Memahami Fenomena Hijrah

Islam Laman Utama Petuah

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

(Peminat Kajian Islam dan Kebudayaan di Simak Institute)

Kehadiran agama dalam kehidupan publik masyarakat Indonesia, kian hari kian tampak menguat. Sejak pilkada DKI, 2016 lalu, agama telah menjadi perbincangan harian dengan beragam topik. Banyaknya figur publik, selebriti dan politisi yang tiba-tiba tampil saleh, dekat dengan pemuka agama, rajin mengikuti pengajian, menunjukkan bahwa ghirah keagamaan masyarakat tengah meningkat.

Ragam pembicaraan warga internet (warganet) hampir tak lepas dari pesan keagamaan. Selalu ada kutipan ayat dan sabda Nabi saw yang muncul di lini masa dan grup media daring. Tetapi ketika datang bencana alam, mereka tak lupa pula membidik siapa berdosa sehingga bencana terjadi dan siapa pula yang bertanggung jawab atas bencana itu.

Bila musibah menimpa seorang pemuka masyarakat, anggaplah politisi atau pengamat, musibah itu kadang buru-buru dinyatakan sebagai akibat atas pernyataan-pernyataannya yang kurang tepat terhadap satu kelompok tertentu. Atau sebagai akibat menghina atau merendahkan satu item yang hidup dalam sebuah keyakinan beragama, seperti pemuka agama, kitab suci, amaliah atau yang lainnya.

Jangan lupa, bahwa bencana sering menjadi alasan untuk membenarkan sikap menghukumi seseorang atas perbuatan dan pilihan politiknya. Padahal tidak ada yang tahu secara pasti alasan terjadinya suatu bencana atau musibah selain penciptanya. Maka muncul pertanyaan besar, untuk apa mereka hijrah? Apa motif dibalik itu?

Mendadak Islam

Fenomena keberagamaan dan antusias masyarakat terhadap agama telah memunculkan sikap tiba-tiba serba ‘Islami’. Segala yang dianggap tak Islam, -menurut pemahaman mereka, harus disingkir dan dibersihkan. Tindakah ini tentu saja baik di satu sisi, dan kurang baik di sisi lain. Karena ada sebagian yang sebenarnya tak terkait agama dianggap sebagai bagian dari atau dipaksakan sebagai agama.

Sebaliknya sesuatu yang merupakan tradisi agama dianggap bukan tradisi agama. Maka munculnya penolakan tradisi sedekah laut, santri post-Islam, capres ulama misalnya, adalah efek dari sikap sekonyong-konyong ini.

Kenapa fenomena mendadak Islam menguat? Ada dua kemungkinan yang menjadi penyebabnya, pertama, umat Islam secara umum menjadi objek yang tertuduh sebagai radikalis dan anti Pancasila. Tuduhan yang berlebihan ini menjadi serius sejak dari gerakan demonstrasi penistaan agama di DKI Jakarta 2016.

Gerakan yang kemudian dikenal dengan 212 itu, sangat mungkin diinisiasi, dimotori dan diboncengi oleh kelompok ekstrem. Dan itu tak pula perlu disangkal karena terjadi dan ada dalam setiap gerakan demonstrasi. Tetapi memukul rata peserta gerakan 212 sebagai radikalis jelas tak dapat diterima. Karena tak semua peserta aksi terlibat dalam organisasi, dan berpaham, yang dalam dapat disebut sebagai radikal.

Kedua, sentimen politik anti Islam. Selain tuduhan radikal, yang tidak hanya sebagai isu dan debat kusir belaka, tetapi juga menjadi jargon kampanye politik adalah sentimen anti Islam. Jargon politik sentimen itu semakin meneguhkan sikap mendadak Islami.

Sentimen itu antara lain adalah pernyataan anti perda syariah, menolak poligami dari partai pendukung calon presiden. Sentimen inilah yang dilawan oleh masyarakat dengan menyatakan dukungan politik. Dukungan perlawanan yang tidak hanya datang dari sesama pemeluk agama, tetapi antar pemeluk agama. Dukungan itu semakin menegaskan keislamannya sebagai kekuatan politik.

Agama dalam Gerakan Sosial-Dakwah

Terlepas dari fenomena mendadak Islami di atas, ada pertanyaan yang mengganjal dan penting untuk dijawab, benarkah segala gerakan, sosial dan dakwah motifnya adalah agama? Atau sebaliknya, agama telah diperalat untuk kepentingan atau motif lain seperti kekuasaan, bisnis dan ekonomi, perdagangan, profesi dan popularitas? Kiranya kedua bisa terjadi dan masing-masing punya pelakunya sendiri.

Memang agak sulit memastikan yang sungguh-sungguh terjadi pada individu beragama. Karena hal itu hanya diketahui oleh  Tuhan dan pelakunya. Tetapi keduanya sangat mungkin terjadi, baik pribadi berbuat untuk kepentingan agama ataupun agama dijadikan komoditas untuk pribadi. Namun demikian gejala atau tanda-tandanya dapat dilihat.

Ketika agama dijadikan komoditas, agama akan dibentuk sesuai selera dan keinginan pribadi. Pemeluknya akan memaksakan kehendaknya dengan memodifikasi agama demi tercapainya tujuan ekonomi maupun politik. Kecenderungannya adalah mengada-ada hal yang tidak ada dasarnya, melebih-lebihkan hal sederhana, memberatkan hal yang ringan, mewajibkan atau mengaramkan hal yang dibolehkan.

Bila kepentingannya adalah politik praktis, maka agama akan dijadikan sebagai tameng kekuasaan, pelakunya akan dicitrakan sebagai orang saleh, juru bicaranya ditampil sebagai tokoh agama dan para pemuka  agama akan klaim sebagai pendukung. Kadang kelompok ini cenderung mewajibkan/mengharamkan hal yang boleh dilakukan. Lebih ekstrem lagi, mewajibkan/mengharamkan untuk memilih salah satu calon yang sedang berkompetisi.

Sementara bila kepentingannya adalah bisnis, maka produknya akan dilabeli dengan simbol keagamaan; ayat suci ditempelkan sebagai pengesahan, strategi penjualan, menjadikan pemuka agama sebagai bintang iklan. Segala tindakan akan dilakukan dan dilabeli dengan agama untuk mencapai keuntungan.

Demikian pula halnya dengan popularitas. Pelakunya akan berlindung di balik simbol keagamaan, memenuhi lini masa media sosial informasi aktivitas (seolah-olah) ibadah, agar popularitas dapat bertahan dan menanjak. Begitulah agama dikomodifikasi, diperjual-belikan dan dimanfaatkan untuk memenuhi kehendak pribadi.

Sebaliknya, ketika agama adalah tujuannya dalam bekerja, maka pekerjaan yang dilakukannya hanya pekerjaan yang dibenarkan oleh agama itu sendiri. Seorang pemeluk agama yang baik tidak akan mengotori perjuangan menegakkan agama dalam dirinya dengan tindakan buruk dan bodoh.

Bila tujuan agama adalah kebenaran, maka takkan adalah dusta yang disebarkan. Bila tujuan agama adalah keadilan sosial, maka gaya hidup konsumtif dan hedonisme tak bakal dimunculkan, baik dalam dunia nyata maupun dunia maya, ketika jutaan masyarakat Indonesia masih hidup dengan kemiskinan. Bila tujuan agama adalah menjaga nyawa manusia, maka takkan terjadi pertumpahan darah dan pembunuhan tanpa dasar.

Kiranya, di tengah semangat keagamaan yang memuncak, umat Islam perlu mengaca dirinya ke dalam. Untuk apa sebenarnya hijrah? Apakah hijrah dilakukan untuk mengikuti perintah Tuhan dan menyerahkan diri pada-Nya? Sehingga segala tindakan berdasarkan keinginan-Nya? Atau sebaliknya. Apakah hijrah dilakukan agar agama dan perintah Tuhan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi ambisi kekuasaan, ekonomi, dan popularitas? Kita semualah yang bisa menjawabnya.

Bila tersesat di tengah jalan, maka kembalilah ke pangkalnya. Tujuan agama dalam kehidupan masyarakat adalah menjaga ajaran agama itu sendiri, menjaga akal tetap sehat dan normal, menjaga jiwa agar tidak terjadi pertumpahan darah, menjaga harta agar terhindar dari kecurangan, pencurian, penipuan, menjaga keturunan agar tidak tumpang tindih.

Dalam bahasa sederhana tujuan agama adalah menciptakan keadilan, pengetahuan, peradaban, keadilan sosial, dan menjaga damai. Bila yang terjadi sebaliknya, bertindak semena-mena, kasar dan kekerasan, menyebar kabar dusta, terciptanya ketimpangan ekonomi sosial yang tajam, gaya hedonis dan konsumtif, alih-alih menolong agama, kita justru merusakkannya. Bila ini yang terjadi, hijrah akan sia-sia belaka.

 

sumber gambar; amrkhaled.net

Sunni-syiah dalam Pandangan Buya Hamka; Sebuah Pengantar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *