Dari Koalisi, Oleh Rakyat dan Untuk Keluarga

Opini

Opini muhammad Yusuf el-Badri

Hal yang paling mengejutkan dalam pencalonan Gubernur DKI kali ini adalah munculnya nama Agus Yudhoyono sebagai calon yang didukung oleh koalisi kekeluargaan yang terdiri dari PAN, PPP dan Demokrat. Orang bilang koalisi keluarga banget. Nampaknya di sini hubungan perbesanan diperlulan dalam politik, khususnya perbesanan Demokrat dengan PAN. Sehingga negara bisa diatru bak keluarga sendiri.

Kesan pertama muncul dalam benak masyarakat adalah bahwa partai koalisi kekeluargaan hanya mengikuti egois kepartaian dan keluarganya. Partai bukan wadah untuk penyampai aspirasi masyarakat, tapi untuk memenuhi hasrat kuasa keluarga. Sehinga wajar bila proses pencalonan Gubernur dilakukan tanpa memperdulikan, mendengarkan dan mempertimbangkan suara rakyat sebagai pemilih sekaligus pemilik suara sah dalam pemilihan nanti.

Tuduhan itu bukan tanpa alasan. Alasannya sangat sederhana, yaitu nama yang diusung tidak pernah terbayang (untuk tidak menyebut tidak diinginkan) sejak awal oleh masyarakat dan tidak mereka kenali dengan baik, baik rekam jejaknya maupun kiprahnya dalam berpolitik.

Di antara nama yang diinginkan masyarakat Jakarta adalah Ahok, Yusril, Anis, Emil dan Risma (untuk menyebut beberapa nama saja). Ahok suda mendapatkan tiket melalui dukungan partai neo-Orde Baru yaitu Nasdem, Hanura dan Golkar. Pada menit terakhir PDI juga menyatakan mendukung Ahok. Sedangkan dua nama terakhir (Emil dan Risma) telah menyatakan bahwa mereka tidak ikut ambil bagian dalam pilkada DKI 2017. Sisanya adalah Yusril dan Anis.

Alih-alih koalisi kekeluargaan tadi, mendukung salah satu yang diharapkan masyararakat selama ini –khususnya nama yang menyatakan maju dalam Pilkada DKI-, partai koalisi justru menyorongkan putra mahkota cikeas, Agus Yudhoyono. Penonton akhirnya kecewa, sebab nama Yusril atau Anis tidak muncul sebagai calon Gubernur DKI. Namun setelah pengumuman calon yang diusung koalisi kekeluargaan, ternyata tidak ada partai Gerindra dan PKS yang juga ikut mengusung.

Masyarakat bertanya-tanya, lalu siapa yang akan di usung oleh partai Gerindra dan PKS. Beberapa jam sebelum ada pengumuman calon versi koalisi kekeluargaan, beredar kabar bahwa PKS keluar dari koalisi kekeluargaan dan calon yang diusung oleh Partai Gerindra juga tidak masuk dalam hitungan.

Keluarnya Partai Gerindra dan PKS menjadi harapan baru masyarakat agar kedua partai ini, mendengarkan suara mereka, yaitu mengusung Anis atau Yusril. Namun setelah sebelumnya Yusril menyatakan permintaan maaf, hanya satu nama yang tersisa yang diharapkan masyarakat sebagai calon Gubernur yaitu Anis Baswedan. Harapan ini diwujudkan oleh Partai Gerindra dan PKS.

Andai saja, Gerindra dan PKS juga berlaku egois seperti partai koalisi sangat mungkin nama Anis juga tidak akan masuk dalam daftar yang diusung. Sebab sebelumnya juga beredar nama calon dari kedua partai bahwa yang akan mereka calonkan adalah kader masing-masing, yang notabene dianggap kurang kompeten.

Andai pula Gerindra hanya mengedepankan ambisius kuasanya, mungkin Gerindra akan bertahan supaya Uno dari Gerindra mesti sebagai calon Gubernur bukan wakil. Begitu pula andai PKS tidak memperhitungkan suara masyarakat ia tidak akan mengusung Anies.

Khusus pada proses pencalonan Anies dan Uno, ada apresiasi yang harus diberikan pada kedua partai ini, yaitu tidak adanya egoisme partai dalam penentuan calon dan suara masyarakat menjadi hal yang dipertimbangkan.  Meskipun dibalik itu semua adalah keinginan untuk berkuasa sebagai sesuatu yang tidak dapat dinafikan dalam politik.

Meskipun kedua partai itu punya wewenang untuk menentukan siapa yang akan mereka usung dalam Pilkada DKI 2017, tapi suara masyarakat mengalahkan hasrat kuasa sesaat. Inilah yang membedakan kedua partai ini dalam proses Pilkada DKI kali ini dengan yang partai lainnya, terutama dengan partai yang berada di koalisi kekeluargaan.

Ambisi Keluarga Cikeas

Dalam koalisi kekeluargaan, hasrat kuasa lebih dominan dari suara masyarakat. Tidak hany itu, ambisi keluarga -sebagaimana namanya, koalisi kekeluargaan- untuk berkuasa lebih dominan dari pada suara masyarakat. Padahal kita tahu proses demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Tapi koalisi keluarga ingin mengubah menjadi “dari rakyat, oleh rakyat karena terpaksa dan untuk keluarga”.

Kenapa dari rakyat dan oleh rakyat karena terpaksa? Karena partai ini sadar bahwa dukungan masyarakat terhadap Ahok tidaklah all out. Bila hanya ada dua calon, yaitu Ahok dan Agus Ydhoyono, maka pemilih yang tidak suka dengan Ahok akan dengan terpaksa memilih Agus.

Barangkali ini yang dimaksud oleh Marzuki Ali bahwa SBY sangat pintar melakukan kapitalisasi kelemahan lawan politiknya. Keterpaksaan masyarakat untuk memilih inilah nantinya yang diharapkan oleh SBY untuk memenangkan Agus Yudhoyono.

Sayangnya, kali ini strategi Koalisi Keluarga di bawah arahan SBY harus berhadapan dengan Anies dan Uno. Anies adalah satu dari banyak nama yang juga termasuk diharapkan masyarakat untuk mencalon sebagai Gubernur, dan kini Ia diusung oleh Partai Gerindra dan PKS.

Tentu saja, Agus dengan segala kebesaran nama SBY dan partai Demokrat sudah mengukur bayang-bayangnya, bahwa ia tidak akan sanggup menjadi Gubernur DKI, kecuali Gubernur boneka. Sebab Agus belum punya pengalaman sama sekali dalam hal politik dan birokrasi. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *