Islam Yang Agung

Breaking News Editorial Islam

Oleh Dr. Islmail Novel

(Direktus Pascasarjana IAIN Sjech Djamil Djambek Bukittinggi)

 

Al-Islam ya’lu wa la yu’la ‘alaihi, Islam itu Agung dan tak ada yang melebihi keagungannya.

Dengan spirit keagungan Islam itu Muhammad Sang Nabi mencanangkan “penguasaan” terhadap Persia dan Romawi. Dan benar, bahwa tak lama setelah beliau wafat, Umar bin Khatab, Khalifah kedua dari al-khulafa al-Rasyidun, (13-23H), berhasil mewujudkan impiannya.

Persia dan Romawi betul-betul takluk di bawah kekuasaan Muslim. Dengan spirit keagungan Islam itu pula panglima Thariq (Thariq bin Ziyad) dengan balatentaranya yang tidak begitu banyak pada tahun 92 H menyeberang ke Spanyol.

Penaklukkan selat Gibraltar menjadi pintu masuk bagi muslim dalam “menguasai” tanah Andalusia itu selama berabad-abad. Begitu juga Muhammad al-Fatih sang penakluk Konstantinopel. Sejak kecil sudah dibisikkan ke telinganya oleh ayahnya, Raja Murad, bahwa Islam ya’lu wa la yu’la alaihi, Islam itu unggul tak ada yang melampaui keunggulanya.

Muhammad al-Fatih yang memahami betul bahwa Islam itu agung tak gentar menghadapi raja konstantinopel yang sangat kuat dan sangat terkenal di masa itu dan berhasil mengalahkannya pada tahun 857 H.

Demikian spirit keagungan Islam telah membuat Nabi dan para pewarisnya menjadi superior. Superioritas Nabi dengan ajaran Islam yang agung yang dibawanya menjadikannya sebagai tokoh terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Dengan spirit keagungan Islam yang didakwahkannya, para Khulafaur Rasyidin, menjadi superior. Dan dengan keagungan Islam itu pula Thariq bin Ziyad menjadi superior. Begitu pula al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel.

Demikian pada masa dahulu, keagungan Islam berbanding lurus dengan superioritas atau kejayaan umatnya. Namun, sekarang yang masih tersisa hanyalah keagungan Islam itu saja, tidak superioritas umatnya.

Diakui atau tidak umat Islam sekarang telah menjadi umat yang inferior. Perpecahan demi perpecahan yang terjadi dalam diri umat Islam telah menjadikannya menjadi masyarakat yang lemah.

Bersamaan dengan itu Bangsa-bangsa Eropa terus berbenah menyusun kekuatan untuk kembali membebaskan diri dari pengaruh Islam dan balik menguasai daerah-daerah muslim. Secara bertahap lepaslah kembali Spanyol ke pangkuan mereka, begitu juga Rumawi. Hanya, Persia (Iran) yang tetap bertahan dengan Islam dengan segala kejayaannya.

Kekalahan umat Islam di berbagai negara Muslim dunia, penjajahan penjajahan Eropa terhadap negara-negara muslim, termasuk Indonesia, pada masa lalu dengan serta merta mengubur superioritas umat Islam yang memiliki agama yang agung tersebut.

Umat Islam dunia, tak mampu lagi mengerangka masa depannya seperti yang dilakukan oleh Nabi SAW terhadap Persia dan Romawi. Tak pula bisa menanamkan pengaruhnya di Eropa seperti yang pernah dilakukan oleh Musa bin Nushairiyah dengan panglima Thariq bin Ziyadnya pada masa lalu. Dan tak pula dapat menghayalkan masa depan seperti yang dilakukan al-Fatih Sang Penakluk.

Sudah menjadi SunnahNya, bahwa bangsa-bangsa yang inferior, tak mampu menghayalkan masa depan mereka. Bangsa yang inferior selalu ketakutan dengan apa yang akan menimpa dirinya.

Itu sebabnya mereka cenderung membela diri. Takut dengan pengaruh dan budaya asing (luar Islam) sebaliknya tak berani membangun dan mengerangka kebudayaan sendiri. Bangsa-bangsa (baca umat) yang imferior, menurut Azyumardi Azra, biasanya memiliki pola pikir orang terkepung, selalu merasa kalah, terjajah, bodoh, dan terbelakang.

Saya melihat sikap inferioritas ini telah menghinggapi sebagian umat Islam dewasa ini, terutama di negara kita. Mereka lupa bahwa al-Islam ya’lu wala yu’la alaihi. Mereka juga lupa dengan Firman Allah SWT, kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kepada yang mungkar, (Q.S. Ali Imran:110).

Langkah-langkah yang diambil oleh dua ormas Islam terbesar di negara kita, Muhammadiyah dan NU, untuk mengerangka dan merancang kemajuan Islam di Indonesia, yang sebenarnya cukup strategis untuk mempertahankan keagungan Islam dan untuk mencapai superioritas umat Islam pada masa yang akan datang, pun tak luput dari kecaman.

Saya kira untuk menjaga keagungan Islam (kalau boleh dikatakan begitu) dan untuk mencapai superioritas atau kejayaan umat Islam pada masa yang akan datang, kita perlu merubah sikap dan pola pikir kita dari berpikir inferior menjadi berpikir dan bersikap superior. Hingga keagungan Islam itu dapat kembali berbanding lurus dengan kejayaan umatnya.

Menyingkap Fenomena Cadar di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *