Hoax Intelektual Abad 21; Maaf, Sekadar Menulis Pengalaman

Breaking News Editorial Opini Slide Atas

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Abad 21 yang ditandai dengan revolusi media, tidak hanya menuntut masyarakat berani bicara, tapi menuntut pemerintah dengan keterbukaan. Namun yang tak kalah pentingnya adalah menuntut intelektual untuk berlaku jujur.

Saat ini, keberanian berbicara tanpa kejujuran, telah menimpa dunia informasi dengan penyakit hoax. Informasi yang penuh hoax akan membentuk masyarakat yang provokatif dan mudah terhasut. Sedangkan memerintah dengan kebohongan akan membuat orang untuk terus mencitrakan diri.

Lalu apa yang akan terjadi pada intelektual yang penuh kebohongan? Intelektual itu akan ditimpa penyakit plagiasi, yaitu mengambil hak intelektual orang lain berupa ide dan gagasan menjadi seolah milik sendiri tanpa menyebut sumber dari mana ide itu lahir.

Untuk apa ini dilakukan? Tak lain juga untuk mencitrakan diri sebagai agar terkesan intelek, pemikir dan terpelajar. Bila ini terjadi pada non-sarjana dan non-praktisi orang akan memahaminya sebagai proses belajar atau mengonggokkannya pada kelompok awam.

Sebaliknya bila intelektual dan praktisi yang melakukannya, ini tidak lain dari tindakan hipokrit yang memalukan. Dan sarjana semacam itu, dapat diduga sebagai sebagai sarjana pengejar kertas tanda lulus, seperti sindiran Bung Hatta pada Mok, S.H Tentang Nama Indonesia, 1928.

Saya sendiri pernah menemukan hal ini berkali-kali. Kali pertama, ketika seorang sarjana menguguhkan buku baru yang diperoleh pada mahasiswa. Katanya “Ini ada buku bagus, tentang keislaman. Ia (saya buku) mengatakan begini, begitu, mempermasalahkan ini dan itu”, dengan gaya meyakinkan. “Kalian harus menfoto kopi buku ini”, sambungnya.

Alasan yang sama sebetulnya telah saya dengar lebih dahulu dari seorang orang lain yang juga menganjurkan memiliki buku itu. Sambil, saya memerhatikannya dan mengangguk-angguk. Ia semakin bersemangat menjelaskannya. “Bandar orang pula yang dibandarkannya” pikir saya waktu itu, karena kalimat yang disampaikannya persis sama dengan yang saya dengar sebelumnya, bahkan sebahagian intonasinya.

Di saat yang lain, ada pula sarjana menyuruh saya untuk segera membeli buku Api Islam, karya Nur Khalis Majid. Katanya dengan bangga, “Sebagai seorang aktivis kamu, harus punyai buku ini, banyak hal menarik yang disebutkan Cak Nur dalam buku ini.”

Karena ia tidak menyebut bagaimana menariknya buku itu, lantas saya bertanya; “Apa menariknya?”. Dengan nada agak keras, ia menjawab; “Makanya, saya menyuruh kamu membelinya dan baca. Nanti kita diskusikan.”  Ciee diskusi.

Melihat buku yang dipegangnya, saya minta izin meminjam sejenak dan membaca sedikit pengantar. “Oh, ini difotokopi di mana bang?” tanya saya -karena tulisan buku itu rada-rada kabur. “Kemarin saya minta dilebihkan untuk fotokopi buku ini pada si fulan, karena stok buku habis di toko”. Kalau bisa” lanjutnya, “kamu punya yang asli atau minimal fotokopi pula”. Saya lalu menganggukkan kepala.

 

Sejatinya orang ini demikian hebat, dengan waktu yang kurang dari setengah hari, ia bisa menyimpulkan betapa buku itu penting untuk dipelajari. Memang orang ini ini ruuuuar, decak saya waktu itu. Buku hasil fotokopian itu, baru saja dibagikan oleh teman saya, sesaat setelah mengembalikan buku saya -aslinya.

Kedua contoh di atas hanya sekadar contoh sederhana saja, sebagai bentuk gambara sebuah fenomena yang tengah melilit intelektual kita hari ini. Mungkin perguruan tinggi kita terlalu hebat bisa melahirkan sarjana dan praktisi pemikir tanpa ia perlu membaca.

Andai kejujuran intelektual tidak menjadi etika penting dan bagian dari kerja intelektual manusia sepanjang sejarah, saya sepenuhnya tidak yakin bahwa hadis akan mempunyai sanad yang begitu panjang dan murid-murid para pemikir tidak akan disebut sebagai orang yang berjasa mempublikasikan  karya gurunya.

Karena setiap orang akan dengan mudah mengklaim sebuah ide yang terdapat dalam pesan itu sebagai hasil pikiran dan gagasannya sendiri tanpa perlu menyebut sumber utama atau orang yang menjadi rujukan dari ide itu.

Demikian juga, kita tidak akan pernah mengenal nama banyak pemikir dunia seperti Aristoteles, Plato, Imam Syafii, Hambali, Ibn Taimiyah, Ibn Khaldun, Dilhtey, Hiedegger, dll, karena kebanyakan buku mereka itu, merupakan kuliah, khutbah dan ceramahnya yang kemudian diterbitkan oleh murid-muridnya.

Tetapi mereka, intelektual masa lalu adalah orang yang memegang kuat etika intelektualnya, jauh dari hipokrit, dan jujur dalam berpikir. Sesuatu yang akan sulit kita temui di abad 21 ini.

Semoga renungan kita semua dan khususnya penulis sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *