baru Dakwah Islam

Dari sekadar identifikasi kedua pendakwah itu dari ormas Islam, mereka sebagai fenomena dakwah Islam, ada hal yang jauh lebih menarik untuk diperbicangkan, yakni standar dunia dakwah. Kehadiran kedua ustad muda itu dalam dunia dakwah Islam telah membentuk standar baru dunia dakwah itu sendiri.

Paling tidak ada dua standar dakwah Islam yang menonjol belakangan ini yakni standar personal dan keilmuan. Standar personal yang dimaksud adalah soal kesederhanaan dan kepedulian. Selama ini, dunia dakwa Islam popular disebut sebagai dunia dengan limpahan harta, gaya hidup glamor dan kemewahan. Sehingga para pelaku dakwah popular lebih sering dilihat sebagai selebritis dari pada tokoh agama.

Di samping menjalani profesi sebagai penceramah mereka juga melakoni hidup sebagai model pakaian dan bintang iklan produk. Hal itu tampaknya tidak berlaku pada Ustad Abdul Somad (UAS) dan Ustad Adi Hidayat (UAH). Semoga, begitu untuk masa selanjutnya! Ia terkenal karena perjalanan dakwahnya hingga pelosok desa dan kepeduliannya terhadap pendidikan, kemiskinan dan Islam politik.

Selain standar personal, baik UAS maupu UAH menjadi standar baru sebagai pendakwah dalam hal keilmuan. Ketika masyarakat gaduh karena materi dakwah, perhatian semua pihak tertuju pada kompetensi pelaku dakwah. Hingga muncul pendapat agar penceramah yang tampil ke publik harus lulus sertifikasi.

Sertifikasi dai ini diharapkan untuk menjaring penceramah yang mempunyai kualifikasi ilmu agama yang memadai dan memahami perbedaan pendapat dalam Islam, ketauladanan dan mencintai keragaman budaya dan tradisi. Sehingga materi agama tidak menjadi sumber kegaduhan akibat kekurangan wawasan keislaman, wawasan perbedaan pendapat dan keragaman tradisi dari penceramah sendiri.

Hampir semua kualifikasi yang diharapkan, itu ada pada UAS maupun UAH. Ia dengan sangat dalam memahami perbedaan pendapat dan membawa moderasi Islam Indonesia kembali ke jalannya. Ia tidak terlalu kaku dalam bermazhab dan juga tidak membawa penafsiran agama sesuka hati tanpa mempertimbangkan sebab musabab munculnya teks agama tersebut. Hal inilah yang membuat UAS dan UAH menjadi perhatian umat dan ulama. Ia mengurai banyak perbedaan pendapat dalam tradisi hukum Islam tanpa memandang asal muasal organisasi, perbedaan teologi dan fikih.

Sebagai pendakwah, UAS dan UAH mempunyai kompetensi dalam kajian keislaman dan multidisiplin. Ia menguasai tradisi hukum Islam, teologi, ushul fikih dengan baik, dan hukum Islam kontemporer. Umat mulai tercerahkan. Mereka tidak sekadar mampu menguasai retorika bicara dan orasi, tapi juga sarat dengan wawasan, keilmuan dan dorongan untuk saling menghargai. Untuk masa akan datang, agaknya pendakwah akan bercermin diri sebelum ujuk-ujuk menepuk dada sebagai pendakwah apalagi ustad.

Kita tentu saja berharap agar keduanya senantiasa saling bergandeng tangan dalam mengayomi umat. Ketika mereka UAS yang bernaung di bawah ormas Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan UAH dari Muhammadiyah, seiring dan sejalan dalam berdakwah, maka umat akan saling menjaga kedamaian dan berpikir persoalan yang lebih besar untuk kemajuan bangsa Indonesia.Wallahu A’lam.

Pengamat; Partai Islam Tidak Memperjuangkan Umat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *