Kenapa Anies Tidak Bisa Kerja?

Kolom Laman Utama

Kolom Muhammad Yusuf el-Badri

Judul tulisan ini adalah pertanyaan yang terlintas dalam pikiran saya ketika melihat perdebatan berkepanjangan antara dua kelompok massa yang berseteru tentang apa yang dikerjakan Anies. Kelompok yang berseteru ini secara umum adalah pendukung Anies versus pendukung Ahok, ditambah pendukung Jokowi, ditambah Anti Anies.

Pendukung Ahok adalah kelompok khusus yang hanya membela Ahok, menyalahkan Anies dan terkadang membela Jokowi atau mendiamkannya. Pendukung Jokowi adalah kelompok khusus yang hanya membela Jokowi, menyalahkan Anies dan terkadang membela Ahok atau mendiamkan. Dari sini terlihat bahwa secara umum, baik pendukung Jokowi atau pendukung Ahok akan bersepakat dalam menyalahkan kebijakan Anies. 

Lalu kenapa tidak ada kelompok Anti Ahok atau Anti Jokowi secara spesifik? Sederhana saja, kelompok Anti Ahok dan Anti Jokowi pada umunya adalah pendukung Anies. Kalaupun ada kelompok pendukung Jokowi sekaligus pendukung Anies misalnya, saya kira jumlahnya tidaklah seberapa. Sama halnya dengan jumlah kelompok yang anti Anies sekaligus Anti Ahok.

Sementara itu ada pertemuan yang mustahil terjadi dalam diri seorang pengikut politik yakni menjadi pendukung Ahok, sekaligus pendukung Anies. Kalaupun ada, mungkin hanya ada satu orang dalam setiap seribu orang. Dan yang satu ini saya kira adalah orang yang ajaib dengan kecerdasan yang canggih. Sama canggihnya dengan orang yang Anti Anies, Anti Jokowi, dan Anti Ahok sekaligus.

Pertanyaannya, persoalan apa yang menghambat orang menjadi pendukung Ahok sekaligus pendukung Anies? Jawabannya adalah persoalan agama dan keadilan. Pengamat politik akan menyebut praktik politisasi agama dan praktisi kemanusiaan akan menyebut ketidakadilan. Jadi perbincangan kelompok yang tidak suka Anies sekaligus Ahok, ada di seputar politisasi agama dan keadilan ini. Bagi kelompok ini politisasi agama adalah tindakan kebodohan dan ketidakadilan adalah tindakan kejahatan.

Oh ya..Pengelompokkan pendukung politik di atas saya buat tidak berdasarkan angk-angka yang pasti atau survei, tapi hanya berdasar perkiraan umum dari kecenderungan sejumlah orang yang saya tahu aktif di media sosial dan berkutat dengan masalah membela atau menghujat kebijakan pemerintah RI dan DKI Jakarta.

Sementara kecenderungan masing-masing kelompok saya dasarkan pada komentar-komentar mereka di media sosial itu. Karena keberadaan mereka yang melampaui batas kultural, agama, dan daerah, saya kira polarisasi yang saya buat ini tidak akan jauh berbeda dengan polariasi secara nasional.

Kesimpulan pertama saya atas kondisi masyakarat saat ini adalah polarisasi yang tajam melahirkan sikap fanatik dari masing-masing kelompok pendukung politik. Akibatnya lebih lanjut, komentar yang mengemuka dari pengikut politik itu adalah mendukung atau menolak, memuji atau mencaci. Realitas ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat kita, Indonesia, masih belum mampu menerima perbedaan pendapat dan belum bisa menghargai pilihan individu. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang belum baligh dan belum berakal untuk hidup bersama dan beragam.

Jadi kalau kita kembali pada pertanyaan pertama saya, kenapa Anies tidak bisa kerja? Anda mungkin akan berkesimpulan, bahwa pertanyaan ini salah. Yang benar, Anies bukan tidak bisa kerja, tapi hanya kerja Anies tidak mau diakui oleh kelompok lain yang berseberangan denganya. Dari argumen ini saya bisa menebak bahwa besar kemungkinan Anda adalah pendukung Anies. Dan argumen Anda adalah permintaan diakui. Dibalik argumen ini tersimpan suara penundukkan. Saya memakluminya.

Pertanyaan saya adalah sebuah pertanyaan untuk mencoba memahami  pikiran orang-orang yang menganggap Anies tidak bisa kerja. Sehingga pertanyaan ini bukan sikap mempertanyakan, tapi merenung sejenak untuk memaklumi sikap itu. Untuk menjawab pertanyaan ini, saya mulai dari penelusuran tentang prestasi dan kegagalan Anies. Rata-rata kegagalan Anies, berdasar pembacaan saya, hanya dimunculkan oleh kelompok yang teridentifikasi sebagai pendukung Ahok dan berasal dari kelompok menengah ke atas. Nah apa makna kerja bagi kelompok ini?

Saya ingat ketika saya bertanya soal pekerjaan pada beberapa orang yang baru saya kenal. Jika pertanyaannya adalah apa pekerjaan anda sekarang? Pedagang kaki lima menjawab, saya hanya berdagang kecil-kecilan. Pelajar/mahasiswa menjawab, saya belum bekerja, masih sekolah atau masih kuliah. Tukang parkir menjawab, saya tidak bekerja hanya markir. Tukang ojek bakal menjawab, saya hanya bekerja sebagai tukang ojek. Petugas masjid menjawab, saya hanya tukang kebersihan masjid. Petugas sampah menjawab, saya hanya tukang sampah. Begitu seterusnya jawaban mereka yang tidak bekerja di perusahaan dengan gaji yang ditentukan.

Sebagai orang yang tinggal di pinggiran Jakarta selama enam tahun lebih, saya memahami bahwa makna bekerja bagi orang Jakarta dan sekitarnya adalah bekerja di perusahaan dengan gaji yang cukup dalam rangka menjalankan program dan mencapai target perusahaan. Selain dari itu, seolah belum layak disebut sebagai telah bekerja secara resmi.

Padahal pedagang kaki lima itu pada dasarnya adalah pengusaha dan bos dalam usahanya. Hanya saja, lingkupnya kecil. Pelajar atau mahasiswa adalah kerja memproduksi pikiran dan ide. Hanya kebetulan tak ada ide yang layak jual karena sistem pendidikan. Tukang parkir adalah pengusaha dengan modal kerja sama dengan pemilik toko atau pasar. Hanya tidak pakai surat-menyurat. Ojek online adalah pimpinan usaha transportasi meski untuk dirinya sendiri. Petugas masjid, sampah adalah pekerja sosial.

Posisi mereka sebenarnya sama dengan pekerja lain di perusahaan-perusahaan bahkan lebih tinggi, karena masing-masing adalah pimpinan usaha, minimal untuk dirinya sendiri. Sementara pekerja di perusahaan adalah karyawan. Bedanya terkadang hanya di soal jumlah penghasilan saja.

Pertanyaannya, kenapa kerja seperti berdagang kaki lima, pelajar/ mahasiswa, petugas masjid, tukang parkir, tukang ojek tidak dianggap sebagai kerja? Karena tidak pakai seragam yang layak, tidak ditentukan waktunya, tidak punya target dan capaian kerja. Lebih dari semua itu bekerja sebagai pedagang kaki lima, tukang sampah, tukang parkir, mengurus masjid, menjadi pelajar/mahasiswa adalah kerja tanpa harus tunduk pada pemilik modal melainkan dirinya sendiri dan sosial.

Dari hasil penelurusan saya, Anies bekerja untuk hal-hal seperti ini, yakni untuk dirinya sendiri (pemerintah DKI) dan untuk sosial. Kerja itu diaplikasikan melalui pembinaan kesejahteraan guru, membangun demokrasi dan kerukukan, mengayomi pejalan kaki dan pedagang kaki lima, pemberantasa korupsi, kerja pelayanan masyarakat, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Kalau memakai logika umum orang Jakarta di atas, tentang apa yang disebut dengan bekerja, yang dilakukan Anies memang bukan kerja. Karena dia tidak tunduk dan tidak bekerja untuk memperkaya pemilik modal dan pengusaha. Dia melayani dirinya sendiri (pemerintah DKI) dan masyarakat. Karena Anies bekerja untuk negara dan masyarakat, maka program kerjanya tidak akan mendapat tempat begitu besar di media massa, meski punya nilai jual berita.

Logikanya begini, media butuh iklan sebagai pemasukan dan sumber dana iklan terbesar adalah pengusaha dan cukong. Sementara Anies tidak melayani cukong dan pemilik modal. Ya program kerjanya tidak dapat publikasi yang memadai di media massa, -meski ada penghargaan dari pemerintah pusat, lembaga swasta, atau dunia internasional, tapi tetap sepi juga dari pemberitaan.

Kira-kira cukong berkata begini, “Anies kagak ngasih gue proyek. Duit dari mana gue mau bayarin berita buat dia?!” Barangkali cukong itu bukan hanya tidak dapat proyek, tapi juga malah merugi. Karena sudah rahasia umum bahwa banyak pengusaha menyusu proyek pemerintah. Kalau sudah pada tahap merugi, ya wajar saja, bila ada tuntutan mundur segala.

Masalahnya mungkin akan berbeda 180 derajat bila Anies bekerja untuk pemilik modal dan untuk mencapai target pengusaha tertentu, alias jadi broker. Jangankan program, gaya menguap atau cara pakai sepatu Anies saja bisa jadi berita utama di koran dan televisi. Tentu saja berita itu atas dasar permintaan cukong dan pemilik modal pada media dalam rangka mempopulerkannya. Kalau media tidak mengikuti permintaan itu, cukong bisa menghentikan penerbitan iklan dan media massa, koran atau televisi bisa mati berdiri.

Terakhir, seandainya pun Anies berhasil mencegah banjir minggu lalu dengan mengatap langit, dia tetap akan dihujat dan dimaki sebagai Gubernur yang tidak bisa bekerja. Karena masalahnya bukan pada Anies bisa kerja atau tidak, tapi Anies bekerja untuk siapa. Soal apa yang dikerjakan, dapat dilihat di web https://jakarta.go.id/. Sayangnya publikasi aktifitas gubernur tidak terkelola dengan baik dan sehingga berita aktifitas gubernur tidak memadai.

sumber gambar; jakartagoid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *