Belajar Pada Pilkada Sumbar

Opini

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Ketika isu agama mencuat dalam pilkada DKI Jakarta, mengingatkan saya pada pilkada di Sumatera Barat. Ketika itu, muncul isu pembangunan rumah sakit Siloam yang dianggap sebagai upaya kristenisasi.

Tanpa menunggu waktu lama, masyarakat Sumbar langsung buncah dan mengutuk investasi itu. Sebagian besar meminta dihentikan. Sampai sekarang kabar itu tak terdengar lagi.

Salah seorang calon ketika itu, bahka menandatangani kesepakatan untuk menghentikan pembangunan Siloam. Kabar terakhir yang saya tahu, sejak pejabat itu dilantik, Siloam tidak pernah dibicarakan dan hilang dari pemberitaan.

Selain isu Siloam, juga muncul bahwa gerakan kristenisasi diberbagai daerah Sumabar. Lalu dibukalah cerita lama soal adanya orang Minang yang menjadi kristen dan menggunakan nama-nama dengan simbol ke-Minangkabau-an.

Singkat cerita pilkada selesai, sang calon sukses memenangi pilkada karena memenuhi tuntutan masyarakat ketika itu, yaitu fakta integritas untuk menghentikan pembangunan Siloam jika terpilih. Selama proses kampanye, isu agama dan kristenisasi terus digoreng oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk membangkitkan emosi masyarakat.

Hal yang menarik ketika itu adalah setiap orang terlibat dalam pembicaraan dan penolakan pembangunann RS Siloam, mulai dari Ulama, Tokoh Adat, cerdik pandai dan akademisi lintas derah dan provinsi. Persis seperti yang terjadi hari ini di jakarta. Beberapa orang yang ikut sebagai ‘dalang’ penggerak massa ketika itu, di kemudian hari diketahui sebagai simpatisan salah satu partai.

Kini giliran DKI Jakarta mengenyam hal serupa. Menjelang pemilihan Gubernur, Isu agama terus diserbar sehingga ramai diperbincangkan. Isu penistaan terhadap al-Qur’an, telah membuat masyarakat menanam benci, tanpa terkecuali. Ulama, Akademisi dan orang biasa dibuat sibuk oleh mengaji al-maidah;51 ini. Bahkan pengaruhnya sampai ke luar daerah jakarta, seperti aceh, makasar dan lain-lain.

Pertanyaannya adalah, apakah isu ini saling terkait dengan pemilihan Gubernur? Dan apa pula korelasinya antara pemenangan pilkada Sumbar dan Kota Padang dengan Pilkada Jakarta? Apakah satu sama lain memang dimanfaatkan sebagai strategi politik?

Hal itu mungkin saja terjadi dan mungkin juga kebetulan belaka. Tapi saya meyakini -setelah melihat pada pengalaman pilkada di Sumbar- bahwa untuk dua kalinya pilkada diikuti oleh partai dengan formasi yang sama, maka isu penistaan al-Qur’an adalah murni politik. Atau paling tidak telah dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan politik. Sebab satu hal yang pasti, isu agama sebagai bentuk penolakan pada calon lain.

Umat harus memahami bahwa permasalahan Ahok yang berkata “dibohongi pakai al-Maidah;51” adalah persoalan ikut campur Ahok terhadap tafsir ayat suci penganut agama lain. Kalaupun dipaksakan sebagai masalah penghinaan, penghinaan itu bukan pada al-Qur’an tapi pada pada tafsir dan penafsir. Membela tafsir dan penafsir bukan perkara aqidah seperti yang diteriakan pada umat.

Atas dasar itu, saya sepenuhnya tidak percaya bahwa isu ini akan meredam, (kecuali Ahok kalah dalam pemilihan gubernur DKI). Bila kepolisian tidak cepat tanggap dengan aspirasi masyarakat yang menginginkan Ahok diperiksa secara hukum, isu ini justru semakin menggelinding dan akan merebak ke mana-mana. Terlebih bila nanti Ahok unggul dalam pemilihan.

Mungkin saja pemilihan kepala daerah lain setelah ini atau bahkan pemilihan presiden nanti juga akan diwarnai dengan isu keagamaan. Karena dianggap sebagai strategi paling jitu membakar amarah umat sembari mendulang suara. Ada pepatah yang mengatakan, bahwa prilaku terburuk adalah menangguk di air keruh.

Dalam situasi yang riuh itu, calon berkepentingan meraup suara untuk merebut kuasa. Barangkali inilah cara paling kotor umat Islam dalam sejarah perpolitikan Indonesia.

Demi kekuasaan, agama ditunggangi. Atas nama Tuhan orang lain dihujat dan dihina kemanusiaannya. Sikap yang sulit dicari sandaranya dalam dua tuntunan pokok dalam agama.

Dua peristiwa politik Sumbar sebelumnya dan Jakarta saat ini, akan mengubah sikap umat beragama. Bukan tak mungkin untuk masa-masa yang akan datang, umat akan bertakbir sembari membunuh orang lain.

Kiranya pengalaman di Sumatera Barat sudah cukup dijadikan sebagai pelajaran. Umat mesti berpikir jernih dan cerdas. Supaya memilih dan memilah antara kepentingan agama dan politik, membela agama atau menistakan orang lain. Sebab cara seperti ini tentu saja akan mengancam kehidupan bangsa yang beragam.

Akhirnya, keriuhan soal Ahok menistakan al-Qur’an mesti diakhiri. Memanas-manasi umat bukanlah cara Islam dalam beragama. Apalagi hal itu akan membuat umat menjadi beringas dan brutal.

sumber gambar: antaranews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *