Memulangkan Aggota ISIS

Headline Laman Utama Opini

Kedatangan sejumlah turis asal China ke Indonesia (Sumatera Barat) di tengah merebaknya virus Corona membuat masyarakat cemas akan dampaknya yang berbahaya. Demikian pula dengan kepulangan warga Indonesia sendiri dari negeri tirai bambu itu ketika dikarantina di pulau Natuna, juga membuat masyarakat setempat takut dengan penyebarannya. Dalam bayangan masyarakat, bila mereka terdampak virus mematikan itu, mereka bisa tiba-tiba ambruk di jalan, dan mati.

Atas dasar ketakutan itu, masyarakat memprotes dan menuntut agar turis asal China segera dipulangkan. Sementara masyarakat dan pemerintah daerah pulau Natuna memprotes dan meminta kejelasan dari pemerintah pusat kenapa warga negara yang pulang dari negara sumber virus harus ditampung di daerah mereka. Ketakutan telah mendorong pemerintah dan masyarakat untuk bersepakat melakukan penolakkan.

Tetapi hal itu tidak terjadi dalam kasus rencana pemulangan warga asal Indonesia yang menjadi kombatan ISIS (Islamic State of Irak-Syria) di Suriah. Alih-alih bersepakat rencana pemulangan mereka justru menjadi perdebatan. Perdebatan ini terjadi menunjukkan dua kemungkinan, pertama, ini menunjukkan bahwa masih ada masyarakat Indonesia yang melihat bahwa aksi pelibatan diri dengan ISIS sebagai perjuangan agama bukan kejahatan, kedua, menunjukkan solidaritas kemanusiaan tanpa peduli bahaya yang mengancam.

Dari segi tingkat bahaya, ISIS tidak lebih berbahaya dari virus Corona yang mematikan itu. Virus ideologi ISIS tidak hanya dapat membunuh orang perorang tapi bisa melumpuhkan suatu negara berikut perdaban manusia yang ada di dalamnya.

Bila ada individu yang terdeteksi mengidap virus Corona, ia dengan segera dapat diisolasi, dikarantina dan diobati. Sebagai korban, ia akan menderita sendiri tanpa merusak lingkungan dan sistem sosial yang ada di sekitarnya. Sementara individu yang terjangkit ideologi teror ini, tidak hanya susah untuk dideteksi tapi akibat dari perbuatan penyandang ideologi teror ini juga sulit untuk disembuhkan kembali.

Keruntuhan suatu negara, rusaknya sistem sosial dan lenyapnya peradaban manusia adalah implikasi lebih dari perilaku pengidap virus terorisme. Inilah yang diderita oleh negara-negar timur tengah saat ini. Jadi dari segi waktu, akibat yang ditimbulkan oleh virus ideologi teror bisa memakan waktu puluhan tahun dan belasan generasi manusia.

Virus terorisme susah dideteksi karena keberadaannya terhubung dan berkelindan dengan kepercayaan dan pemahaman beragama. Virus itu tidak dapat dideteksi dari hal yang tampak secara lahiriah maupun melalui kuisioner. Penampilan lahiriah tidak bisa dijadikan ukuran suatu pemahaman, karena kulit tidak tidak selalu menentukan isi. Sedang jawaban kuisioner dapat diakali dan dimanipulasi untuk mencapai tujuan tertentu.

Akibatnya adalah negara bertindak dalam kebingungan, memukul rata semua kelompok beragama dan tak jarang salah memberi diagnosa virus teror ini. Sehingga wajar bila muncul tuduhan dalam masyarakat bahwa negara antipati terhadap agama tertentu.

Alasan Kemanusiaan, Apakah Masuk Akal?

Keberadaan warga asal Indonesia yang menjadi teroris di Suriah ibarat saudara kita yang atas keyakinannya  membunuh sekeluarga saudara kita yang lain, membakar rumah dan sawahnya. Setelah lelah membunuh, membakar rumah dan sumber penghasilan saudara kita yang lain itu, ia kehabisan tenaga dan terlunta-lunta. Ia kemudian meminta untuk dijemput. Karena iba, lalu kita menjemputnya untuk pulang ke rumah tanpa membersihkan darah bekas pembunuhan dan menanggalkan pisau dari tanganya.

Kita jemput ia tanpa melihat saudara kita yang lain yang menjadi korban pembunuhannya, tanpa melihat sawah dan ladang saudara kita yang lain yang hangus terbakar karena ulahnya. Pun tanpa melayat korban yang meninggal, tanpa basa-basi pada korban dan tanpa permintaan maaf pada keluarga besar yang menjadi korban. Alasanya adalah semata-mata karena kemanusiaan dan karena dia adalah saudara kita.

Pertanyaannya adalah apakah tindakan yang kita lakukan itu sungguh-sungguh manusiawi? Tidakkah dengan memulangkan pelaku pembunuhan dengan pisau di tangan berarti kita sedang menyiapkan bahaya untuk diri kita sendiri, anak-anak, dan rumah kita? Pertanyaan yang tak kalah penting adalah, adakah kemanusiaan berlaku pada pelaku pembunuhan?

Ideologi yang melekat pada pelaku teroris dan kombatan ISIS  ibarat pisau yang berada di tangan seorang yang suka pada pembunuhan. Dengan pisau itu ia akan membunuh siapa saja yang tidak bersepakat dengannya dan tidak mau membantunya untuk membunuh. Pemulangannya patut dipertimbangkan masak-masak.

Bila alasan pemulangannya adalah karena sebagian besar mereka adalah perempuan. Dan posisi mereka  adalah korban, ini sungguh mengada-ada. Latar belakang dari alasan ini jelas menafikan rasionalitas seorang perempuan. Para perempuan itu tidak mungkin mengikuti suami mereka tanpa pernah mempertanyakannya. Keberadaan mereka di sana dengan membiarkan atau mendorong suaminya berperang dan membawa serta anak-anaknya dalam bahaya perang tanpa protes, menunjukkan bahwa ia terlibat aktif dengan ideologi teror itu.

Lantas bagaimana dengan anak-anak yang tidak bersalah? Apakah mereka juga harus menderita karena orang tuanya terlibat sebagai teroris? Anak-anak tidak mungkin dipisahkan dari ibunya. Sementara ibunya tidak mungkin dipulangkan karena telah melibatkan diri sebagai pembantu dan setuju dengan gerakan terorisme. Dengan demikian, solusi yang akan ditempuh harus mempertimbangkan dua hal yakni agar keberadaan teroris tidak membayakan masyarakat, virus ideologi teror tidak menyebar dan pada saat yang sama negara dapat menyelamatkan anak-anak yang tidak berdosa.

Isolasi atau Tidak Sama Sekali

Sebagaimana virus Corona yang berbahaya, virus teror bisa pula menyebar dengan cepat melalui sentimen agama yang sedang tumbuh karena politik dan simpati pada teroris yang dipulangkan itu. Kepulangan para teroris-ISIS ini tidak mungkin sepi dari pemberitaan. Dari pemberitaan itu akan selalu ada berita yang memprovokasi pembaca untuk bersimpati. Dengan demikian pemulangan teroris itu tidak perlu menjadi tunggangan politik pencitraan.

Terkait keinginan teroris ISIS asal Indonesia untuk pulang kembali ke Indonesia, saya memandang hanya ada dua pilihan, pertama, pemerintah Indonesia mengabaikan keinginan itu. Lebih mempertimbangkan keselamatan 271 juta rakyat Indonesia daripada ratusan orang yang berbahaya itu. Alasannya adalah karena mereka telah meninggalkan Indonesia secara sadar dan sukarela untuk suatu tujuan negara mereka yang baru. Hanya saja kebetulan negara impian mereka itu tidak terwujud. Andai negara impian itu terwujud mereka pasti tidak akan menginginkan lagi Indonesia, bahkan bisa jadi sebaliknya, merekrut sebanyak-banyaknya orang Indonesia untuk memerangi Indonesia atas dasar kepercayaan.

Pilihan keduanya adalah, karena mereka terlunta-lunta dan pasrah negara impian tidak terwujud, mereka berharap dapat kembali pulang. Atas dasar iba Indonesia berencana memulangkan mereka. Karena bahaya yang mereka bawa, kepulangan mereka mesti ditampung di satu tempat yang jauh dari masyarakat sebagai bentuk isolasi dan karantina. Di tempat itu mereka harus berada di bawah pengawasan ketat negara dan pembinaan keagamaan yang memadai dengan tetap menjamin kesejahteraan dan pendidikan anak-anak mereka.

Meskipun dengan isolasi ini tidak menutup kemungkinan adanya penyebaran virus ideologi teror pada masyarakat dan bakal terbentuknya kekuatan ISIS baru di Indonesia. Hal ini mengingat posisi sebagai anggota ISIS yang kalah dalam perang bukan mantan ISIS, karena mereka tidak pernah menyatakan keluar dari ISIS. Dengan jumlah sedemikian banyak, ISIS bisa tumbuh dari Indonesia bila proses karantina gagal dilakukan.

 

Gambar; Video Tirto.id