Etika Bersosial (Melalui) Media

Islam Opini Slide Atas

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekelompok kaum (laki-laki) mengolok-olok kelompok lain, boleh jadi yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka yang diolok-olok. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (QS.49;11) Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 49;12)

Ujaran kebencian dan kasar, begitu mudah disampaikan oleh banyak pengguna media sosial baik langsung maupun tidak langsung pada orang lain. Terhadap orang lain, yang tidak dikenal secara baik (sebatas pertemanan) di media sosial itu, beragam tuduhan (seolah) lumrah dan boleh saja dialamatkan menurut kehendak hati. Apalagi terkait dengan perbedaan pendapat dan pandangan agama dan politik.

Memang kehadiran media sosial telah membuat masyarakat menjadi komunitas yang egaliter sekaligus meruntuhkan segala sekat norma, sehingga tidak ada perbedaan antara orang berpendidikan dan tidak berpendidikan, tidak ada batas antara tua dan muda, semuanya sama dalam media sosial, tetapi tetap harus ada etika komunikasi sebagai bangsa yang beragama dan beradab.

Pengguna media sosial, paling tidak, mesti berprasangka baik terhadap orang lain di media terlebih pada mereka yang tidak dikenal dengan baik, supaya tidak mudah melontarkan tuduhan pada mereka. Terlebih lagi pada sesama muslim. Berprasangka dan mencari-cari kesalahan, baik terhadap orang yang dikenal, pun terhadap orang yang tidak dikenal dengan baik merupakan larangan bagi orang yang beragama dalam bersosial.

Bila berprasangka dan mencari-cari kesalahan terhadap orang lain adalah sebuah larangan, apatah lagi tuduhan yang mengada-ada dan ngawur. Tetapi begitulah kenyataan media sosial hari ini yang kita temui. Alih-alih jauh dari prasangka, masyarakat pengguna media sosial justru dekat dengan dengan tuduhan dan fitnahan tanpa dasar.

Kita sulit menemukan adanya implementasi dari nilai agama dari banyak pengguna media sosial hari ini. Terlebih berkaitan dengan masalah Islam politik dan perbedaan (khilafiyah) dalam agama, hampir-hampir kita tidak menemukan bahasa pengguna media sosial itu sebagai representasi dari orang beragama. Bahasa yang kasar, ujaran kebencian, tuduhan munafik, panggilan si bodoh, jongos bahkan sebutan kafir terhadap sesama umat Islam sudah menjadi kebiasaan umat beragama di media sosial.

Apakah media sosial harus dilihat sebagai dunia maya yang tidak merepresentasikan realitas sosial penggunanya? Dan setiap ujaran yang disampaikan penggunanya harus dianggap sebagai sesuatu yang maya dan tak nyata alias khayali sehingga tidak perlu dipermasalahkan? Atau memang masyarakat kita tengah berjalan di kegelapan peradaban modern dan canggih? Atau kita tengah sepakat untuk membangun masyarakat sekular yang dimulai dari media sosial?

Melihat pada kasus perkembangan sosial politik hari ini, media sosial bukanlah dunia yang bersifat khayali. Hal itu dapat dibuktikan dengan kemengan Trump di Amerika dan gerakan Islam politik ibukota Jakarta. Demikian pula halnya para pengguna media sosial dapat dihukum karena tindakannya yang menyimpang dari koridor hukum.

Dini berarti bahwa, ujaran pengguna media sosial merupakan representasi dari kenyatan sosial dan nyata adanya sehingga dapat diklarifikasi. Dengan demikian, ujaran berupa kebencian, kekasaran, dan tuduhan di media sosial adalah masalah yang serius yang harus segera dicarikan solusinya baik oleh agama, budaya maupun negara.

Dalam agama sendiri paling tidak, diajarkan bagaimana hidup bersosial dengan orang lain antara lain dengan tidak mengolok-olok orang lain, menyebut orang lain dengan panggilan yang buruk, menjauhi prasangka mencari-cari kesalahan orang lain, sebagaimana disebutkan oleh QS. Alhujurat;11-12.

 

Hal ini mestinya juga diterapkan dalam berkomunikasi di media sosial, di mana mengolok-olok orang lain dengan cara membuat meme, menyebut orang dengan panggilan yang buruk seperti jongos, pandir, munafik, fasik dan kafir, bahkan tuduhan tak beralasan sudah menjadi kebiasaan seperti para pengguna  media sosial. Meski media sosial adalah dunia maya dan tak nyata, tapi merupakan perwakilan dari suara penggunanya yang nyata dan bisa dipertanggungjawabkan.

Demikan pula halnya dengan etika berbicara yang diajarkan oleh Nabi saw, katakanlah yang baik-baik atau diam saja. Selain berkata dengan baik, dalam bermedia sosial hadis tersebut juga dapat dipahami, sebagai anjuran untuk mengkritik dengan cara yang baik, membagikan berita yang baik dan bermanfaat atau lebih baik diam dengan tidak membagikan berita yang provokatif dan bohong.

Mengingat belakangan ini, kesadaran pengguna media sosial akan kondisi sosial, agama dan politik begitu meningkat, yang ditandai dengan sikap kritis terhadap hal yang berkaitan dengannya maka, pemahaman terhadap hadis nabi di atas dapat diperluas. Yakni, lakukanlah kritik sosial, agama dan politik dengan cara yang baik. Bagikanlah berita yang benar dan bermanfaat.

Kritik yang baik dalam media sosial adalah kritik yang dilakukan terhadap ide, gagasan, tindakan dan situasi, bukan personal penggunanya. Demikian halnya dengan berita yang bohong, kritik mesti dialamatkan pada tindakan dan beritanya bukan pemilik media maupun pembuat/pembawa beritanya.

Kalau pengguna media sosial yang maya tapi nyata itu, tidak dapat mengkiritik ide, gagasan, tindakan orang lain dan situasinya -baik sifatnya sosial, agama maupun politik- dengan cara yang baik maka, etika yang harus dikedepankan adalah sikap diam atau menahan diri. Karena diam atau menahan diri itu lebih baik. Sebab hanya dengan diam (menahan diri) itulah, pengguna media sosial dapat terhindar dari melontarkan ujaran yang kasar, ujaran kebencian, tuduhan tak beralasan  pada orang lain dan memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *