Mahasiswa sebagai Penyelamat Budaya Bangsa

Mahasiswa

Opini Dede Prandana Putra

(Mahasiswa Pascasarjana Kajian Ketahanan Nasional UI/Direktur Eksekutif Lampu Hijau Institute)

Perguruan tinggi dengan segala dinamikanya telah berhasil mengubah wajah keindonesiaan mahasiswa ke dalam bentuk yang multinasional, sehingga terkadang ciri khas anak lokal atau anak singkong mahasiswa tak lagi terlihat. Mereka abai dengan kondisi sekitar dan acuh tak acuh dengan budaya bangsa yang semakin terkikis. Namun semua itu jangan menjadi penghambat bagi kemajuan mahasiswa dalam mengemban tugas kebangsaan.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan, perguruan tinggi sebenarnya hadir dalam mencapai tujuan-tujuan yang terangkum dalam tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Ketika sederetan tujuan telah dikonsep maka akan muncul sebuah istilah mahasiswa ideal sebagai manifestasi keberhasilan sebuah proses pendidikan di tataran perguruan tinggi.

Konsep mahasiswa ideal ini merupakan representatif dari tingkat pemahaman mahasiswa itu sendiri terhadap tujuan dari perguruan tinggi yang dirangkum dalam tridarma perguruan tinggi. Cita-cita luhur tersebut hanya akan bisa dicapai apabila roda pendidikan dimainkan oleh orang-orang yang pintar; pintar dalam membaca perubahan, pintar dalam menyikapi permasalahan, dan pintar dalam memberikan kebijakan.

 

Salah satu hal tak bisa diabaikan proses ini tantangan yang ditawarkan zaman. Sebagaimana kita ketahui bahwa zaman sangat fleksibel. Ia sangat mudah sekali berubah dan tak terkadang perubahan tersebut sangat sulit untuk diterka. Perubahan- perubahan yang terjadi tak jarang membawa pengaruh negatif yang otomatis akan mengganggu proses pembangunan. Pengaruh semacam itulah yang semestinya diantisipasi oleh orang-orang yang menginginkan keberhasilan sebuah pembangunan.

Realitas yang terjadi saat ini telah jelas sekali terlihat dimana ketidakpastian dari perubahan zaman tersebut secara perlahan telah menggeser nilai-nilai suci dari sebuah peradaban. Tuntutan dari para pelaku kehidupan yang beraneka ragam memunculkan pola dan tingkah hidup yang juga bermacam-macam. Hingga pada akhirnya tidak ada lagi ditemukan cara dan sistem yang sesuai untuk dijadikan sebagai pengendali roda kehidupan tersebut.

Oleh karena alasan tersebut maka munculah sebuah wacana penting tentang posisi seorang mahasiswa yang ideal dalam memandang dan merespon segala gejala-gejala yang serba anomali tersebut. Relevansi pada kedua unsur ini sangatlah erat yakni mahasiswa sebagai agen yang akan mengatur dan mengendalikan, sementara perubahan zaman sebagai objek yang akan dihadapi dan dikendalikan.

Posisi mahasiswa dalam menjawab tantangan perubahan zaman sangat strategis. Mahasiswa seharusnya memiliki sebuah tawaran untuk bangsa ini, mau dibawa kemana budaya bangsa kita. Setelah mengalami dekadensi, sudah seharusnya budaya bangsa mendapat tempat di hati masyarakat. Nah, salah satu elemen yang diharapkan menjadi penyelemat budaya bangsa adalah mahasiswa.

Mahasiswa dengan berbagai latar belakang pendidikannya dan kemampuannya diharapkan dapat menjadi ujung tombak bagi keberhasilan bangsa mempertahankan budaya yang semakin luntur agar mahasiswa dapat termanifesto kedalam mahasiswa yang sadar akan budaya serta mengaplikasikan tridharma pergruan tinggi.

Jika mahasiswa mampu memainkan perannya sebagai penyelemat budaya bangsa, maka kita tidak akan melihat lagi kerapuhan budaya yang terjadi saat sekarang ini. Kerapuhan budaya yang membuat budaya bangsa menjadi seperti anak tiri, karena telah terbius oleh kehadiran budaya asing yang masih dianggap sebagai primadona dan menggeser kehadiran budaya bangsa sendiri.

Local wisdom atau kearifan lokal sering tergambar dalam setiap perjalanan bangsa mulai dari awal hingga sekarang yang menjadi warisan bagi generasi penerus tampaknya akan mulai menjadi catatan yang indah untuk dikenang, namun sukar untuk dipraktekkan. Tidak ada kata terlambat untuk menyelematkan budaya bangsa. Tidak ada istilah letih sebagai upaya kembali menempatkan budaya bangsa sebagai anak kandung. Dimana kesemuanya itu membutuhkan daya nalar, daya kritis, serta pengaplikasian nilai-nilai dan tridharma perguruan tinggi yang terbentuk oleh mahasiswa dengan segala potensi keilmuan yang dimilikinya.

Tawaran yang dapat dilakukan oleh mahasiswa sebagai penyelamat budaya bangsa dapat berupa aksi nyata memakai produk dalam negeri. Memahami dan mengenali budaya sendiri, bukan buta dengan budaya sendiri. Dan semua itu dapat dibarengi dengan pemasukkan nilai-nilai budaya lokal dalam setiap pergaulan sehari-hari. Budaya lokal yang tercermin kedalam budaya gotong royong, kebersamaan, autokritik, dan kasalehan sosial. Bukannya budaya seremonial, hedonis, antikritik, kapitalis, dan neoliberal, serta acuh tak acuh.

 

Gambar;Nusantaranews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *