Kudeta Turki dan Komitmen Perdamaian Gulen

Opini

Opini Muhammad Yusuf el-Badri
Kudeta turki berhasil digagalkan oleh masyarakat Turki sendiri. Suatu hal yang patut diapresiasi. Mereka turun ke jalan melawan upaya pengambilalihan pemerintahan resmi yang dipimpin oleh Tayyip Erdogan. Penolakan rakyat Turki terhadap kudeta militer ini memunculkan dua pandangan umum pengamat politik.

Pertama, rakyat Turki menolak kudeta tidak serta merta berarti bahwa mereka mendukung Erdogan. Perlawanan mereka terhadap kudeta adalah perjuangan terhadap kebebasan mereka sendiri. Sebagai masyarakat yang selama berabad-abad hidup dalam negara yang bebas, mereka tidak menginginkan kekuatan militer menjadi penguasa. Pada saat yang sama juga berupaya menghargai pemerintahan yang dipilih melalui jalan demokrasi.

Kedua, penolakan rakyat Turki terhadap kudeta militer membuktikan bahwa Erdogan adalah pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya. Sehingga seruan untuk turun ke jalan dari pemerintah diikuti oleh rakyat Turki. Hingga akhirnya kudeta dapat dilumpuhkan kurang dari waktu 24 jam.

Meski upaya kudeta sebahagian kecil militer berhasil dipatahkan oleh Rakyat Turki dan pemerintahannya, namun keberhasilan itu menyisakan persoalan baru bagi Turki sendiri. Persoalan itu tidak lain adalah tuduhan terhadap Gulen, ulama sufi sekaligus moderat Turki, sebagai dalang kudeta.

Perdana menteri Turki, menyebutkan bahwa Gulen sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap kudeta. Demikian pula Amsterdam, pengacara Turki juga memuat hal senada di laman situs resminya. Ia mengatakan bahwa menurut sumber intelijen Turki, ada indikasi keterlibatan langsung oleh ulama buronan kuat Fethullah Gulen.

Namun tuduhan demi tuduhan itu langsung dibantah oleh Gulen sendiri dengan tegas bahwa ia sama sekali tidak tahu dan terlibat dengan kudeta yang tengah terjadi. Kalaupun Gulen tidak membantah tuduhan itu, tentu saja tuduhan pemerintahan Turki terhadap akan dipertanyaan masyarakat dunia. Atas dasar apa pemerintahan Turki menyebut Gulen sebagai dalang kudeta? Terlebih tuduhan itu dilontarkan masih dalam waktu 24 jam masa kudeta.

Tentu saja, muncul asumsi bahwa kudeta adalah ‘pekerjaan’ Erdogan sendiri untuk kepentingan politiknya. Alih-alih menyelidiki otak kudeta di belakang militer, pemerintahan Turki justru secara sengaja memanaskan konflik lama Erdogan dengan Gulen, dengan menyebut Gulen sebagai orang yang bertanggungjawab.

Tuduhan itu tentu saja agak menggelitik, mengingat bahwa Gulen sendiri adalah tokoh agama yang menentang militer terlibat dalam politik Turki sejak lama. Selain itu, Gulen adalah ulama yang konsisten memperjuangkan perdamaian, hak asasi,  dan demokrasi. Dan Erdogan adalah pemimpin Turki yang lahir dari demokrasi sendiri.

Dalam situasi negara yang sedang kacau, paling tidak ada dua kemungkinan kenapa Gulen menjadi tertuduh sebagai dalang kudeta. Pertama, karena Gulen adalah tokoh penting berpengaruh di Turki yang kritis terhadap pemerintah. Bahkan ketika orang-orang dekat Erdogan terlibat dalam kasus korupsi. Sehingga secara emosional pemerintah Turki dengan mudah akan menuduh orang yang berseberangan dengan pemerintahan sebagai otak kudeta.

Kedua, karena pemerintah -dalam hal ini Erdogan- akan terlihat lamban dalam mengambil sikap di mata pemimpin dunia terutama rakyat Turki sendiri, bila tidak menyebut satu nama sebagai tertuduh dalang kudeta. Anggapan yang memang tidak diinginkan oleh pemimpin mana pun.

Konsekuensi tuduhan gegabah pemerintahan Turki adalah membuktikan keterbibatan tertuduh. Meskipun pembuktian itu harus dilakukan secara paksa setelahnya. Sebab bila nanti tidak terbukti, maka pemerintahan Turki akan menanggung malu yang amat dalam di depan Gulen. Dan Gulen sebagai tertuduh akan lebih leluasa pada pemerintahan Erdogan. Suatu hal yang tidak diinginkan Erdogan.

Meningat bahwa Gulen adalah seorang ulama tasawuf yang menganut kepercayaan cinta terhadap sesama manusia dan menginginkan membangun dunia yang damai tanpa kekerasan, agaknya sulit untuk membuktikan keterlibatannya.

Andai saja Gulen, menurut pemerintah Turki adalah dalang kudeta militer, masyarakat dunia akan menertawakan pemerintahan Turki sendiri. Sebab Gulen adalah salah satu tokoh sentral yang menjadi rujukan muslim dunia perihal Islam moderat.

Komitmen Perdamaian Gulen

Selain tokoh muslim berpengaruh, Gulen juga ulama yang menolak segala bentuk kekerasan terhadap manusia, bahkan atas nama agama sekalipun seperti yang dilakukan oleh ISIL/ISIS, Alqaeda dan Boko Haram. Sebab bagi Gulen tindak kekerasan dalam segala hal, bukanlah ciri sebagai seorang orang beriman.

Gulen berkeyakinan bahwa keimanan seseorang perlu dibuktikan dalam bentuk tindakan melayani masyarakat, membangun kehidupan yang damai. Perdamaian itu antara lain adalah perdamaian abadi, perdamaian batin, perdamaian antar individu dan perdamaian antar kelompok.

Itulah sebabnya, sepanjang hidupnya ia berupaya membangun dialog dengan berbagai kelompok yang berbeda keyakinan, agama dan ideologi. Douglas Frat pernah menyebutkan bahwa Gulen membangun sebuah jalan penyemaian nilai Islam, dialog dan kerjasama dengan penganut agama lain di tengah tuntutan kompleks masyarakat modern.

Hanya dengan itulah, kata Gulen, tujuan agama dapat diwujudkan. Yakni membangun perdamaian berdasarkan hak universal manusia, supremasi hukum dan nilai kemanusiaan yang tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *