Integritas Iman, Ilmu dan Amal untuk Good Governance

Editorial

Oleh Prof. Azyumardi Azra, CBE

Integritas dalam perspektif agama adalah keterpaduan antara iman, ilmu dan amal. Iman adalah dasar yang menjadi kekuatan penggerak (driving force) dalam berpikir dan bertindak. Tetapi iman saja tidak cukup; harus disertai dengan ‘ilmu’ baik menyangkut berbagai aspek ajaran agama, tetapi juga menyangkut kehidupan sehari-hari.

Iman dan ilmu menjadi hampa jika tidak disertai dengan amal [saleh, good deeds); iman tanpa amal adalah ibarat pohon tanpa buah. Bahkan orang yang beriman tanpa amal saleh termasuk ke dalam golongan orang yang merugi. Karena itu, kehidupan dan keimanan hanya bisa bermakna kalau mereka yang beriman  selalu mengerjakan amal saleh. Dan, amal saleh itu tidak hanya menyangkut ibadah-ibadah pokok, tetapi segenap perbuatan dan tindakan yang baik bagi diri sendiri, orang lain, masyarakat, bangsa dan negara.

Implementasi Nilai Pancasila Dalam Kepemimpinan: Penguatan Integritas Untuk Good Governance (1)

Karena itu, integritas iman, ilmu dan amal merupakan salah satu sumber utama dan etos dalam pembentukan tata pemerintahan yang baik (good governance) dan corporate culture. Karena keterpaduan di antara ketiganya dapat mendorong para pelaku yang beriman tersebut untuk menghasilkan tatanan dan pelaksanaan tugas secara maksimal dan terbaik. Iman mendorong orang beriman untuk memandang setiap pekerjaannya sebagai ibadah; bukan sebagai tindakan dan perbuatan ‘keduniaan’ belaka.

Sebagai ibadah, setiap perbuatan yang baik dan pekerjaan harus dilaksanakan sesuai ‘rukun’ dan ‘syarat’nya, sehingga dapat memperoleh ‘ganjaran’ (rewards) baik di dunia maupun di akhirat kelak. Agar pelaksanaan tugas yang merupakan ibadah itu dapat terlaksana dengan maksimal, perlu pengetahuan dan ketrampilan memadai. Untuk itu, merupakan kewajiban setiap orang, khususnya pejabat, pegawai dan pekerja meningkatkan ilmu, keahlian dan ketrampilannya.

Implementasi Nilai Pancasila Dalam Kepemimpinan: Penguatan Integritas Untuk Good Governance (2)

Penguatan etika birokrasi untuk membangun good governance dan corporate culture dengan demikian merupakan implikasi logis belaka dari iman, ilmu dan amal. Karena itulah setiap mereka yang beriman juga dituntut untuk senantiasa ‘memperbaharui’ keimanan, yang dapat mengalami ‘pasang naik dan surut’.

Dengan imannya yang senantiasa terbarukan—sehingga menjadi dinamis—orang yang bersangkutan juga selalu ingin untuk melakukan tajdid (renewal, pembaruan) dan islah (reform, reformasi). Pembaruan dan reformasi—yang bertitiktolak dari iman dan ilmu yang kuat—niscayalah dapat menghantarkan diri, masyarakat, bangsa dan negara ke dalam kehidupan lebih baik, termasuk khususnya juga dalam penciptaan good governance dan corporate culture.

Implementasi Nilai Pancasila Dalam Kepemimpinan: Penguatan Integritas Untuk Good Governance (3)

Dalam konteks good governance, integritas iman, ilmu dan amal dapat mewujudkan pribadi-pribadi—termasuk pegawai yang juga memiliki integritas pribadi. Pejabat publik dan pegawai yang memiliki integritas menggunakan kekuasaan dan wewenang resminya hanya untuk tujuan-tujuan yang syah (justified) menurut hukum.

Integritas merupakan anti-tesis dari korupsi yang merupakan penggunaan kekuasaan untuk tujuan-tujuan yang tidak syah baik oleh individu maupun kelompok yang memegang kekuasaan, otoritas dan wewenang. Karena itu, penciptaan dan penguatan integritas pribadi pejabat publik dan pegawai merupakan salah satu faktor terpenting tidak hanya dalam pemberantasan korupsi, tetapi juga dalam reformasi birokrasi dan administrasi guna tercapainya tujuan pembentukan good governance.

Makalah Prof. Azyumardi Azra, CBE untuk Focus Group Discussion (FGD) Staf Khusus Wapres RI Bidang Reformasi Birokrasi, 25 Juli 2018
Sumber Gambar; UIN Jakarta

Implementasi Nilai Pancasila dalam Kepemimpinan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *