Kisah Perjuangan Iwai Si ‘Tukang Kibul’ yang Berumah Bajaj untuk Sekolahkan Anaknya

Liputan

Oleh Muslim AR

“Bapak tukang kibul, boong mulu, udah deh pak, gak usah bohong terus,” ujar Amat pada bapaknya.

Muhammad Irawan (11) alias Amat, bocah yang hidup sejak kecil di dalam bajaj sudah empat tahun dijanjikan akan bersekolah oleh ayahnya.

Riwahyudin (54), ayah Amat hanya seorang sopir yang berumah di bajaj sewaan, ia membesarkan anaknya seorang diri selama bertahun-tahun.

“Saya cuma ngelus dada, mau nangis tapi gak bisa. Saya terima aja dikataiin kayak gitu,” kata Riwahyudin memulai kisah perjuangannya selama 4 tahun untuk menyekolahkan anak semata wayangnya.

Iwai, panggilan akrab lelaki berdagu tegap dengan rambut gondrong itu menceritakan sepotong kisah hidup yang tak bisa ia lupa. Entah haru, entah bangga. Di akhir Juli lalu, ia mengantarkan anak lelakinya ke sekolah.

“Malam itu juga, saya cariin baju, sepatu, sama tasnya. Saya punya tabungan cuma satu juta, saya habisin semua,” kata Iwai dengan jenaka, ia mencoba menahan isak di matanya yang berkaca-kaca.

Jelang tengah malam, Iwai kembali ke bajaj yang merupakan rumah mereka berdua. Melihat bapaknya membawa baju, tas, sepatu, buku dan sebuah bedak. Amat ternganga.

“Mulutnya ampe gak ketutup, dia gak bilang saya tukang kibul lagi,” kata Iwai.

Karena takut bangun kesiangan, Iwai menyuruh Amat tidur lebih dulu. Di bangku bajaj bagian penumpang, Amat lelap dengan mimpi dan kebahagiannya.

Sementara, Iwai resah menunggu pagi. Antara percaya dan tidak, akhirnya ia mampu menepati janji. Meski telat, sejak usia tujuh tahun, Amat dijanjikan akan bersekolah. Barulah di usia Amat yang ke 11, Iwai mampu memenuhi janjinya.

“Girangnya bukan main, saya aja gak tidur malam itu,” kenang Iwai.

Pagi-pagi sekali, sebelum macet menyerbu jalanan Ibu Kota. Iwai membangunkan Amat, ia ajak ke sebuah SPBU kawasan Senen untuk mandi.

Usai mandi, Amat dipakaikannya baju Sekolah warna putih-putih. “Hari Senin wajib pakai itu,” jelas Iwai.

Usai memakai baju, sepatu dan menyandang tas. Amat dibedaki oleh Iwai. “Seumur-umur, itu saya bedakin, inu bedaknya masih ada,” ucap Iwai sambil mengeluarkan bedak dari dalam kotak kecil di samping kemudi bajaj.

Senyum Iwai tak surut. Hingga gerbang sekolah, ia masih memandangi anak bujangnya. Hari itu, hari pertama Amat sekolah.

“Dia pengen jadi pilot, udah empat tahun bilang mau sekolah. Pagi itu, kesampaian juga. Seharian saya gak narik, senyum-senyum sendiri di gerbang sekolah, nungguin Amat pulang,” kata Iwai.

Perjuangannya tak mudah. Iwai sempat tertegun beberapa saat, sebelum ia mulai bercerita kembali. Mengapa bajaj sewaan itu mereka jadikan rumah sejak 10 tahun lalu.

“Saya dulu punya rumah, dihuni orang tua, lalu saya nikah dan ngontrak,” kisahnya.

Setelah istrinya melahirkan Amat. Tiba-tiba, biduk rumah tangga Iwai dihantam badai. Genap setahun usia Amat, istri Iwai kabur dengan lelaki lain.

“Ya Allah, saya gak tau mau diapain ini anak bayi, istri saya kabur,” katanya dengan geraham yang rapat. Entah menahan geram atau menahan kenangan.

Amat yang masih berusia setahun itu ia bawa ke dalam bajaj. Kontrakan Iwai sudah habis. Ia berencana membawa Amat ke orang tuanya. Tapi, ujian baru dimulai. Orang tua Iwai (kakek dan nenek Amat) meninggal dunia. Rumah orang tuanya di Tanah Tinggi dijual oleh saudaranya.

“Cuma itu warisan, dijual juga. Lengkap deh, saya gak punya rumah, ada bayi merah, kontrakan gak ada,” kata Iwai.

Ia sempat berfikiran ingin menitipkan Amat pada saudaranya, membuangnya, terlintas juga ingin menitipkan Amat ke panti asuhan.

“Tapi, semua pikiran buruk itu lenyap pas ajan (Adzan) subuh,” kata Iwai.

Usai azan subuh menggema di sekitaran stasiun Cikini, Iwai bergegas ke Masjid. Dia membawa Amat serta. Sekembali dari masjid, Iwai melihat seorang lelaki membuang triplek.

“Nah, di sana awalnya. Saya minta tripleknya, saya taruh di dekat kemudi. Eh, pas! Saya taruh Amat di samping kemudi, trus paginya saya narik,” kenang Iwai.

Sejak saat itu, kemanapun ia pergi mengantarkan penumpang, Amat yang masih belum bisa berdiri itu dibawa serta. Iwai mengaku, sempat ditanya-tanya penumpangnya soal istri dan kenapa bawa bayi kemana-mana.

“Sempat kepikiran juga, saya sempat cari (istri Iwai) Tapi, waktu itu denger kabar, kalau ibunya Amat meninggal, mayatnya katanya ditemuin di sono,” tunjuk Iwai ke arah ujung Stasiun Cikini.

Dalam membesarkan Amat. Bukanlah perkara mudah. Bocah itu masih butuh ASI (Air Susu Ibu). Iwai tak punya istri baru, ia juga tak punya uang untuk beli susu.

“Susu mah mahal, ya udah, saya kasih botol dot, isinya air anget yang dicampur sama gula,” jelasnya.

Tahun berlalu, Iwai jadi terkenal di lingkungan penarik bajaj. Ia ayah yang tangguh, gigih dan jenaka.

“Itu aki-aki (Iwai) paling senior di sini (Stasiun Cikini), semua udah tau gimana die ngebesarin anaknya si Amat. Dia (Iwai) dipanggil Mat Kentut di sini, paling lucu dah, kalau gak ada die gak rame,” kata Wawan, seorang penarik bajaj yang sudah 8 tahun kenal Iwai.

Iwai dan anaknya lebur dalam sibuknya kawasan Cikini. Pagi-pagi yang sibuk membuat orang-orang tak sadar selama bertahun-tahun bahwa ada seorang ayah dan anak lelaki yang hidup di bajaj.

Hingga usia Amat menginjak tujuh tahun, saat itulah perjuangan Iwai baru dimulai. Amat meminta untuk disekolahkan, ia iri dengan teman sebaya yang sudah pakai seragam.

“Itu dia, saya udah coba daftarin Amat buat sekolah sejak tahun 2012, apesnya, saya gak punya surat-surat lagi, rumah udah dijual. Surat-surat entah kemana. Akte, surat nikah, KTP atau apapun saya gak punya,” jelas Iwai.

Tahun 2012, Iwai memulai perjuangannya. Ia meminta pertolongan pada ketua RT tempat rumah Orang tuanya dulu. Surat keterangan diberi, tapi sampai di kelurahan ia terbentur meja birokrasi.

“Udah berkali-kali, dari RT ke RW, nyampe di Lurah, gak bisa ngurus KTP,” katanya.

Empat tahun berlalu, setiap tahun ajaran baru Iwai terpaksa membohongi Amat.

Ia terus menjanjikan akan menyekolahkan Amat. Bukan tak mau, tapi semua usaha sudah ia coba. Hasilnya sama. Ia tak bisa membuat dokumen untuk syarat sekolah Amat.

“Akhirnya, pas lagi nunggu penumpang di dekat kantor walikota timur, saya ketemu teman yang kerja di sana,” senyum di wajah Iwai merekah lebar saat ia menyebut temannya.

Teman Iwai, membantu. Surat-surat lengkap. Bulan Juni kala itu. Ia sangat berterima kasih pada temannya yang kerja di kantor walikota.

Usai surat lengkap. Iwai mendaftarkan anaknya ke sekolah. Beberapa sekolah ia datangi. Tapi sayang, sistem penerimaan siswa baru yang berbasis teknologi dan terhubung ke jaringan internet membuat Iwai bingung.

“Daftarnya kan onlen. Saya gak ngerti, punya hape juga buat nelpon doang,” kata Iwai.

Ia tak putus asa. Sekolah-sekolah dasar ia datangi. Hingga sampai di gerbang Sekolah Dasar Negeri 05 Gondangdia jalan Probolinggo, Jakarta Pusat.

“Awalnya saya ragu, karena udah ditolak banyak sekolah. Apalagi Amat udah 11 tahun, eh tau nya di sana saya dibantu buat ngurusnya,” senyum Iwai makin lebar saat bercerita.

Segala sesuatu selesai diurus. Iwai menjemput Amat yang sedang main di Stasiun Cikini dan kembali menarik bajaj. Beberapa hari setelah mendaftar, Iwai jadi ragu apakah anaknya akan diterima di sekolah itu.

Ia sangat ragu. Tapi, ia tak bilang pada Amat bahwa anaknya itu sudah didaftarkan sekolah. Seminggu berlalu, Iwai makin gusar, tak ada kabar.

“Woii! Lu dicariin orang, dia nyari lu terus ke Cikini,” teriak seorang kawannya di pasar Senen saat Iwai tengah mengantarkan penumpang.

“Siapa yang nyariin, gue gak bawa bini orang, gue juga bukan kriminil kayak lu,” balas Iwai.

Ia mengira temannya hanya bercanda.

“Eh, dia nyamperin terus. Sampai di lampu merah Matraman, dia bilang yang nyariin itu guru sekolah. Saya gemetar, dia bilang anak saya bisa sekolah,” mata Iwai merah, meski tak ada air mata. Iwai mengelakkan pandangannya.

Jelang siang ia datangi sekolah itu. Iwai dapat kepastian, ia pun menanyai apa saja yang harus dibeli buat persiapan sekolah.

“Saya langsung ngambil tabungan, semuanya buat Amat, baju warna putih-putih hari Senin, baju merah putih hari Selasa, pokoknya semua yang dia perlu deh, saya udah catat semua keterangan gurunya,” kata Iwai.

Kini, Amat sudah dua bulan bersekolah. Ia masih kelas satu SD. Namun, Iwai selalu berpesan setiap paginya pada Amat, agar ia tak usah minder.

Amat tak usah malu sekolah di usia yang terlambat. Iwai membisikkan “Kamu kebanggan bapak,” katanya setiap pagi ke telinga putranya.

Amat dan Iwai malam ini tak lagi bertarung dengan dinginnya angin malam. Mereka sudah memiliki rumah kontrakan yang disewakan seorang dermawan.

“Saya mau narik dulu, nanti ke sini lagi,” kata Iwai hendak mencari penumpang.

Adzan magrib berkumandang di Stasiun Cikini. Iwai berlalu. Seorang ayah dengan penghasilan Rp30.000 perhari itu berjanji pada dirinya sendiri. Amat harus bisa jadi pilot.

Setidaknya Iwai berjanji selama hidung masih dilalui oksigen. Ia akan terus berjuang demi Amat.

“Saya narik sampai capek, sekarang ampe setahun ke depan, kan udah ada kontrakan, jadi gak ada alasan lagi buat malas. Amat pasti nungguin saya di rumah,” ucap Iwai

berlalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *