Orang Minang, (Bukan) Orang Baper

Petuah Slide Atas

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Sejak pemerintahan Jokowi-Jk di mulai, ada gejala kebangsaan dalam ruang kecil yang mengemuka, yaitu Keminangkabauan. Di mana segala seuatu dihadapi dengan sentimen keminangkabauan itu. Suatu fenomena yang tidak pernah terjadi sejak awal kemerdekaan.

Hal ini dapat dibuktikan dari banyak buku yang ditulis oleh pemikir dan ulama yang berasal dari Sumatera Barat, tidak ditemukan kalimat yang mengagung-agungkan Minangkabau. Mereka berpikir besar tentang Indonesia dan Islam, tentang demokrasi dan ekonomi, tentang politik dan peradaban.

Alih-alih memupuk semangat keminangkabauan, mereka justru menjadi petarung satu sama lain dengan pikiran yang beragam dan siap uji. Tan Malaka berjuang dengan pikiran proletarnya, Natsir dengan gagasan Islam dan syari’atnya, Hatta dengan semangat demokrasi ekonomi dan federalistiknya, Syahrir dengan ideologi sosialisnya. Mereka menanggalkan baju Minangkabaunya untuk Indonesia, yang di dalamnya rakyat menderita. Mereka memilih jalan berbeda untuk tujuan yang sama yaitu memerdekakan bangsanya yang terjajah.

Pada masa-masa perjuangan yang keras itu, bahkan setelah Indonesia merdeka, ketika satu di antara mereka ditahan, dibuang dan dipenjara, baik oleh penjajah maupun pemerintah Indonesia, tak satu pun dari mereka menyebut “ada orang Minang dikriminalisasi, dilecehkan dan sebagainya. Kenapa? Karena mereka berjuang bukan untuk dan atas dasar Minangkabau, tapi untuk bangsa Indonesia.

Demikian pula ketika Hamka dipenjara oleh penguasa, tak ada sebutan penangkapan Hamka untuk memalukan orang Minangkabau, seperti yang sering kita dengan selama 2014-2016, ketika ada orang Minang diangkat jadi menteri, lalu dipecat. Atau seperti ketika ada tokoh asal Minangkabau yang ditangkap KPK karena korupsi.

Sentimen ini tidak hanya terjadi di saat-saat tokoh asal Sumatera Barat dirundung malang, tapi juga ketika ada tokoh lain mempersembah prestasi untuk Indoesia. Sebut saja misalnya, ketika Indra Syafri berhasil membawa piala AFF untuk Indonesia.

Ketika itu, masyarakat ramai-ramai menepuk dada, Indra Syafri itu membanggakan Minang, orang ini, orang itu. Bahkan ia diundang oleh komunitas Minangkabau di perantauan, tidak lain adalah untuk menonjolkan keminangakabauannya.

Setelah itu, tiba-tiba saja akhir-akhir ini, Bakhtiar Nasir, sebagai orang yang dianggap berani mengkriti pada pemerintah, langsung pula dikait-kait dengan dengan Minangkabau. Ia menantu si ini, suami si anu, menantu orang ini dsb. Lama saya merenung memahami gejala ini, sambil bertanya apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan masyarakat Minangkabau?

Saya menduga rasa keminangkabauan ini menjadi mencolok merupakan warisan dari orang-orang yang mengalami kekalahan perang melawan pemerintah pada masa  PRRI. Dan memang banyak pengamat dan penulis sejarah mencatat bahwa pasca kekalahan PRRI orang Minangkabau tidak berani menampakkan diri di pentas nasional.

Konon, perubahan pada masyarakat Minangkabau tidak hanya terjadi pada sikap rendah diri tapi juga berpengaruh pada pemberian nama anak-anak Minang yang lahir beberapa tahun setelahnya. Sehingga lahir anak-anak Minangkabau dengan nama-nama ‘aneh’. Untuk masa-masa selanjutnya bahkan hingga saat ini, baper keminangan masyarakat semakin meningkat tajam.

Warisan orang-orang kalah ini harus segera ditinggalkan atau kita akan terus hidup dengan sikap baper yang berlebihan. Sikap yang akan membentuk generasi Minangkabau menjadi orang-orang yang fanatik tanpa kecerdasan yang bisa dibanggakan.

Sehingga tidak heran bila kini, kita temukan sebahagian dari masyarakat Minangkabau menjadi penganut romantisme akut, sehingga mereka mengungkit-ungkit dan mengenang masa-masa indah Minangkabau tempoe doeloe, sebagai penenang jiwa dan penghibur diri.

Sementara yang lain sibuk membangga-banggakan keminangannya dengan segala yang mungkin bisa disangkutkan dengan Minangkabau. Padahal waktu tidak pernah berputar kembali ke belakang dan kehidupan masa yang akan datang tidak dibangun berdasarkan etnis, suku, agama dan bangsa tapi dengan pikiran yang luas dan keberanian bersaing.

Oleh karena itu, bagi generasi baru Minangkabau, tak ada cara lain untuk mengatasi peradaban global selain menumbuhkan kembali budaya hidup berani bersaing, berani berdialektika, berpikir rasional dan tidak cengeng. Karena budaya baper tidak akan melahirkan orang-orang cerdas. Sebaliknya hanya akan membentuk kita picik, sempit bahkan sesat dalam berpikir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *