Menjadi Guru Bangsa

Petuah

Oleh Habiburrahman
(Ketua Bidang Litbang KMM Ciputat 2015/2016)

Berapa jumlah guru yang masih hidup?” tanya Kaisar Jepang sesaat setelah terjadi atom di tanah Jepang.

Kisah itu beredar luas. Bisa jadi itu mitos, tetapi narasi itu punya konteks yang valid: pemimpin ”Negeri Sakura” itu memikirkan pendidikan sebagai soal amat mendasar untuk bangkit, menang, dan kuat. Ia sadar bukan alam yang membuat Jepang menjadi kuat, melainkan kualitas manusianya. Pendidikan jangan pernah dipandang sebagai urusan sektoral. Pendidikan adalah urusan mendasar bangsa yang lintas sektoral. (Anies Baswedan, Kompas, 28/11/13).

Pendidikan merupakan ruhnya sebuah bangsa. Jika bangsa tidak terdidik, bangsa itu adalah bangsa yang mati, hanya menjadi bangsa materialistik. Akibatnya bangsa itu tidak memiliki nir-etika dan amoral. Semua diperbuat hanya untuk kepentingan pribadi, mengaktualisasikan diri dengan kesembongan dan keegoisan. Pendidikan hadir sebagai ruh yang mengerakkan bangsa menuju kecerdesan, mengaktualisasikan potensi dan bakatnya dan memaksimalkan kontribusi komulatif sepanjang hidup mereka.

Agar inti dari pendidikan itu bisa terwujud maka hal yang tidak kalah pentingnya adalah manusia guru. Guru merupakan kunci utama dan inti dari proses pendidikan. Guru memiliki peran untuk menciptakan bangsa yang hebat karena, dari sosok seorang guru telah tergambar bagaimana Indonesia kedepanya. Kalau guru berkualitas dapat menentukan kualitas bangsa ke depan.

Dewasa ini, pendidikan Indonesia banyak melahirkan orang siap pakai dan orang pintar bukan orang terdidik. Bukan hanya sekedar tuduhan yang tidak beralasan, tetapi mari kita lihat bahwa yang membuat malu negara ini adalah kaum terpelajar yang bergelar sarjana. Merekalah tokoh menjadi aktor pemeran dalam dunia perkorupsian, penyuapan, pelecehan, dan masih banyak lagi.

Melihat fenomena ini, ada dua kemungkinan yang menjadi penyebabnya. Pertama, sistem pendidikan itu sendiri yang salah arah. Sistem pendidikan formal Indonesia, kalau kita lihat tak ubahnya hanya seperti lembaga pelatihan.Akibatnya mereka pintar tapi tak memiliki jiwa pangayom dan menjadi pemimpin bagi masyarakat. Semakin mereka pintar semakin bodoh dalam bersosial. Pendidikan yang belum terpola, belum ada mampu melahirkan orang yang berpikir kreatif, dan liar.

Kedua, guru yang telah gagal dalam memanusiakan mereka. Cerminan bangsa kita hari ini, semenjak dari elite sampai rakyat kecil yang merupakan produk  guru adalah manusia yang tidak mampu  bersikap jujur, berpikir sehat dan adil. Kita tidak memilki sosok guru bangsa. Guru bangsa adalah orang-orang yang mampu memengaruhi suatu bangsa hingga menembus seluruh dimensi kehidupan.

Bagaimana menjadi Guru Bangsa?

Setiap orang memilki tugas dan tanggung jawab untuk menjadi manusia guru, menciptakan orang terpelajar dan pemimpin-pemimpin bangsa yang baru.

Seorang guru adalah pelayan bagi murid-muridnya. Jangan sampai guru mejadi pelatih militer yang mendoktrin para muridnya untuk patuh sepatuhnya bak prajurit patuh kepada komandan. Ini akan membuat  kejumudan dalam proses   belajar. Semestinya siswa mampu bereksprimentasi mengembangkan pola pikirnya secara bebas di bawah bimbingan guru.

Membangun jiwa bangsa itu tidak hanya dapat dengan membangun raga bangsa. Guru harus mengkristalkan kembali tujuan pendidikan yang sebenarnya. pendidikan bukan hanya sekedar pengajaran dan pelatihan, guru bertugas melahirkan pemimpin sejati yang akan membuat perubahan bagi bangsa ini bukan menciptakan para manajer yang siap pakai. Dewasa ini seorang  guru harus mampu melihat ke depan dan siap mengatasi tantangan masa depan.

Guru harus memahami visi mendasar dari pengajaran itu, yaitu mendampingi manusia sedini mungkin untuk memanusiakan dirinya. Sebagaimana kata Ki Hajar Dewantoro “Tut Wuri Handayani”,  seorang guru adalah aktor intelektual yang selalu berada dibelakang layar yang membuat para muridnya menjadi pemeran utama di pentas kehidupan ini.

Adrians Harefa dalam bukunya Menjadi Manusia Pembelajar mengusulkan tujuh kriteria dasar menjadi guru bangsa.

Pertama, mereka adalah orang-orang yang melepaskan kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok, dan organnisasi promodialnya untuk mengabdi dalam kancah perjuangan untuk kepentingan sebuah negara bangsa dan bahkan manusia universal.

Kedua, perjuangan mereka mesti dilandasi oleh semangat anti kekerasan karena amat mencintai perdamaian, meski adakalanya sangat sulit untuk dihindari.

Ketiga, mereka secara konsisten melandaskan  sikap hidup dan perbuatannya pada keyakinan nurani( faith, conscience) dan  bukan hanya pada ilmu pengetahuan (ratio) maupun kerja keras. Karena itu mereka mendemontrasikan integritas moral secara amat meyakinkan, meski tak selalu sempurna dan rela mengobarkan dirinya untuk mempertahankan hal itu (fidele a la mort).

Keempat, karena sikap hidup mereka selalu diarahkan dari dalam (conscience, faith), maka tiga hal dasar yang selalu menjadi fokus mereka adalah kebenaran, keadilan dan cinta kasih yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya.

Kelima, pusat perhatian mereka tidak hanya menciptakan suatu negara kebangsaan, tetapi labih dari itu, menciptakan komunitas masyarakat manusia yang memperlakukan dan diperlakukan semanusia mungkin.

Keenam, dalam setiap perjuanganya mereka tidak menganggap kedudukan, harta dan kekuasaan sebagai tujuan akhir, tetapi lebih menganggap semua itu sebagai sarana untuk semua maksud mulia.

Ketujuh, perjuangan mereka secara langsung maupu tidak langsung, selalu melahirkan dan menumbuhkembangkan pengharapan masyarakat manusia yang lebih manusiawi di masa mendatang. Dengan demikian mereka sesungguhnya  menabur tanpa henti benih-benih kehidupan masyarakat bangsa dan umat untuk masa yang akan datang.

Berdasarkan tujuh kriteria tersebut, guru bangsa adalah manusia langka untuk saat ini. Dahulu kita memilki Soekarno, Hatta, Hamka, TJokroaminoto, Syahrir, M Yamin, Ki Hajar Dewantara, Tan Malaka, Natsir; untuk menyebut beberapa nama saja. Merekalah yang pantas menerima gelar guru bangsa. Mereka mampu memengaruhi seluruh kehidupan komunal tidak hanya kelompok dan dari diri mereka termanifestasi ketujuh kriteria tersebut. Kita berharap lahirlah guru-guru bangsa selanjutnya tidak hanya dari kalangan guru, dosen tetapi kita semua memiliki potensi dan harus menjadi manusia guru agar bangsa kita menjadi bangsa yang berkualitas dan bermartabat.

Selamat Hari Guru Nasional…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *