Indentitas Baru Islam Indonesia Pasca Gerakan 212

Islam Opini

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

(Intelektual Muda Persatuan Tarbiyah Islamiyah)

Gerakan Bela Islam, yang disebut gerakan 212 telah berusia dua tahun. Satu tahun gerakan yang dipelopori oleh Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF, sebelumnya GNPF-MUI) dirayakan dengan reuni sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad saw karena bertepatan dengan bulan kelahiran Sang Teladan, Rabi’ al-Awwal. Masyarakat muslim Indonesia dari berbagai daerah hadir ke Jakarta untuk merayakannya.

Munculnya gerakan aksi bela Islam, setahun yang lalu, memang cenderung dianggap sebagai gerakan politik oleh sebagian orang. Penyebabnya adalah karena gerakan terjadi dalam rentang masa pemilihan gubernur dan terkait dengan salah calon gubernur, di samping calon gubernur lainnya beroleh dukungan.

Lalu, di saat yang sama muncul kembali pernyataan bahwa Islam tidak perlu dibela. karena sedianya, Islam adalah pembela manusia. pernyataan “Islam tidak perlu dibela”, memang benar. Tetapi berdasar pada gejala yang ada dalam masyarakat, dapat dipahami bahwa yang mereka maksud dengan bela Islam sebenarnya adalah membela pamahaman mereka terhadap Islam.

Kenapa membela pemahaman mereka dianggap membela Islam? Karena siapa pun akan meyakini pemahamannya sebagai pemahaman yang benar terhadap Islam. Dengan begitu, mereka akan menyebutnya membela Islam. Islam yang mana? ya Islam berdasarkan pemahaman mereka.

Bagaimana pemahaman Islam dalam gerakan 212? Barangkali kita dapat melihatnya sebagai pemahaman umat Islam Indonesia. Hadirnya ribuan orang dalam gerakan 212 ini, tidak dapat diklasifikasi berdasar latarbelakang organisasi keislaman mereka. Hampir setiap orang dari organisasi Islam ada dan hadir dalam gerakan itu. Perbedaan mazhab fikih, teologi dan segela hal yang bersifat khilfiyah dalam Islam, tampak tak menghalangi mereka untuk berkumpul dan saling menjaga silaturrahmi.

Dengan demikian, gerakan 212 ini dapat disebut sebagai fenomena baru dalam sejarah dunia peradaban Islam. Kenapa? Karena selama ini, Islam yang sering muncul dalam sejarah adalah Islam dengan berbagai pertikaian, perbedaan pendapat bahkan konflik yang berujung perang karena perbedaan keyakinan dan politik antar sesama. Dan dalam gerakan 212 ini pula kita melihat umat Islam menyatu dan tidak saling menunjukkan diri siapa yang paling benar.

Ketika gerakan 212, terjadi untuk kedua kalinya, sama sekali tidak terlihat bayang-bayang kekerasan, teror dan ketertutupan terhadap perbedaan. Alih-alih anti terhadap kebhineka-tunggal-ikaan, anti terhadap pancasila dan anti Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam gerakan ini justru bendera Sang Saka Merah Putih dikibarkan dan lagu kebangsaan disenandungkan.

Alih-alih berbuat kerusakan, dan menyuarakan permusuhan pada umat agama lain, rupa Islam yang mengemuka dalam gerakan 212 adalah penghormatan umat terhadap alam tanpa merusak rerumputan yang hijau, menjaga kebersihan taman dan area tempat mereka menyatakan pendapat. Dan yang tak kalah pentingnya adalah mereka dengan lapang dada menerima perbedaan agama dan keyakinan. Hal itu terlihat dalam aksi mereka menghormati non muslim yang hadir di tengah-tengah mereka.

kan dalam aksi gerakan bela Islam pernah ada teriakan bunuh terhadap Ahok? Benar. Tetapi teriakan itu tidak ditujukan terhadap semua orang yang berbeda keyakinan dan agama dengan mereka. Mereka hanya meneriakkannya pada orang yang menurut mereka telah menodai dan menghina sesuatu yang mereka yakini. Bukankah setiap orang akan melampiaskan kemarahannya terhadap orang yang menistakan keyakinannya? Dan teriakan bunuh dalam kasus itu harus dipahami, tak lain dari luapan kekalapan belaka, sebagaimana marahnya masa pada pelaku pencurian. Itu berarti bahwa teriakan mereka bukanlah disebabkan oleh Islam sebagai agama yang mereka yakini, tetapi muncul dari ruang manusiawinya.

 

Agama dan Negara dalam Keyakinan

Hal lain yang masih terkait dengan gerakan 212, yang menjadi pembicaraan banyak orang adalah berkibarnya bendera dengan tulisan dua Kalimah Shahadah (Shahadatain) di atas bendera Merah Putih dan diterbangkan bendera dengan tulisan yang sama. Sebagian pemberitaan menyebut, bahwa itu adalah bendera Hizbut Tahrir. Dan meletakkan bendera Sang Saka di bawah bendera bertulis dua Shahadatain itu adalah penghinaan terhadap negara. Ini satu pendapat karena bendera tersebut dekat dengan Hizbut Tahrir. Dan interpretasi ini sangat politis.

Pertanyaannya adalah, apakah semua orang yang hadir memiliki pemahaman dan keyakinan yang sama, yakni menganggap bendera dengan tulisan Shahadatain juga sebagai bendera Hizbut Tahrir? Dan itu berarti mereka juga bersepakat dengan ide pemerintahan khilafah? Tunggu dulu. Tetap berkibarnya Sang Saka Merah Putih dan bergemanya lagu Indonesia Raya adalah satu bukti kesetiaan umat terhadap Bangsa dan Negara Republik Indonesia.

Akan halnya bendera bertulis Shahadatain, tidak akan mewakili pernyataan bahwa massa gerakan 212 menyetujui khilafah. Karena Shahadatain oleh umat Islam di Indonesia tidak diyakini sebagai gerakan politik yang akan mengganti pancasila, ataupun upaya melawan ideologi negara, melainkan sebagai dasar Islam. Tidak ada protes apapun di antara mereka ketika Sang Saka Merah Putih berada di bawah bendera bertulis Shahadatain, menunjukkan bahwa kesetiaannya terhadap negara tidak lebih tinggi dari pada kesetiaannya pada Islam sebagai keyakinannya. Dan perbedaan pendapat dalam masalah furu’ (cabang) agama tidak lebih penting dari persatuan umat.

 

Peringatan Maulid Nabi saw, Momen Persatuan

Gerakan 212 kali ini memang agak lain. Selain reuni, gerakan disandingkan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw. Seolah tak ada perselisihan dan pertentangan ketika shalawat bergema sebagai ungkapan kegembiraan dengan kelahiran Nabi saw, Sang Teladan Agung.

Selama ini, peringatan maulid Nabi saw merupakan tema yang berada dalam ranah khilafiyah. Sebagian lain, menuduh peringatan kelahiran Nabi saw sebagai kerja sesat dan bid’ah. Dalam gerakan yang dihadiri ribuan umat Islam dengan berbagai latar belakang mazhab, teologi dan organisasi itu, diam-diam seakan ada kesepakatan bahwa peringatan kelahiran Nabi saw boleh dilakukan dan menerimanya sebagai alasan persatuan. Ini berarti bahwa Islam yang ada dalam gerakan 212 bukanlah Islam yang anti tradisi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gerakan Islam 212 adalah upaya umat mencari bentuk Islam di tengah keragaman mazhab, teologi dan tradisi, sekaligus peleburan umat Islam untuk membentuk identitas baru Islam Indonesia. Dari satu tahun pertama gerakan 212, kita melihat bahwa keyakinan umat dalam beragama berada di atas keyakinan bernegara dan tradisi memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw sebagai tradisi yang berterima oleh umat Islam Indonesia. Wallahu A’lam.

Islam Puritan sebagai Trauma Teologi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *