Manhaj Hamka dalam Menyikapi Syiah – 4

Islam Laman Utama

Opini Izza Rohman

Tentu Hamka tidak menerangkan “manhaj”-nya dalam menyikapi Syiah secara sistematis. Akan tetapi, berbagai bahasan sebelumnya menunjukkan bahwa sikap intelektual Hamka terhadap Syiah berayun-ayun di antara dua sikap: tegas-kritis dan terbuka-toleran.

Manhaj Hamka dalam menyikapi Syiah tampak lebih dekat atau sesuai dengan nilai-nilai filosofis-ideologis yang hidup di Muhammadiyah. Sikap Hamka yang mencoba adil dengan memberi apresiasi dan kritik dapat dibaca sebagai contoh penerapan nilai-nilai ber-Muhammadiyah, seperti sepuluh sifat Muhammadiyah, yang di antaranya adalah sikap adil dan korektif baik ke luar maupun ke dalam, dan pedoman hidup islami warga Muhammadiyah, yang di antaranya memberi pedoman agar setiap warga Muhammadiyah harus memiliki sifat kritis, terbuka menerima kebenaran dari mana pun datangnya, dan senantiasa menggunakan daya nalar.

Kebenaran dapat datang dari mana saja, dan kita tidak elok untuk merasa paling benar sendiri dan mempertahankan pendapat sendiri sebagai final dan benar. Inilah sikap yang sudah diwariskan secara turun-temurun di Muhammadiyah sejak zaman Ahmad Dahlan. Tentu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya adalah rujukan, namun masalah-masalah ijtihadiyah tidak semestinya dibuat menjadi pendirian yang tidak boleh lagi berubah. Tentang ini Hamka menyebut para ulama seperti para imam mazhab, yang berani mengubah pendapat mereka, sebagai teladan. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 1)

Terkait sikap terhadap Syiah, Hamka menegaskan bahwa amat sempit paham orang bila tidak mau memperhatikan pendapat hanya lantaran berasal dari Syiah. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 1) Ini melengkapi keterbukaan Hamka untuk menggunakan literatur tafsir Syiah, mengutip pendapat ulama Syiah, menceritakan kisah tentang seorang tokoh Syiah, dan lain sebagainya, dengan tidak menanggalkan kesunniannya.

Sebagaimana sifat Muhammadiyah yang memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah islamiyah, Hamka berulang kali tampak menekankan persamaan di antara kaum muslimin. Saat membicarakan perpecahan dalam Islam, Hamka menyatakan bahwa kita patut bersyukur karena perpecahan itu tidak sampai menyebabkan perpecahan masjid. Hamka memberikan contoh: orang Syiah masih menganggap sah bermakmum kepada penganut Sunni, dan orang Muktazilah juga demikian terhadap firqah yang lain. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 2

Hamka kerap kali menyebutkan dampak negatif dari sikap ta‘ashshub pada mazhab – termasuk mazhab kalam ataupun fikih. Misalnya, Hamka beberapa kali menyebutkan kehancuran Dinasti Abbasiyah sebagai buah dari adanya perpecahan atau kefanatikan mazhab teologis. Dinasti ini hancur karena khalifahnya Sunni, dan wazir besarnya Syiah.

Wazir al-Alqami membeberkan rahasia pertahanan negara kepada Hulagu Khan, yang kemudian meluluhlantakkan Baghdad, dan membunuh khalifah serta wazir besar itu. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 1) Walau mengesankan wazir Syiah sebagai pemberi andil utama kehancuran Dinasti Abbasiyah, namun yang digarisbawahi oleh Hamka bukanlah kesyiahan sang wazir, melainkan sikap ta‘ashshub-nya. Ini hanyalah salah satu contoh pengaruh negatif ta‘ashshub. Selain contoh ini, Hamka juga menyebutkan contoh-contoh lain perpecahan yang timbul akibat sikap ta‘ashshub. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 3)

Pandangan Hamka terhadap Syiah dapat dibaca baik dengan bingkai besar ataupun bingkai kecil. Dalam bingkai yang lebih besar, sikap Hamka terhadap Syiah mewakili sikap kelompok mayoritas Ahlu Sunnah, yang lebih sering “membenarkan” daripada “menyalahkan” ijtihad yang berbeda.

Dalam bingkai yang lebih kecil, sikap Hamka menampilkan contoh dari respon alam pikir Muhammadiyah terhadap isu keragamaan internal umat Islam. Dengan demikian, walau tulisan ini menampakkan keterbatasan, jelaslah bahwa pemikiran Hamka, yang mencoba jernih dan berimbang dalam menyikapi perbedaan, dapat menjadi bahan atau pendorong dialog Sunni-Syiah yang coba dibangun oleh Muhammadiyah.

(Habis)

Sunni-syiah dalam Pandangan Buya Hamka; Sebuah Pengantar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *