Okki Setiana Dewi Beruntung Masuk UIN Jakarta

Feature Footer Kolom

Oleh Muhammad Yusuf el-Badri

Kabar Okki Setiana Dewi melanjutkan studinya tidak seheboh kabar penolakan masyarakat terhadap profesinya sebagai Ustazah yang dianggap mematok bayaran.

Kini Okki adalah mahasiswa Program Doktor di UIN jakarta dengan konstentrasi lintas disiplin. Dulu teman saya pernah bilang, bahwa Anna Altafunnisa -yang diperankan Okki- itu hebat Bahasa Arab dan Inggrisnya. Tapi setelah hasil tes di umumkan ada nama Mbak Okki remedial bahasa Arab dan inggris.

Santai aja Mbak, teman angkatan saya saja waktu remedia bahasa Arab banyak juga kok yang alumni Timur Tengah. Meski mereka menetap di Timur tengah lebih dari lima tahun tapi tetap remedial kok bareng saya.

Begitu juga dengan teman saya, mahasiswa doktor angkatan saya alumni Universitas di Barat, sudah berkali-kali pula ke luar negeri, tetap saja mereka remedial.

Kabar Okki masuk UIN Jakarta ternyata sampai ke kampung halaman. Sehingga suatu kali, teman saya bicara, katanya, “Kamu beruntung bro, kuliah di universitas yang ada artisnya”

“Lho kenapa begitu” saya balik bertanya

“Ya gimana ndak beruntung, jarang-jarang di kampung kita ini ada orang kuliah di tempat para artis kuliah” katanya menjelaskan.

“Kamu ini gimana sih, harusnya yang beruntung itu ya Okki-nya. Bukan saya”

“Kenapa gitu bro?”

“Ya jelas donk, meski pun S2, saya masuk Sekolah Pascasarjana UIN duluan dari Okki. Jadi yang beruntung itu Okki bro. Dia kuliah di kampus saya kuliah”.

Mungkin yang kurang beruntung adalah teman saya, Rengga Satria. Karena sebagai peminat cerita Islami, dia tidak sempat bertemu dengan tokoh Anna Altafunnisa dalam film Ketika Cinta bertasbih (KCB).

Padahal saya yakin betul, Ia sering memimpikan untuk memperistri Anna. Tapi apa boleh buat, buah tinggi tangan tak sampai. Apalagi setelah Anna Altafunnisa (Okki Setiana Dewi) sudah menikah benaran. Kabar menikahnya Okki benar-benar membuat Rengga patah hati. Meskipun dia tak pernah cerita tapi saya bisa memahaminya. Bagaimana ndak patah hati, Okki yang berperan sebagai Anna dalam film KCB itu sangat menarik hati.

Ingat nggak, ketika ada adegan Kiyai Lutfi bertanya soal pernikahan Anna? Kira-kira kata Kiyai Lufti begini, “Nduk, Abah mau ngomong sama kamu” katanya agak serius.

“Ngomong apa Bah, Ya monggo” Jawab Anna lembut dan singkat sambil tetap sibuk dengan kitab dan laptopnya.

Nah, adegan ini benar-benar menyayat hati para lelaki manapun. Ia berperilaku layaknya perempuan idaman setiap laki-laki. Lembut, ramah dan keibuan.

Untuk mengobati rasa kecewanya, Rengga, teman saya itu akhirnya beralih ke drama Korea. Mungkin ia satu-satunya Magister Pendidikan Agama Islam pencinta Drama Korea. Bahkan sangat mungkin juga sekarang ia mengoleksi ratusan episode drama Korea. Kalau tidak percaya, silakan periksa laptopnya.

Sorri Rengga, cokimu  saya buka sedikit di sini. Tapi kamu harus bangga bro! Namamu saya sebut dalam tulisan ini. Bukan sembarang tulisan lho. Ini artikel khusus saya tulis dalam keadaan berwuduk.

Oh ya, saya harus kembali lagi ke sesuai judul tulisan. Kenapa Okki saya anggap beruntung masuk UIN Jakarta? Bukan hanya karena saya kuliah di UIN Jakarta, tapi karena UIN Jakarta  adalah kampus yang sarat misi keislaman dan keindonesiaan. Kampus yang menjadi inspirasi setiap Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia.

Kampus UIN juga kampus yang mengajarkan kedewasaan berpikir tentang hal agama, sadar akan perbedaan-perbedaan dalam Islam. Baik perbedaan mashab fikih, tasawuf, politik bahkan juga pemikiran Islam.

Profesor Azra menyebut Islam seperti ini sebagai Islam Wasatiy, Islam warna warni. Islam yang mengedepankan sikap menghargai segala bentuk perbedaan pendapat, Islam yang toleran dan ramah terhadap agama lain. Bukan Islam yang gemar dengan kekerasan, mencela, menghujat orang yang berbeda paham, mashab dan agama.

Barangkali, kalau Ahmad Wahib masih hidup sekarang ini, saya yakin ia akan kembali mendaftar sebagai mahasiswa UIN Jakarta. Sebab Islam yang ada di UIN saat ini bukan hanya ada Islam menurut Abduh, Tan Malaka, Agus Salim, Natsir atau Hamka tapi Islam seperti yang diinginkan Ahmad Wahib yaitu Islam yang menaungi semuanya.

Sehingga jangan heran kalau di UIN Jakarta para alumni HMI, IMM dan PMII bisa bersekutu dalam membangun Islam. Meskipun di tingkat mahasiswanya tetap saja bertengkar soal kuasaan. Ya di mana-mana HMI, PMII dan IMM kan memang tidak ada yang berdamai untuk berebut kuasa Presiden Mahasiswa, Senat Fakultas dan lain-lain.

Dan juga, hanya di UIN Jakarta orang Muhammadiyah dan Perti atau Tarbiyah sering ngopi bareng, bermandan (berpasangan) ketika main Koa atau Ceki. Pemandangan yang mungkin saja mustahil ditemukan di kampung saya. Sebab di kampung saya, orang Muhammaddiyah dan Perti atau Tarbiyah sibuk berkelahi memperebutkan jabatan Rektor Perguruan Tinggi. Dan pemenang akan menghabisi rezim lawan, bertarung lagi dan menghabisi lagi. Begitu setiap pemilihan Rektor.

Dengan demikian, adalah wajar UIN Jakarta belakangan ini menjadi salah satu kiblat Perguruan Tinggi Islam di Indonesia. Sebab Indonesia saat ini membutuhkan Islam yang ramah, toleran dan menghargai perbedaan.

Jadi, permirsa yang budiman, itulah sebabnya, Okki saya anggap beruntung kuliah di UIN Jakarta karena ia akan mengenal Islam warna warni. Meskipun kelak ia tetap berprofesi sebagai selebritis penceramah, warnanya akan berbeda. Tidak lebay dan garing seperti da’i seleb kebanyakan. Dan Okki sebagai penceramah akan berkoribusi besar dalam menjaga kehidupan beragama masyarakat Indonesia dengan menyebarluaskan ide Islam Wasatiy, Islam yang ramah dan toleran.

Selanjutnya, melalui tulisan ini saya ingin sampaikan juga, kalau Mbak Okki nanti kuliah dengan Prof. Suwito, harus hati-hati. Saya bukan menakuti-nakuti ya Mbak Okki yang baik, tapi mengingatkan saja. Oh ya, mengingatkan dengan menakut-nakuti ndak sama kan?

Hal yang perlu saya ingatkan adalah soal basa basi dengan Prof. Suwito. Setelah bertanya kabarnya, (biasanya kalau bertemu dengan seseorang tanpa ada pasangan di sampingnya, orang akan bertanya –meski sekedar basa-basi, Ibu mana Pak/Prof/Ustad dan lain-lain.

Nah, untuk yang satu ini, bila bertemu dengan Prof. Suwito, Mbak Okki jangan tanya “Ibu mana Prof?” Kenapa saya sarankan supaya tidak bertanya soal ini? Sebab anda akan malu sendiri, ketika Prof. Suwito jawab “Lho, kan Ibu saya sudah meninggal”. Lalu beliau akan tertawa cekikikan.

Setelah itu anda akan sadar sendiri, bahwa pertanyaan anda salah dan sedang berhadapan dengan Prof. Wito. Sekedar anda ketahui, Prof. wito adalah orang memperhatian kedisiplin berbahasa. Hampir setiap kesempatan, ujian, kuliah atau yang lainnya beliau selalu membahas soal penggunaan bahasa.

Ya, namanya memperhatikan kan ke orang lain bukan ke diri sendiri. Sama halnya dengan PDIP saat jadi oposisi. Ketika mereka tidak berkuasa alias oposisi, mereka selalu bicara membela rakya dan mengkritik pemerintah tidak pro rakyat, pemerintah tidak mendengar suara hati rakyat dan lain Nah ketika PDIP menjadi penguasa PDIP juga tidak mendengar suara rakyat yang minta Menteri Puan diganti.

Maksud saya adalah Prof. Wito bukan orang yang selalu benar saat ada mahasiswa salah berbahasa. Beliau juga pernah keliru ketika mengundang koleganya. Katanya acara peluncuran buku Auto Biografinya. Setelah para undangan datang dan menunggu-nunggu, ternyata hanya acara pembagian buku Auto Biografi. Tidak ada buku Auto Biografi yang diluncurkan. Ya jelas, buku mana bisa meluncur. Emang roket buatan China? Yang meluncur lalu gagal. Ya nggak lah.

Selain ada, ada hal yang tak kalah penting saya sampaikan dan Mbak Okki tidak boleh lewatkan selama kuliah di UIN Jakarta. Ini sangat subjektif dan menurut pandangan saya pribadi. Apa itu? Ikut ambil mata kuliah Jender dengan Prof. Nasarudin Umar, Perubahan Sosial dengan Prof. Bambang Pranowo dan Ilmu Komunikasi dengan Prof. Andi Faisal Bakti.

Setelah itu terserah Mbak Okki. Saya yakin setelah kuliah dengan beliau-beliau itu, materi ceramah Mbak Okki akan berubah dan tidak akan ada lagi yang masyarakat yang menghujat-hujat profesi dakwah Mbak Okki.

Para akademisi pun akan angkat topi dan Mbak Okki akan semakin dipandang sebagai tokoh muslimah muda yang berpengaruh. Tapi jangan lupa ya Mbak, kalau nanti semakin padat jadwal ceramah di berbagai kampus dan televisi, ingat saya juga. Karena essai ini saya tulis dua mingguan lebih lho. hehe

Oh ya Mbak Okki, kalau materi ceramah anda nantinya ‘berubah’, siap-siap untuk dicap liberal. Sebab tak sedikit para guru besar UIN ini dianggap liberal, sekuler dan syiah oleh orang-orang lebay. Padahal UIN ini juga gudang pakar Tafsir seperti Prof. Quraish Shihab, Prof. Nasarudin Umar, Prof..Yunan, Prof. Salman Harun. Ada banyak juga pakar Hadis seperti Prof. Said Aqil Munawwar, DR. Abdul Wahhab. Juga pakar Sejarah Islam seperti Prof, Azyumardi Azra, Prof. Amani Lubis. Tak sedikit pula pakar Pemikiran Islam seperti Komarudin Hidayat, Prof. Aziz Dahlan, dan ada juga pakar Tasawuf seperti Prof. Yunasril Ali.

Intinya di UIN Jakarta ini banyak pakar dan guru besar di bidang keislaman. Jadi, kan aneh bila UIN disebut sebagai kampus liberal oleh orang-orang tidak tamat Iqra’ dan bahkan yang tidak bisa baca kitab kuning pun ikut-ikutan juga mengatakan yang mereka tidak tahu.

Oleh karena itu Mbak Okki maklum saja, bahwa masyarakat kita sedang dilanda pubertas agama. Orang kampung saya bilang, puberty of religion. Apalagi kalau nanti Mbak Okki memperkenalkan diri sebagai Doktor lulusan UIN Jakarta.

Waduh, akan semakin gawat Mbak. Orang-orang tak tamat Iqra’ akan semakin leluasa menghujat. Apalagi jamaahnya Jonru atau umatnya Erdogan. Terakhir, pada Mbak Okki saya ucapkan selamat bergabung di UIN Jakarta. Sampai jumpa di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.

Catatan: Coki adalah bahasa gaul anak-anak Minang yang berarti rahasia. Istilah Coki diadopsi dari permainan kartu Koa di Minangkabau atau Ceki di Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *