Abdullah Ahmad; Ulama Progresif (Bagian satu)

Kolom

Oleh Budi Johan

Abdullah Ahmad dikenal sebagai seorang reformis yang cerdas. Ia juga salah satu tokoh pembaharu yang berasal dari Minangkabau, tepatnya Padang Panjang, Sumatera Barat.

Abdullah Ahmad lahir tahun 1878 dari keluarga saudagar yang sederhana. Pendidikan agamanya sejak kecil diperoleh dari ayahnya. Walaupun Ia dibesarkan dari keluarga religius, tetapi Ia punya kencenderungan untuk mempelajari pelbagai ilmu pengetahuan.

Awalnya Ia menuntut ilmu ke Makkah belajar agama dengan Syech Ahmad Khatib al-Minangkabawi, seorang imam besar Masjidil Haram dan dilanjutkan ke Universitas al-Azhar.

Di al-Azhar ia gemar mempelajari pemikiran Islam yang ketika itu sedang gencar terhadap pembaharuan yang dipelopori oleh Muhammad Abduh dan Jalaludin al-Afagani. Sementara dalam aspek gerakan Islam Abdullah Ahmad dipengaruhi oleh Ulama besar Minangkabau yang bermukim di Singapura yaitu Syekh Taher Djalaluddin (tentang Thahir Jalaluddin baca Mafri Amir, Reformasi Islam Dunia Melayu, Kemenag, 2008 ).

Ketika itu, Syekh Taher Jalaluddin mendirikan majalah Al-Imam untuk mentransformasi pemikirannya. Ia juga mendirikan sekolah Al-Iqbal al-Islamiyah di Singapura bersama Raja Ali Haji bin Ahmad pada tahun 1908.

Setelah selesai belajar di Timur Tengah, Abdullah Ahmad kemudian mengembangkan ilmunya di tanah kelahirannya di Padang Panjang dengan mengajar di madrasah dekat tempat tinggalnya. Ia bersama Haji Rasul di kemudian hari mendirikan madrasah Jembatan Besi yang kemudian berubah menjadi Madrasah Thawalib di Padang Panjang.

Metode pendidikan yang dikembangkannya Madrasah Jembatan Besi ketika itu cukup modern dan dilengkapi dengan sarana pendidikan mapan pada masanya seperti papan tulis, kapur tulis, meja kursi dan beberapa sarana pendidikan lainnya meski dengan dana serta jumlah murid terbatas.

Thawalib yang didirikan oleh Abdullah Ahmad bersama Abdul Karim Amarullah (Inyiak Rasul) di Padang Panjang telah membawa semangat pembaharuan dalam pemikiran Islam Indonesia, dan berlanjut pada berdirinya Persatuan Muslimin Indonesia (Permi).

Permi ini merupakan organisasi yang pertama di Minangkabau yang bergerak di bidang politik dengan tujuan memperjuangkan kemerdekaan Negara Indonesia.

Upaya Abdullah Ahmad Mencerdaskan Anak Bangsa

Meskipun Permi didirikannya, Menurut Deliar Noer, Abdullah Ahmad tidak tertarik pada dunia politik. Ia lebih tetarik dengan dunia pendidikan, baik pendidikan Formal maupun non-formal dan ingin mendirikan pendidikan yang sistematis seperti sekolah yang didirikan oleh kolonial Belanda. Sebab tidak semua anak bangsa mendapat kesempatan masuk sekolah-sekolah pemerintah (ketika itu Belanda).

Hal inilah yang mendorong Abdullah Ahmad membuka sekolah Thawalib di Padang Panjang dan Adabiyah di Padang. Mahmud Yunus sebagaimana dikutip Deliar Noer, mengatakan bahwa sekolah Adabiyah di Padang adalah madrasah (sekolah agama) pertama di Minangkabau bahkan di seluruh Indonesia. (baca; Deliar Noer; Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, 1988).

Selain itu, Abdullah Ahmad bersama beberapa orang pedagang juga mendirikan sebuah organisasi yang dinamakan Syarikat Usaha di Padang. Dari organisasi ini, Syarikat Usaha merintis berdirinya Adabiyah School (1909-1914) yang menerapkan sistem pendidikan Islam modernis.

Pada tanggal 23 Agustus 1915 Yayasan Syarikat Oesaha Adabiah di beri status berbadan Hukum oleh Pemerintah kolonial Belanda dan sebelumnya Diniyah Adabiah telah diubah menjadi HIS Adabiah. Pada tanggal ini di tetapkan sebagai hari jadi Adabiah.

Sekolah Adabiah menurut penelitian Mahmud Yunus sebagaimana dikutip kembali oleh Hasril Caniago bahwa, sekolah Adabiyah merupakan Madrasah pertama di Minangkabau bahkan di Indonesia yang memiliki sistem pendidikan umumdengan memasukkan pelajaran agama Islam dan Al Qur’an sebagai mata pelajaran wajib dalam sistim atau kurikulumnya.

Inilah yang membedakannya dengan HIS yang didirikan pemerintah Belanda. Disinilah sebenarnya keunggulan kepeloporan DR.Abdullah Ahmad sebagai Perintis Pendidikan Modern Berbasis Islam di Nusantara.

Seiring dengan berjalannya waktu, sekolah Adabiah banyak melahirkan kader yang menjadi tokoh Indonesia. Diantaranya Mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir, mantan Presiden Republik Indonesia di masa RIS Mr. Assaat, Harun Zain, Awaloedin Djamin, Azwar Anas dan Zairin Kasim (Politisi Senior dan Pengusaha asal Sumbar) adalah beberapa di antara tokoh nasional lulusan sekolah yang didirikan Abdullah Ahmad.

Abdullah Ahmad kemudian hari juga mendirikan Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) pada tahun 1918. Pendirian organisasi ini, yang mendapat sokongan dari seluruh ulama, baik dari golongan muda maupun dari golongan tua.

Di antara mereka yang ikut mendirikan PGAI itu seperti yang tercantum dalam Anggaran Dasarnya tahun 1921 terdapat ulama besar Sumatera Barat seperti Syekh M. Jamil Jambek dari Bukittinggi, Zainuddin Labai AI-Yunusi dari Padang Panjang, H. Abdul Karim Amarullah dari Padang Panjang, Haji Sutan lbrahim Musa Parabek dari Bukittinggi, Haji Abdul Rusydi dari Maninjau, dan lain-lain yang semuanya berjumlah 15 orang.

Organisasi ini yang bertujuan untuk mempersatukan ulama tradisional dan ulama modernis dan menjaga martabat, memperbaiki nasib, dan memberikan pertolongan kepada guru agama Islam, memajukan dan memperbaiki pengajaran agama Islam, mendirikan sekolah Islam, mengusahakan kebebasan dalam pengembangan agama Islam dan lain-lain sebagainya.

Pada tahun 1929 PGAI sudah membeli tanah seluas 5,5 Ha. di Jati, Padang dan tahun berikutnya membangun Sekolah Normal Islam lengkap dengan asrama dan sebuah gedung untuk memelihara anak yatim. Pada tanggal 1 April 1931 diresmikanlah pembukaan Sekolah Normal Islam yang dalam bahasa Arabnya disebut Kulliatal Mu’allimin Islamiyah.

Normal Islam merupakan sekolah lanjutan tingkat atas, dan murid yang diterima berasal dari sekolah Sumatera Thawalib, Diniyah, Tarbiyah, dan lain-lain sekolah Islam yang setingkat.

Karena perjuangan yang begitu keras, dan kebiasaannya menulis hingga larut malam, Abdullah Ahmad disinggahi penyakit yang memaksanya untuk berobat ke Pulau Jawa.Abdullah Ahmad meninggalduniapadahari Sabtu 25 November 1933. (bersambung)

(Penulis adalah Direktur Utama Simak.co.id dan kandidat Doktor Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *