Mengulang Kebangkitan Ulama Abad XVIII

Feature Footer Kolom

Muhammad Julkarnain

Rumah Transformasi Indonesia

 

Abad delapan belas menjadi momentum penting kebangkitan ilmu dan ulama. Kesadaran ini muncul bersamaan dengan tekanan kolonialisme yang memosisikan pribumi sebagai kaum terjajah (inlander) atau masyarakat kelas dua, bahkan bagi muslim nusantara yang melakukan pengembaraan ilmiah di jantung peradaban Islam, Haramain.

Situasi ini setidaknya tergambar oleh ujaran Snouck Hurgronje, seorang orientalis Belanda: Murid-murid dan ulama Jawi ini telah berpuluh-puluh tahun belajar dan tinggal di tanah suci, mereka tetap saja tidak mampu berbahasa Arab dengan baik, lidah Melayu mereka tidak mampu mereka ubah” (Azra 2007: 115).

Kondisi ini diperparah dengan letak geografis nusantara di batas terluar pusat perkembangan Islam, sehingga Islam di kepulauan nusantara sering pula disebut sebagai Islam pinggiran (periphery Islam). Selain itu, sikap bernada underestimate ini juga merujuk pada rendahnya produksi karya-karya keilmuan disebabkan kolonialisme pada rentang waktu 1600-1942 (Federspiel 1996:2). Dua data yang masih bisa diperdebatkan?

Intensifikasi Ilmu dan Amal

Dalam sudut pandang penganut materialisme historis, manusia diposisikan sebagai insan sejarah yang menjadi pelaku dan pencipta sejarah baik berskala besar atau kecil (Muchsin 2002: 51). Dari pandangan ini, penulis akan mengurai sekaligus mengkritisi dua tesa yang diajukan Snouck dan Federspiel tentang rendahnya kompetensi intelektual dan minimnya karya ulama Nusantara. Bagian ini akan mendiskusikan dua hal tersebut.

Kolonialisme nusantara abad delapan belas memang menjadi isu utama bagi intilegensia Muslim pada waktu itu. Keadaan terjajah berhasil menciptakan tekanan-tekanan di tengah mayarakat nusantara. Namun, bagi ulama-ulama nusantara, tekanan-tekanan itu tidak dihadapi dengan kepasrahan, bahkan dari penjajahan itulah muncul sintesa intelektual dan gerakan-gerakan anti kolonial.

Hal inilah barangkali yang disebut dengan al-Jabr al-Tarikhi (determinisme historis) menjadikan alam dan faktor sosial-lah yang mempengaruhi tindakan, seperti yang dilakukan oleh ulama nusantara abad 18 atas agresi Belanda saat itu.

Beberapa contoh konkret gerakan ulama untuk melawan agresi militer Belanda adalah dengan menghembuskan ide jihad fi sabilillah melalui kemunculan karya Syaikh ‘Abdus Shamad Palembang berjudul Nasihat Al-Muslimin wa Tadzkirat Al-Mu’minin fi Fadha’il Al-Jihad Fi Sabilillah wa Karamat Al-Mujahidin fi Sabilillah.

Karya ini ditulis menggunakan Bahasa Arab dengan tujuan pembaca intelektual dan pemimpin keagamaan berpengaruh dengan maksud perseberan yang lebih luas di Nusantara dan dunia Islam lainnya. Perlu dicatat bahwa karya ini pulalah yang menjadi inspirasi bagi Perang Sabil Cik Di Tiro di Aceh. Hal ini tentu saja menandai arti penting tentang hubungan ulama Nusantara di Haramain dengan tanah air sekaligus menjadi bukti yang cukup untuk menjelaskan sekaligus membantah sindiran Snouck dan Federspiel tentang ulama di kepulauan nusantara.

Tidak hanya itu, ulama nusantara abad delapan belas juga telah berhasil mendorong intensifikasi upaya pengajaran Islam di wilayah asal masing-masing. Pada abad kedelapan belas ini, perkembangan-perkembangan menjadi salah satu ciri menonjol dalam sejarah jalannya Islam di Nusantara.

 

Di antara ulama-ulama pada abad ini adalah:  Syihab Al-Din bin ‘Abd Allah Muhammad, Kemas Fakhr Al-Din, ‘Abd al-Shamad al-Palimbani, Kemas Muhammad bin Ahmad, dan Muhammad Muhyi Al-Din bin Syihab Al-Din, selanjutnya adalah Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Muhammad Nafis Al-Banjari dari Kalimantan Selatan; ‘Abd Al-Wahhab Al-Bugisi dari Sulawesi; ‘Abd Al-Rahman Al-Mashri Al-Batawi dari Batavia, dan Dawud bin ‘Abd Allah Al-Fatani dari wilayah Patani (Thailand Selatan), mereka secara sosial maupun intelektual dalam jaringan ulama yang kesemuanya merupakan ulama paling penting di Nusantara pada abad kedelapan belas (Azra 1994: 243).

Fakta ini memosisikan tokoh-tokoh tersebut sebagai al-Mufakkir al-Jamahiri (pemikir masa) dengan pengalaman intelektual kosmopolit yang juga terlibat aktif memberikan pengaruh penting bagi masyarakat nusantara.

Momentum Kebangkitan

Setiap fase sejarah memiliki masalah krusial yang berbeda-beda, penjajahan secara fisik dan psikologis adalah contoh konkret yang dihadapi oleh masyarakat nusantara. Keadaan-keadaan penuh tekanan disikapi oleh ulama dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan amal lahiriah untuk membangun kesadaran perlawanan atas intimidasi. Strategi yang cukup berhasil membangun kesadaran masyarakat muslim nusantara pada masa itu.

Perkembangan dan kebangkitan ulama nusantara abad delapan belas patut menjadi contoh bagi banyak pihak hari ini untuk menyikapi ketidakpercayaan diri (inferiority complex) sebagian masyarakat yang cenderung “bersumbu pendek” dan mudah diprovokasi. Dalam posisi ini, ulama harus mengambil peran penting, membangkitkan kesadaran dengan ilmu, teladan dan gerakan dengan cara-cara baru.

Ulama harus turun gelanggang melepaskan diri dari stagnasi intelektual atau, seperti yang diistilahkan (Fazlur Rahman 1994: 176) sebagai sikap laissez faire/ hanyut dalam kekuatan-kekuatan baru dan melarikan diri ke masa lampau yang tampak lebih mudah dan cepat memuaskan secara emosional. Keterlibatan ulama harus menjadi solusi bagi setiap permasalahan, kebangkitan di bidang keagamaan, sosial, ekonomi yang dipelopori oleh ulama adalah sebuah keniscayaan.

Gambar; Generasisalaf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *