Ibu dan Takdir

Slide Atas

(analisis puisi karya Zelfeni Wimra)

Oleh Muhammad Yusuf el-Badri

Zelfeni Wimra satu di antara sastrawan produktif, puisi maupun cerpennya senantiasa bermuatan gagasan yang dekonstruktif. Karyanya ditulis dengan bahasa yang khas dan hampir semua ide yang tertuang dalam berlatar belakang keminangan.

Wimra, dalam banyak cerpennya sering menyebut dan membicarakan hal ihwal perempuan. Sebut saja misalnya, Pengantin Subuh yang bercerita tentang penantian seorang perempuan terhadap calon suaminya. Demikian pula dengan Yang Menunggu Dengan Payung. Dalam puisinya, wimra juga tak jarang menggunakan simbol yang erat kaitannya dengan perempuan.

Pembaca takkan pernah usai dan selesai dalam memahami dan memberi arti terhadap puisi dan cerpennya betapa dalam perasaannya terhadap perempuan. Jika tidak dikatakan sebagai seorang yang ‘pemuja’ perempuan, paling tidak gagasannya mengajak pembaca untuk menghargai kaum perempuan.

Namun tulisan ini tak akan mengurai tentang cerpen yang beragam itu. Sebab untuk mengungkap makna dua puisinya yang berjudul Mak Aku Mau Jadi Gunung dan Aku Jadi Sungai Saja, sudah cukup melelahkan. Kedua puisi itu, tampak sangat kait-berkait. Puisi pertama ditulis oleh Wimra di Payokumbuah pada tahun 1999 sedangkan puisi ke dua di Sungai Naniang Oktober 2000.

Ia mengawali puisinya dengan seruan seorang ibu terhadap anaknya.

jadilah gunung nak,

berlatih makan hati,

memendam gelegak lahar

dalam dada,

mengemas hamburan batu

mencicil jejak rindu para pendaki

atau cemburu pada edelweis nan wangi

Dari judul puisi itu mulai terlihat pentingnya peran seorang perempuan bagi Wimra. Titahnya didengar dan senantiasa menjadi petunjuk hidup. Ibu-lah yang sangat mengerti bagaimana seorang anak akan menjadi manusia kamil.

Untuk menjadi insan kamil memang tidak mudah. Bahkan sedapat-dapatnya ia harus bisa membunuh ‘dirinya’ sendiri, memakan hatinya sendiri. Membunuh ‘diri’ sendiri inilah yang disebut oleh Baginda Nabi, Muhammad sebagai perang besar. Sebelum manusia menang dengan perang besar ini, ia harus terlatih dengan perang kecil. Sekecil-kecilnya perang di antara perang besar itu adalah menahan hati.

Meski sebagai perempuan yang paling dihargai oleh setiap manusia, ibu hanya bisa mengendalikan sisi luar kemanusiaan dan hati adalah sisi lain yang merdeka. Ia akan berjalan dengan kodratnya sendiri sebagaimana matahari beredarnya bumi dan bulan pada orbitnya. Baginya, ibu tak sekedar tempat bernaung kasih sayang, tapi juga tempat mencurahkan perasaan dan mengadukan nasib.

aku jadi sungai saja, mak!

mengalir manis di pinggir ladang

melepas pasungan rindu pada wangi lumpur petani

anyir sampan nelayan

kecipak sayap angsa-angsa mandi

kincir-kincir pun berputar pasti

rusa dan singa singgah teguk aku tanpa ragu

Secara kasat mata, hampir-hampir Wimra memposisikan Ibu dalam karyanya seperti Tuhan bagi orang lain dalam kenyataan. Pada galibnya tempat mengadu, mengeluh dan meminta restu terakhir bagi seseorang adalah pada Tuhan. Jika bersumpah, maka bersumpah atas nama Tuhan adalah yang tertinggi. Hal itu tidak berlaku bagi Wimra, dan inilah yang seharusnya dilakukan oleh setiap manusia. Sehingga layaknya, pengaduan terakhir adalah pada Ibu dan bersumpah atas nama ibulah yang paling berarti.

Dengan kata lain, Wimra sedang memberikan pandangan bahwa keinginan manusia tidak perlu diadukan pada ‘sesuatu’ yang jauh, tapi cukup dengan memangil sang ibu dan meminta restunya. Dari segi agama, restu ibu adalah syarat untuk mendapatkan restu Tuhan. Meski ibu yang telah melahirkan manusia tak dapat menentukan dan menetapkan hasil akhir, tapi ibu adalah orang yang paling tahu dengan apa yang dilahirkannya. Namun demikian, setiap yang lahir mempunyai takdirnya sendiri sesuai dengan waktu dan situasi yang menerimanya. Ia menuliskan,

aku jadi sungai saja

mak! demi tiga lapis selaput tipis

pendinding  rahimmu  yang damai

kirmlah surat pada halilintar

suruh ia memecah mendung

aku akan membelah bumi

meredam luka-luka penghuninya

hanyutkan bunga-bunga perkabungan

bangkai-bangkai prahara

Selain ibu yang melahirkan secara biologis, Ibu lain yang juga telah membesarkan manusia adalah sejarahnya sendiri yang penuh dengan kesenangan dan penderitaan, persahabatan dan permusuhan. Nampaknya setiap orang bergelimang cerita dalam hidup, tak berarti akan memuarakannya pada kehidupan sesuai dengan ceritanya. Sebab soal hasil dari usaha manusia adalah cerita lain. Dalam hal ini Wimra, sadar atau tidak sedang membantah tesis materialisme historis. Hal itu sebagai mana banyak terjadi dalam kehidupan nyata dan dapat disaksikan sendiri. Betapa terkadang sarjana teknik menjadi guru, motivator, politis, penulis, pekerja bank bahkan juga pelawak. Demikian pula halnya tidak sedikit para sarjana ekonomi yang menjadi politisi, penyair, dan sarjana politik menjadi pengusaha, petani, guru,  dan seterusnya. Ini adalah contoh sederhana saja.

Apa yang diperoleh manusia dalam hidupnya menurut Wimra, tidak lebih dari sekedar takdir yang telah diidam atau ditakdir oleh Tuhan Yang Maha Kuasa pada sejak manusia lahir. Hanya saja, apa yang kadang diidamnya tak sepenuhnya disadari oleh manusia itu sendiri. Itulah sebabnya, tak sedikit orang beranggapan bahwa sejarah dan masa lalunya dapat menentukan takdir, seperti yang disebutkan oleh Wimra dalam puisinya,

Kirimlah surat pada halilintar

Suruh ia memecah mendung

Seseorang dalam hidupnya cenderung memaksakan sejarah hidupnya untuk menetapkan takdir. Pemaksaan ini dapat dipahami dari kata kirimlah dan suruh. Kedua kata ini adalah bentuk pemaksaan diri untuk menetapkan sesuatu agar apa yang diinginkannya dapat tercapai. Meskipun sejarah tetap berjalan sebagaimana ia ditetapkan. Sejarahlah ibu segala manusia, yang membesarkan, membentuk karakter dan membesarkannya. Sebagai ‘ibu’, sejarah tak mampu menentukan nasib. Ia hanya sebagai landasan hidup, usaha rasional, cita-cita dan harapan.

Sejarah sepenuhnya berada di bawah kendali dan perintah Tuhan. Satu-satunya cara untuk mewujudkan harapan itu adalah dengan pengetahuan. Pengetahuan itu pula membuat Tuhan memutus segala perkara. Mimpi pun segera diputus menjadi sebuah ketetapan (taqdir) Tuhan, Allah swt. Maha suci Allah yang mengatur dan menjaga agar alam berjalan di peredarannya dan sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan.

Wimra dalam hal ini, bukan tidak patuh pada logika rasional, bahwa segalanya ada ditentukan oleh pengetahuan. Bukan pula tak ingin atau tidak sanggup menjadi yang ideal. seperti yang ia sebut sebagai gunung. Idealnya gunung adalah sebagai simbol kekuatan, keperkasaan, ketinggian sekaligus keganasan. Idealnya menjadi orang besar adalah menahan amarah, memikirkan solusi persoalan hidup orang di sekitarnya dan berlomba-lomba mencari kehidupan sesaat. Namun kehidupan bukanlah sesuatu yang ideal sesuai dengan nalar dan pengetahuan. Anak-anak muda dalam bahasa yang sederhana menyebut hidup sebagai teka-teki. Sehingga semakin jelaslah bahwa ada hal yang tak mampu diungkap oleh pengetahuan, sejarah dan pengalaman yaitu apa yang sedang dirasakan, dibutuhkan dan dikandung oleh manusia.

Manusia yang sadar akan kebutuhan hidup sejati akan berkata; tapi aku mengidam laut, mak,”(payokumbuah, 1999). Laut sebagai muara segala usaha. Pernyataan ini sejalan dengan firman Tuhan, bahwa manusia diciptakan untuk mengabdi kepada-Nya. Kalimat senada dengan itu tidak akan lahir bila manusia menggunakan ukuran ideal pengetahuan, nalar dan rasional.

Lagi-lagi hidup, menurut Wimra sudah ditentukan oleh orang yang membuatnya mengidam. Ia tak lain adalah Allah swt, Tuhan Yang Maha Penyayang. Di sini baru dapat disimpulkan bahwa betapa pun seorang harus patuh dan taat pada sejarah yang melahirkan dan membesarkannya, namun ada Tuhan yang telah menggariskan hidupnya menjadi apa. Hanya ikhtiar atau usaha yang harus dilakukan oleh manusia secara terus menerus.

Ikhtiar berarti bahwa setiap orang harus memilih dan melakukan hal baik tentang apa yang ada dalam perasaan dan keinginannya. Karena selalu ada yang batin di hadapan yang lahir, maka bersamaan dengan yang baik selalu ada yang buruk, bersamaan dengan yang halal selalu ada yang haram. Maka ikhtiar manusialah yang menentukan itu. Manusia yang telah berikhtiar, akan menyadari akan apa yang diidamnya sejak lahir, dan ia akan memperoleh keinginannya yang sejati. Bersamaan dengan keinginan dari dalam itu, keputusan dan ketetapan Tuhan diterima oleh setiap manusia yang sadar akan takdirnya. Dan takdir setiap manusia adalah pengabdian pada muara yang Maha Luas dari setiap perjalanan hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *