Kritik Terhadap Islam dalam Kasus Rasisme Papua

Islam Laman Utama Opini

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

(Pengkaji Islam dan Kebudayaan di Simak Institute)

Dua bulan sudah kasus rasisme yang menimpa Mahasiswa asal Papua, sejak 16 Agustus 2019. Sudah selama itu pula publik Papua melakukan protes dan mendapatkan tekanan sosial politik. Sejak awal memang terlihat negara lambat bertindak, menegakkan hukum dan membela hak masyarakat Papu. Maka protes lalu membesar dan terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia.

Pada saat yang sama Presiden Joko Widodo terkesan menganggap masalah rasisme bukan masalah yang serius. Alih-alih memberikan jaminan penyelesaian dan keadilan sebagai warga negara, Jokowi justru meminta masyarakat Papua untuk memaafkan dan bersabar.

Setelah permintaan sabar itu, masyarakat Papua harus berhadapan dengan aparat bersenjata. Korban nyawa tak terhindarkan, baik dari masyarakat sipil maupun militer. Dan kini, kasus rasisme itu menjelma menjadi tuntutan kemerdekaan. Agaknya tuntutan ini tidak lain dari ungkapan kekesalan, kejenuhan dan kemuakkan perilaku rasisme yang terus menimpa masyarakat Papua saban waktu dan terus menerus.

Protes terus berlanjut dan belum berhenti. Ditutupnya akses informasi di Papua membuat perhatian dan anggapan publik teralihkan dan berubah dari masalah rasisme akut ke tuntutan kemerdekaan semata. Pemerintah Indonesia agaknya juga lebih tertarik mengomentari masalah protes dan tuntutan kemerdekaan yang kian hari kian menguat di Papua. Masalah rasisme menjadi terabaikan.

Mempertanyakan Sikap Umat Islam

Hingga saat ini aksi protes terhadap masalah rasisme ini lebih sering disampaikan oleh pegiat hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi. Pertanyaannya adalah di mana posisi umat Islam dalam kasus rasisme ini?. Karena suara umat Islam yang ramai dengan protes dan pembicaraan politik sejak 2016, kini nyaris tak terdengar.

Pentingnya pertanyaan itu diajukan adalah karena selang satu dasawarsa terakhir umat Islam Indonesia tengah menggalakkan Islam moderat dan menjadikan Islam sebagai rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam. Dalam Islam moderat dan rahmat itu adakah masalah kemanusiaan menjadi perhatian? Kalau ada, lantas kenapa tak ada protes serius atas nama umat Islam atau ormas Islam untuk mengecam rasisme terhadap mahasiswa Papua? Apakah karena rasisme itu secara langsung dan lahiriah tak terkait dengan syariat, umat Islam, atau simbol Islam? Atau karena masalah itu tidak menguntung secara politik dan kekuasaan?

Dengan sederet pertanyaan itu, absennya Islam dalam protes dan membela kemanusiaan, maka moderasi Islam menjadi patut dipertanyakan. Kenapa? Karena masalah rasisme adalah masalah kemanusiaan. Dan masalah kemanusiaan adalah masalah utama dalam keberislaman setelah ketuhanan. Sehingga sikap kemanusiaan lebih diutamakan dari masalah apapun. Tetapi hal itu tidak terlihat ketika kasus rasisme yang menimpa masyarakat Papua.

Pernyataan sikap dan protes serius terhadap kasus rasisme ini, -yang dapat disebut dari umat Islam, hanya satu-dua saja, dari puluhan bahkan ratusan kelompok keislaman di Indonesia. Ini sungguh ironi. Ini menunjukkan bahwa masalah kemanusiaan dalam tubuh umat Islam Indonesia belum menjadi agenda utama dalam moderasi Islam dan belum menjadi sikap dalam beragama, alih-alih menjadi agenda perjuangan.

Adanya ormas Islam yang terlibat dalam aksi rasisme itu, sungguh sangat disayangkan. Karena itu bertentangan dengan nilai keislaman. Terlebih lagi konsentrasi umat Islam lebih berat kepada masalah tuntutan kemerdekaan Papua tanpa memperhatikan sebab protes itu terjadi. Bagi umat Islam Indonesia tampaknya nasionalisme jauh lebih penting dan utama dari masalah rasisme, yang diduga juga melibatkan aparat negara.

Tidak adanya kepastian sikap dari umat Islam dalam merespon masalah rasisme ini akan berdampak buruk bagi keberlangsungan kehidupan berindonesia yang damai di masa yang akan datang. Karena masalah rasisme rentan terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Kemanusiaan dalam Islam

Kemanusiaan dalam Islam bukan sekadar basa basi belaka. Tuhan sendiri yang mengatakan, Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan, (QS. Isra;70).

Ketika Tuhan memuliakan manusia, maka tidaklah sepatutnya manusia menghinakannya. Para ahli Agama menjadikan kemanusiaan menjadi bagian dari tujuan Agama. Oleh sebab itu, semestinya membela kemanusiaan menjadi agenda utama umat Islam saat ini, ketika rasa kemanusiaan mengalami kematian.

Nabi Muhammad saw juga mengatakan, “Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah terhadap orang yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan orang yang berkulit hitam terhadap yang berkulit merah, kecuali dengan taqwanya..” (HR. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Haitsami).

Ajaran pokok yang serupa dengan pernyataan Tuhan dan Nabi saw ini sangat banyak ditemukan dalam literatur dan sumber ajaran Islam. Ketika dunia saling mengecam dan berperang, ketika umat Islam di Timur Tengah saling membunuh, ketika kerukunan beragama masyarakat Indonesia tengah terancam, ibadah warga terganggu, tak ada alternatif lain selain mengutamakan kemanusiaan itu.

Jalan syariat (hukum Islam; fikih) perlu dalam Islam, menjadi orang berperilaku baik dan saleh tak kalah penting. Tetapi ber-Islam dengan jalan kemanusiaan agaknya perlu menjadi karakter setiap pribadi muslim Indonesia. Kemanusiaan tidak hanya menjadi ajaran luhur dalam Islam dan berlaku untuk membela umat Islam semata. Kemanusiaan  harus menjadi sikap, tindakan dan nilai perjuangan bagi setiap manusia tanpa pertimbangan apapun, baik sikap politik, maupun sikap keberagamaan.

 

Gambar; Antaranews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *