Menyingkap Fenomena Cadar di Indonesia

Editorial Islam Kolom

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Awal April lalu pembicaraan tentang cadar menjadi ramai. Masalah ini muncul dimulai dari ‘kasus’ mahasiswi bercadar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Disusul ‘kasus’ dosen bercadar di IAIN Sjech Djamil Djambek Bukittinggi. Kasus cadar di IAIN Bukittinggi hampir saja mereda, namun ramai kembali, ketika Sukmawati menyinggu cadar dalam puisinya dan membandingkannya dengan konde Ibu Indonesia.

Cadar memang menjadi fenomena baru dalam kehidupan beragama umat Islam Indonesia lebih kurang 10 tahun terakhir. Dua-tiga tahun terakhir, cadar bahkan memasuki dunia fesyen dan menjadi trend berbusana perempuan muslim Indonesia serta sudah menjadi ‘pandangan umum’ masyarakat di kota maupun desa.

Dilihat dari aspek perkembangan Islam kontemporer, fenomena cadar tampak ‘aneh’, karena terjadi di Indonesia pada saat negara Islam Timur Tengah, sedang berupaya untuk bersikap maju dan moderat. Lebih aneh lagi, hal ini terjadi ketika Arab Saudi yang terkenal sebagai negara yang ketat dan konservatif dalam aturan beragama (berislam), meninggalkan tradisi cadar tersebut. Belakangan ini muslim Timur Tengah memandang bahwa cadar adalah tradisi yang dipertahankan untuk membatasi perempuan dari kehidupan publik.

Islam Indonesia, alih-alih tetap terus bergerak membangun peradaban Islam yang maju, moderat dan ramah budaya, dalam beberapa kasus menampakkan sikap surut dan mundur. Indikasi itu ada beberapa hal, salah satunya adalah dengan menjadikan bentuk dan model pakaian sebagai simbol kesalehan seseorang dalam beragama. Meskipun hal itu tidak sepenuhnya salah, tetapi cara berpikir seperti ini adalah imbas dari berpikir literal-lahiriah. Dan cara berpikir ini dalam Islam tidaklah berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan ideologis.

Dan dalam prakteknya secara budaya, cara pikir seperti ini selalu terkait erat dengan fenomena berpikir benar-salah, muslim-kafir, saleh-munafik, halal-haram, bahkan Islam-Barat dan oposisi binner lainnya, yang sebenarnya hanya bagian kecil dari tradisi Islam tak lazim itu.

Hal yang menarik dari fenomena cadar ini adalah perbedaan perlakuan dan sikap, terhadap pengguna cadar. Kita tahu bahwa belakangan ini juga ramai perbincangan tentang perempuan bercadar yang memelihara banyak anjing. Pengguna cadar itu dicitrakan sebagai perempuan baik. Sementara yang lain dianggap sebagai puritan. Kenapa?

Kenapa Baru Sekarang?

Sebenarnya, sebelum cadar ini menjadi begitu fenomenal, ada kelompok masyarakat muslim yang memakai cadar di Indonesia, tapi tidak dicitrakan sebagai ungkapan kesalehan, melainkan sebagai kelompok dengan pemahaman tertentu. Ketika cadar menjadi ‘masalah baru’ sekaligus objek perdebatan muslim Indonesia lintas kelompok dan mazhab, itu berarti bahwa fenomena cadar telah terjadi secara merata.

Pertanyaannya adalah, kenapa baru sekarang pemakaian cadar dipersoalkan? Penjelasan yang paling masuk akal adalah karena kian hari gerakan Islam puritan (kalau tidak ekstrem) terasa kian meluas di Indonesia, sehingga menyeret simbol-simbol yang ‘tak biasa’ hadir dalam Islam di Indonesia. Cadar salah satu dari banyak simbol keberislaman yang tak biasa itu.

Selain itu, fenomena cadar baru-baru ini tampaknya tidak hanya sebagai ekspresi murni dari iman tapi juga telah menjadi simbol sebuah gerakan baru Islam. Karena dalam sejarah peradaban muslim cadar pernah memiliki posisi penting sebagai indentitas. Satu hal yang pasti, fenomena pemakaian cadar tak bisa dipukul rata sebagai bagian dari gerakan Islam puritan, apalagi radikal dan ekstrim.

Asumsi umum tentang fenomena cadar di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga kategori yakni cadar sebagai sebagai fenomena budaya yang dipengaruhi oleh tradisi Arab (Timur Islam), cadar sebagai ideologis dan gerakan politik dan cadar sebagai gaya hidup. Untuk menjelaskan tiga hal ini, diperlukan penelitian lebih khusus untuk menjelaskannya, terutama dalam konteks Islam Indonesia.

Cadar dalam Ragam Sudut Pandang

Dalam banyak kajian, cadar pada dasarnya adalah pakaian yang netral dan bebas dari keyakinan dan ideologi apa pun. Hal ini antara lain, karena cadar telah ada, bahkan sejak sebelum Islam datang (masa jahiliah), sebagaimana diungkap olehYahya Al-Jabburi (1989) dalam Malabis al-Arabiyah fi Ash-Shi’r Al-Jahili (Pakaian Orang Arab dalam Puisi Jahiliah). Dalam bukunya itu disebutkan, jenis pakaian orang dan bentuk pakaian orang Arab dalam puisi, dan cadar (niqab) adalah salah satunya. Ini berarti bahwa cadar adalah pakaian yang sangat mungkin digunakan oleh setiap orang, tanpa dibatasi oleh keyakinan agama apapun.

Untuk melihat fenomena cadar di Indonesia, agaknya penelitan yang dilakukan oleh Fadwa El Guindi (1999) tentang Jilbab, menjadi relevan untuk dikembangkan. Dalam banyak studi, baik studi etnografi tentang pakaian, maupun kajian tentang perempuan, Jilbab merupakan objek kajian yang tak terpisahkan dari cadar. Dan cadar dalam studi ini menjadi bagian dari Jilbab dalam arti luas.

El Guindi menyebutkan bahwa Jilbab (termasuk cadar) sebagai fenomena, berfungsi sebagai penyampai pesan sosial dan budaya, sebagai simbol fundamental yang bermakna ideologis, sebagai bagian dari kesalehan dan resistensi. Dengan demikian, tesis El Guindi dapat ditarik untuk menelaah fenomena cadar belakangan ini.

Cadar dalam kehidupan beragama, paling tidak dapat pula dilihat dari dua sudut pandang, yakni dalam perspektif feminis, dalam studi Kajian Perempuan, cadar dilihat sebagai bagian dari unsur ideologi patriarkhi. Ia dipahami sebagai simbol dari keterbelakangan, penindasan dan subordinasi terhadap perempuan. Sehingga kehidupan perempuan menjadi eksklusif dan terbatas.

Sementara dalam perspektif etnografi, cadar merupakan identitas daerah, sosial ekonomi dan agama. Sehingga cadar menjadi simbol struktur dalam kehidupan sosial-kultural dan nilai kesalehan beragama. Dalam kasus Indonesia, ada paradigma baru dalam beragama bahwa semakin tertutup pakaian seorang perempuan maka ia akan semakin saleh dan mulia.

Berdasarkan pandangan di atas, maka fenomena cadar di Indonesia hanya ada dua kemungkinan; Pertama, cadar sebagai gerakan sosial-politik. Sebagai gerakan sosial-politik, kelompok ini cenderung pada sikap politik tertentu. Ia akan mendukung sikap politik yang menguntungkannya dan berlaku sebaliknya, akan melawan kelompok yang meminggirkannya.

Dalam kesehariannya, mereka yang memakai cadar sebagai gerakan sosial dan politik, ini membentuk iklim moralitas menjadi ‘Islami’, sekaligus membedakan diri dari masyarakat arus utama dan mereka yang tidak bercadar, baik dalam hal sikap maupun pergaulan. Orang yang tidak bercadar akan dinilai kurang Islam dan kurang sempurna dalam beragama.

Cadar dalam hal ini juga merupakan bentuk perlawanan terhadap pikiran sekuler dan nilai-nilai Barat. Bagi mereka hanya orang sekuler dan pro Barat yang tidak sepakat dengan cadar. Gerakan ini biasanya menjadikan kampus sebagai basis gerakan.

Kedua, cadar sebagai tradisi. Sebagai tradisi cadar dipakai untuk membedakan diri dari laki-laki, cadar dipakai berdasarkan usia dan kebutuhan dan suasana tertentu dalam masyarakat dan kadang juga sebagai bagian dari keimanan. Cadar dipahami sebagai pertahanan diri sendiri dan penghormatan pribadi. Tetapi dalam konteks ini, cadar tidak membatasi diri dari berkomunikasi antar jenis, masyarakat, dan nilai-nilai tertentu.

Dengan demikian, fenomena cadar di Indonesia tidak dapat digeneralisasi sebagai gerakan radikal, ekstrem maupun ideologi tertutup. Karena tak semua pemakai cadar membawa beban gerakan politik. Meski begitu kita tetap perlu mawas diri. Semuanya bisa terjadi kapan dan dimana saja, termasuk gerakan politik radikal yang mengancam keutuhan bangsa Indonesia. Karena embrio dari gerakan radikalisme, ektrem dan teroris telah pernah terjadi dan pernah ada. Wallahu A’lam

Penulis adalah Intelektual Muda Persatuan Tarbiyah Islamiyah,
Aktif di Simak Institute (Lembaga Studi Islam dan Kebudayaan)

Sumber Gambar; Youtube

Sisi Lain Transformasi Arab Saudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *