Meneladan Muhammad, Sang Rasul Allah

Islam Kolom Mahasiswa

Oleh Habiburrahman (Ketua Litbang KMM Ciputat)

Bulan Rabiul Awwal setiap tahunnya diperingati sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad saw. Mayoritas Ulama mengatakan bahwa memperingati kelahiran Nabi saw adalah kebaikan. Sebab peringatan tersebut merupakan upaya mengkaji ulang nilai-nilai dari sejarah kelahiran Muhammad Saw.

Selain itu, banyak hal penting yang bisa diambil pelajaran yaitu tentang sosok nabi Muhammad itu sendiri. Salah kaprah dan keliru jika momen tersebut hanya upacara makan-makan saja sambil bersukaria serta melupakan hakikat peringatan tersebut. Kelahiran Nabi Muhammad Saw. itu bisa kita jadikan sebagai bentuk mengingat kembali kepribadian Muhammad untuk diteladani.

Dekadensi kedamaian
Hal ini amatlah penting agar setiap Muslim memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara paripurna, yang tercermin di dalam kehidupan Nabi Muhammad saw. Tidak berlebihan jika hal itu dikatakan karena melihat kondisi umat saat ini yang mudah dihasut, mudah menghina, membalas kejahatan dengan kejahatan dll. Padahal nabi Muhamamad sendiri tidak pernah mengajarkan hal yang demikian.

Memang belakangan ini, umat Islam dihebohkan dengan adanya penghinaan terhadap simbol agama. Kita boleh jengkel dan marah terhadap berbagai penghinaan yang ditujukan kepada keyakinan kita, tapi kemarahan dan kejengkelan tersebut cukuplah berada dalam hati dan pikiran kita, tanpa harus dilampiaskan. Agama mengajarkan kita bagaimana bersikap terhadap hal tersebut.

Kepribadian Nabi Muhammad saw
Kehidupan Nabi Muhammad Saw. merupakan contoh yang mulia. Sebagai pembawa ajaran, dalam aktivitas dakwahnya, Ia menyeru kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik. Beliau hanya tersenyum dan mendo’akan orang-orang yang telah menghina dirinya.

Sejarah mencatat bagaimana sikap Rasulullah Saw. ketika dilempari batu di kota Tha’if, beliau hanya berdo’a untuk kebaikan penduduk kota tersebut di masa datang dan menolak tawaran malaikat Jibril yang akan menghancurkan kota tersebut sebagai hukuman terhadap penduduknya yang telah melempari beliau.

Sejarah juga menceritakan bagaimana sikap Rasulullah saw ketika dihina oleh seorang pengemis buta, tetapi setiap hari itu pula beliau selalu menyuapinya hingga akhir hayatnya. Atau bagaimana Rasulullah Saw. menjadi orang yang datang paling pertama untuk menjenguk seorang Yahudi yang tengah sakit, padahal si Yahudi tersebut adalah orang yang paling membenci dan memusuhi beliau.

Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan untuk berperilaku dan berucap tidak senonoh, atau menyinggung hal yang sensitifitas orang lain, terlepas apakah itu dilakukan dengan atau tanpa alasan yang “valid”. Nabi Muhammad menyeru pengikutnya untuk mengedepankan sopan santun, integritas, dan sensitivitas melalui pengendalian diri -nilai-nilai yang mencakup sifat memaafkan, kesabaran, kebenaran, ucapan yang baik, dan perbuatan yang baik.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa beliau pernah disebut gila, pembohong, dan seorang penipu. Terhadap itu semua, Nabi Muhammad tidak pernah membalas atau menyerukan supaya mereka diserang. Tidak ada ruang dalam Islam untuk menanggapi penghinaan atau penghujatan dengan kekerasan. Nabi Muhammad Saw menghadapi penghinaan dan membalasnya dengan ucapan yang sabar, tenang dan kata-kata hikmah.

Jadi pada dasarnya nilai-nilai inilah yang harus digali kembali melalui peringatan maulid Nabi ini. Dengan demikian makna maulid Nabi bagi umat Islam adalah sebagai sarana untuk memupuk dan menanamkan kecintaan kepada Nabi saw dengan mengingat kembali dan meneladan akhlak serta kepribadian beliau yang damai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *