Fenomena berpolitik Urang Awak

Headline Slide Atas

Opini Mursal Tanjung

Hingar-bingar pencalonan bakal calon gubenur DKI Jakarta banyak menyita perhatian masyarakat Indonesia sejak awal Ahok menyatakan untuk maju sebagai calon Gubernur. Mulai dari kelompok hingga kedai kopi, menjadikan topik calon Gubernur hangat untuk didiskusikan.

Hal ini mungkin disebabkan DKI Jakarta sebagaiI bu Kota Negara dan sebagai barometer pelaksanaan Pemilukada di Indonesia. Ditambah lagi sosok Basuki Cahaya Purnama (Ahok)  yang fenomenal. Di samping itu bermunculan nama besar yang juga tertarik untuk menjadi DKI 1, sebut saja Yusril Ihza Mahendra, Rizal Ramli dll.

Meski calon Gubernur sudah hampir mengerucut dan calon Gubernur sudah dideklarasikan, namun ada remah-remah politik di DKI yang kiranya penting dipeljari, yaitu fenomena politik urang Awak.

Jakarta yang multi etnis dan sangat heterogen menyebabkan bakal calon gubenur harus mampu membawakan diri dan merangkul komponen-komponen itu, bahkan untuk menjadi bakal calon wakil pun mempertimbangkan dari etnis-etnis yang ada. Tidak terkecuali atnis Minangkabau.

Pada saat yang sama, orang Minang tidak mau ketingggalan untuk ikut ambil bagian dalam Pemilu kada DKI itu (bahkan mungkin satu-satu yang menyatakan terang-terangan atas nama etnis selain Betawi, penduduk asli Jakarta).

Dalam berbagai  forum muncul nama-nama orang Minang yang akan dicalonkan untuk maju di DKI, bahkan ada sebuah paguyuban yang terang-terangan membuka seleksi untuk bakal calon gubenur danwakil gubenur.

Hal ini mungkin dalam rangka ’mengamalkan’ falsafah adat Minangkabau yang  berbunyi di ma bumi dipijak, di sinan langik di junjuang, di ma rantiang dipatah, di sinan aia disauak atau paling tidak sato sakaki sebagai perwujudan kepdulian terhadap Negara terutama DKI Jakarta.

Namun yang manarik untuk dicermati ketika awal Yusril berniat untuk maju di DKI, sebahagian orang Minang merapatkan barisan dan hebatnya lagi sebagin mengatasnamaka nsemua orang Minang di rantau (DKI). Yusril diajak ke forum-forum paguyuban orang Minang dengan memakaikan pakaian kebesarannya (Datuk), dan gelar Datuknya dipopulerkan kembali kepada masyarakat dengan tujuan mendapatkan dukungan.

Kelompok ini mungkin sedikit mempunyai landasan pikiran atau idiologi Islam. Karena Yusril dikenal sebagai anak idiologis Natsir, tokoh Nasional yang berasal dari Minangkabau yang konssisten dengan politik Islamnya. Seiring dengan berjalannya waktu, dukungan terhadap Yusril mulai meredup. Sebab sampai saat ini belum ada partai politik yang dengan resmi menyatakan mencalonkan Yusril Ihza Mahendra sebagai calon Gubernur DKI.

Kemudian ketika partai Gerindra menggadang-gadangkan Sandiaga S Uno untuk DKI 1, orang awak (baca; orang Minang) pun menyatakan dukungan. Sandiaga juga dibawa kepertemuan-pertemuan Minang –di gedungatau di restoran-, kepasar-pasar tradisional yang nota benenya banyak orang Minang. pendek kata setiap ada perkumpulan Minang, Sandiaga dibawa kesana untukdiperkenalkan dan dinyatakan didukungan oleh masyarakat Minang.

Terakhir, ketika Rizal Ramli juga diberitakan untuk DKI 1. Lagi-lagi kelompok urang awak menyatakan dukungan. Rizal Ramli dibawa ke perkumpulan masyarakat Minang di rantau (Jakarta) bahkan dibuat grup-grup di media sosial yang mengkampanyekan Rizal Ramli dan sebagai posko gerakan mereka namai SurauUda Rizal.

Semua kelompok ini mengatasnamakan perantau Minang yang ada di DKI, memakai simbol-simbol Minangkabau dan pendekatan ala Minangkabau, dan lebih lucunya lagi orang-orang yang tergabung sebagai pendukungYusril, masuk juga dalam kelompok Sandiaga dan ikut dengan Uda Rizal.Begitu bersemangatnya orang Minang untuk ambil bagian di Pemilukada DKI Jakarta.

Pertanyaannya adalah apa yang sedang terjadi dengan orang Minang sebenarnya? Bukankah falsafah adat Minang mengajarkan persatuan; Saciok bak ayam, sadan ciang bak basi, pai satampuah, pulang sabondong dan ciri masyarakat Minang itu adalah Saiyo-sakato, sahino-samalu, anggo-tanggo, sapikua-sajinjiang. Dan banyak lagi ajaran hidup adat Minangkabau yang mengajarkan bagaimana hidup bermasyarakat dan berpolitik.

Mengamati hal ini paling tidak ada tiga sudut pandang yang bisa dikembangkan. Pertama, orang Minangkabau berperilaku ondong aia ondong dadak. Ondong aia ondong dadak ini adalah orang yang tidak mempunyai pendirian apalagi idiologi. Geraknya tergantung pada arah angin. Ke mana angin yang kencang ke sana mereka menuju. Yang penting ikut, titik.

Kedua, Masyarakat Minangakabau tengah dilanda pragmatisme dan individualis. Kelompok ini juga tidak mempunyai idiologi yang jelas. Mereka  hanya memikirkan keuntungan belaka. Ketika ada peluang maka mereka ikut ambil bagian. Kelompok ini tidak lagi memperdulikan falsafah hidup dan ajaran adat. Prinsip yang mereka pegangi adalah bia tanduak baluluak asa kan tetap bisa makan, sangat pragmatis.

Ketiga, kelompok yang memilih diam. Ditelusuri lebih jauh kelompok ketiga ini dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah orang-orang yang masa bodoh dengan keadaan dan tidak memperdulikan perubahan, siapapun yang akan jadi pemimpin DKI tidak terlalu penting bagi mereka, yang penting usaha dan pekerjaannya tidak terganggu. Bagian kedua orang-orang yang masih mempunyai idiologi dan memegang falsafah adat yang tahu persis kapan merekaakan mengeluarkan pendapat dan pandangannya.

Dilihat dari perjalanan sejarah pemikiran dan perpolitikan di Minangkabau, maka berpolitik bukanlah hal yang baru bagi orang awak. Sejak dari berkembangnya suku Minangkabau, pendirian Negara Indonesia hingga kepada membentuk partai baru, adalah sesuatu yang biasa.

Namun hal itu dilakukan dengan idiologi yang jelas yaitu demokratis, egaliter dan berkeadilan. Banyak sekali pepatah adat yang mengajarkan hal itu, antara lain duduak saedaran, tagak sapambatang, duduak samo randah, tagak samo tinggi, atau bulek aia ka pambuluah, bulek kato ka mufakaik, elok dipakai jo etongan, buruak dibuang jo rundingan. Hal ini juga barangkali yang masih bertahan sampai hari ini tetapi mengenyampingkan diologi yang selama ini dipegang oleh orang Minang.

(Penulis adalah Pelaku Budaya Minangkabau Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *