Kita, Islam Politik dan Buya Syafi’i

Opini

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Setelah wawancara ILC dengan Buya Syafi’i yang ditayang secara live, masyarakat kembali menyorot Buya Syafi’i. Syafi’i Ma’arif dalam kesempatan itu menghimbau agar masalah ‘Ahok dan al-maidah;51’ tak perlu dibesar-besarkan. Apalagi Ahok sudah menyatakan permintaan maaf.

Ini adalah cerminan seorang Buya, sebagaimana juga Nabi saw yang sangat menganjurkan memaafkan orang lain jika ia telah mengakui kesalahannya. Memaafkan tidak berarti membela orang lain. Aneh sekali, jika seruan memaafkan dipahami sebagai pembelaan.

Pandangan Buya Sayfi’i tersebut dipahami oleh publik sebagai pembelaan terhadap Ahok. Beragam sumpah serapah lalu berhamburan. Tak sedikit pula yang menyebutnya sebagai pembohong, munafiq dan sumpah serapah lainnya. Bahhkan dari kampung halamannya Buya sendiri meluncur surat khusus untuk Buya, mungkin mereka akan menganggapnya sebagai ‘surat cinta’.

Kehebohan itu bermula dari perkataan Buya sendiri, …Saya tidak begitu kenallah dengan Ahok. Tak lama berselang beredar foto Buya makan bersama dengan Ahok, berikut tulisan lengkap melalui gambar itu, sumpah serapah terhadap Buya semakin menjadi-jadi. Orang yang ‘tidak mengerti’ pun ikut-ikutan menghujat dan mencela.

Virus ini hanya rembesan dari cara berpikir yang diawali dengan semangat agama dan kini sudah menjadi penyakit. ‘Orang’ sangat tahu bahwa semangat dan sensitifitas keagamaan masyarakat belakangan sangat tinggi. Pada tahap awal isu agama cukup untuk membentuk cara berpikir.

Khusus pada masyarakat Minang, penyakit itu ditularkan pada secara menyeluruh dan terang-terangan dimulai dari penolakan Siloam dengan isu kristenisasi dan dipoles dengan adanya orang Minang yang menjadi kristen, lalu diiringi dengan semangat anti zionis, melalui lambang bintang david atau bintang segi enam masjid raya Sumbar. Dan puncaknya adalah parade tauhid.

Pasca parade tauhid ini semangat ‘keislaman’ masyarakat semakin menjadi-jadi. Dan secara terang-terangan pula masyarakat Minangkabau yang dulu terbiasa dengan perbedaan mazhab, perbedaan pendapat dan pandangan, berubah total menjadi masyarakat tertutup. Keislaman mulai di ukur dari hal-hal yang bersifat simbolik, tanda-tanda, dukungan politik dan bahasa keseharian.

Pada akhirnya masyarakat Minangkabau menjadi masyarakat yang dengan mudah sekali menyebut orang sebagai munafik, pembohong, liberal, sekuler dan bahkan kafir terhadap sesama orang Minang lain yang berbeda dengannya. Suatu sikap yang sangat jarang ditemukan pada masa sebelumnya.

Praktek ini tidak hanya pada masyarakat biasa kebanyakan tapi juga tokoh-tokoh agama dan intelektual. Pada tokoh agama misalnya, pernah terjadi di mana seorang tokoh menyebut Maarif Institut dengan Majahil Institut. Sikap yang sangat tidak dewasa sekali.

Cikal bakalnya adalah ia tidak setuju dengan hasil penelitian tentang kota Islami. Namun ketidaksetujuannya itu tidak memberikan alternatif lain tapi ditangapi dengan mencela institusi lain.

Demikian pula dengan penolakan ukiran masjid raya Sumbar yang dianggapnya sebagai penggunaan simbol zionis. Masih seorang tokoh agama, ketika itu, ia mengatakan bahwa ukiran itu adalah simbol zionis dan tanpa klarifikasi, tanpa mau memahami dan hanya membaca yang tersurat di google belaka, ia berkesimpulan masjid Raya Sumbar mesti diruntuhkan dan dibangun baru.

Masih banyak lagi hal-hal serupa yang dimafaatkan ‘orang’ untuk membangkit semangat ‘keislaman’, anti zionis dan lain sebagainya.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan kita masyarakat Minangkabau? Saya mencatat beberapa hal, pertama, kita hanya cara berpikir cerdas yang dangkal. Berpikir cerdas yang dangkal yang saya maksud adalah kita hanya berpikir sebatas tanda-tanda yang tersurat, tidak sempat berpikir pada yang tersirat dan tersuruk.

Hal yang tidak kita sadari adalah bahwa kita tengah hidup di zaman pencitraan dan pura-puraan. Di mana seorang penjahat bisa dipoles menjadi seorang yang baik dengan segala pakaian kebaikannya, bahasa dan cara bicaranya. Sebaliknya orang baik juga bisa diberitakan sebagai orang jahat dengan segala alasan pemberitaan.

Kepura-puraan ini tidak hanya ditemui dalam masalah politik belaka seperti yang sering kita dengar mereka bekerja untuk rakya padahal untuk kepentingan diri dan partainya. Kepura-puraan juga telah memasuki praktek agama. Sebagian mereka bicara atas nama Islam tapi pada hakikatnya sedang mengipas-ngipas dan memprovokasi kita agar kita saling menuduh dan membenci satu dengan yang lain.

Memang cewang di langik tando ka paneh, gabak dihulu tando ka hujan, tapi cewang dan gabak itu untuk masa sekarang dapat dibentuk supaya kita menyangka hujan akan turun atau panas akan menganga.

Kedua, kita kurang awas dan hati-hati dengan opini. Berita yang membajiri media sosial sering membuat kita berkesimpulan sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi. Padahal berita pada adatnya tidak lebih dari sekedar kabar burung yang mesti diklarifikasi.

Terkait dengan Buya Syafi’i, kita mendengar Saya tidak begitu kenallah dengan Ahok. Sementara pada saat yang sama, ada gambar dengan nada bertanya membuat kita berkesimpulan bahwa Buya Syafi’i berbohong. Padahal keadaan sebenarnya juga tidak ada yang tahu sama sekali. Bahkan mungkin yang menulis surat dari Sijunjung itu juga tidak tahu seberapa kenal atau tidak kenalnya Syafi’i Maarif dengan Ahok.

Frasa saya tidak begitu kenallah hanya berarti sekedar tahu. Tidak lebih. Tapi karena kita mulai malas berpikir, akhirnya membuat kesimpulan yang tergesa-gesa. Sehingga menuduh orang lain sebagai pendusta, munafik dan lain sebagainya.

Apakah mungkin ada orang yang tidak kenal tapi malah makan bersama? Dalam politik hal ini biasa terjadi. Setiap orang yang dianggap berpengaruh, sangat mungkin diundang oleh politisi dan siapa saja untuk beragam kebutuhan dan kepentingan. Sayangnya, kita menerjemahkan gambar itu bahwa Buya Syafi’i sangat kenal Ahok dan wajar ia sebagai pembelaan Buya Syafi’i pada Ahok yang dianggap menista agama.

Pepatah menyebutkan, kok paik jan capek dimuntahkan, kok manih jan dilulua. Pikir-pikir barang sejenak setelah itu baru ambil kesimpulan. Mengambil kesimpulan tanpa menimbang segala baik-buruknya, akan menutup hati dengan kabut kebencian.

1 thought on “Kita, Islam Politik dan Buya Syafi’i

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *