Masa Lalu Kemanusiaan Indonesia

Buku Headline Laman Utama

Oleh Muhammad Yusuf el-Badri

Sebenarnya saya tak pantas untuk mengomentari karya seorang sastrawan sebesar Damhuri Muhammad. Sebab Damhuri, bukan sembarang sastrawan, ia juga sastrawan yang dengan segudang jam terbang dan pengalaman. Namanya barangkali berada di deretan nama besar sastrawan Indonesia. Ia aktif terlibat sebagai kreator sekaligus pembicara Festival Sastra Asia (ALF). Selain itu juga juri Khatulistiwa Literature Award (KLA), ajang penghargaan sastra bergengsi di Indonesia. Intinya, Ia adalah salah satu sastrawan besar Indonesia saat ini.

Meski begitu, ulasan dan komentar tentang Anak-anak Masa Lalu yang sudah tayang dari beberapa kritikus hebat, tak memenuhi hasrat saya ketika membacanya. Lalu merasa bahwa ulasan itu tak seperti yang saya pikir dan pahami setelah puluhan kali membaca cerpen Anak-anak Masa Lalu. Itulah alasan saya memberanikan diri untuk mengomentari cerpen Damhuri. Komentar ini khusus untuk satu cerpen Anak-anak Masa Lalu bukan satu buku kumpulan cerpennya. Semoga berkenan.

Kemanusiaan memang tidak berharga bila berhadapan dengan pembangunan. Atas nama pembangunan kemanusiaan harus dikorbankan. Setelah itu, ia akan dianggap sebagai kesuksesan atau sesuatu yang ‘keramat’ yang tak boleh diusik asal usulnya. Kalau ada yang berani mengusik, berarti ia sedang bertaruh nyawa. Lihatlah apa yang dialami oleh orang-orang yang mempertahankan tanah mereka ketika pemerintah hendak melakukan pembangunan di berbagai kota/kabupaten.

Beberapa bulan lalu misalnya, Jakarta sempat ramai oleh berita aneh ketika penggusuran pemukiman ‘terlarang’ di Jakarta. Salah satu rumah tidak dapat dirobohkan dan eskafator selalu mati ketika berusaha akan meruntuhkannya. Dalam waktu hitungan detik, rumah itu menjadi pembicaraan publik sebagai rumah keramat.

Publik langsung berkesimpulan bahwa rumah itu dilindungi oleh Tuhan karena dimanfaatkan untuk shalat berjamaah oleh pemiliknya. Setelah ditelusuri oleh media, akhirnya terbukti bahwa hal itu tidak lebih dari akal-akalan pemilik rumah agar tidak dirobohkan. Andai saja, media massa ketika itu tidak berinisiatif mencari tahu asal muasal cerita, tentulah akan ada mitos baru di tengah masyarakat metropolitan.

Tradisi pemitosan di masyarakat barangkali telah ada masyarakat tercipta. Dalam kisah jembatan Batangsinamar yang dalam cerpen Damhuri disebutkan bahwa ada pantang dan larangan yang diyakini masyarakat namun tak jelas asal usulnya. Jembatan itu menjadi jembatan yang penuh dengan misteri dan rahasia gaib. Mitos sebagai sebuah cerita mesti punya asal muasal.

Inilah yang dicoba ‘selidiki’ oleh Damhuri perihal Jembatan Batang Sinamar. bila tidak ingin celaka, jangan melintas di Jembatan Sinamar pada waktu-waktu lengang, apalagi tepat di saat berserah-terimanya ashar dan magrib”.

Pada paragraf lain “Siapa yang melintas pada waktu terlarang itu, bakal celaka. Bila tidak tabrakan beruntun, setidaknya kendaraan terguling lantaran kecepatan yang tak terkendali. Sejauh ini sudah tak terhitung jumlah korbannya”.

Masyarakat percaya bahwa ada hantu penghuni sungai Batang Sinamar yang mengganggu perjalanan setiap orang yang melanggar pantangan itu. Jika ada yang melanggarnya, maka ia akan memperoleh ganjarannya. Pengendara yang melewati jembatan di waktu larangan itu biasanya akan mengalami kecelakaan.

Meski terlihat seperti menulis kembali mitos Jembatan Sinamar, nampaknya Damhuri, melalui Anak-anak Masa Lalu-nya, sedang membangun kesadaran sejarah yang begitu dalam. Jembatan Sinamar tak harus dilihat sebagai mitos, tapi sebagai bukti sejarah masa lalu, yaitu sejarah pembangunan yang telah menelan korban anak bangsa. Hal ini terlihat dari ungkapan “lalu, di benak mereka, terbayang jasad anak-anak yang terjepit dalam jejaring beton bertulang”.

Tawaran ini bukan untuk mengutuk pemerintahan masa lalu itu, bukan. Hanya saja harus diingat bahwa ketika pembangunan digalakkan akan ada banyak nyawa yang dikorban dan kemanusiaan yang terabaikan. “Kalaupun ada kelemahan Alimba, itu hanya soal suara-suara gaib yang menyeruak dari setiap jembatan yang pernah dibangunnya. Suara gaib itu tak lain adalah suara kemanusiaan. Ketika sisi kemanusiaan terabaikan, maka ia akan hidup sepanjang waktu dan sejarah, tak seorang pun dapat menghentikannya.

Ketika pembangunan digalakkan hingga ke kampung-kampung, pada saat yang sama juga mengorbankan kemanusiaan. Paling tidak seperti itulah yang terbaca dari cerita. Ia menulisnya “Ah, apalah guna mutu, bila setiap bulan selalu menagih darah?” Kemanusiaan sejati akan terasa bila ada ruang bebas untu berfikir dan berpendapat. Hal ini kembali menimpa bangsa kita akhir-akhir ini. Semua atas nama pembangunan. Apakah itu pembangunan ekonomi, pendidikan, budaya dan juga demokrasi.

Kecuali itu, bagi media massa yang dianggap sebagai benteng terakhir kebebasan pun, kemanusiaan tak lagi berarti. Damhuri menggambarkan “Mereka dikabarkan hanyut saat menyeberangi sungai itu. Begitu hasil penerawangan batin para dukun yang melacak keberadaan mereka. Berhari-hari sungai Sinamar diselami, dari hilir hingga hulu, tapi mayat mereka tak ditemukan. Setelah semua daya-upaya dilakukan, akhirnya ketiga orangtua dari anak-anak yang hilang tak jelas rimbanya itu memercayai bahwa mereka telah diculik orang bunian.”

Pebangunan fisik dan material harusnya sebanding dengan pencerahan atau pembangunan kemanusiaan. Bahkan kian hari, pembangunan fisik inilah yang kian diinginkan dan dirindukan oleh masyarakat negara maju. Meski telah terbukti memakan korban sepanjang sejarah manusia. Kini kampung itu kembali gempar setelah tv dan koran-koran menayangkan kabar tentang seorang kontraktor proyek jembatan layang yang diduga sebagai otak di balik penemuan potongan-potongan tubuh mayat yang belakangan ini telah meresahkan.

Akhirnya, pembangunan masa lalu tak harus disesali tapi harus dilihat sebagai simbol sejarah perjalanan bangsa. Di mana ada pembangunan, maka yakinlah di situ ada kemanusiaan yang tergadai. Dan ini tak boleh lagi terjadi di masa datang. Apalah arti pembangunan bila nyawa manusia dipertaruhkan. Apalah arti demokrasi bila penjajahan terus terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *