Parpol Islam di Indonesia Kini Tinggal Nama

Laman Utama Liputan

JAKARTA–Partai politik berbasis agama tidak menjadi pilihan utama bagi umat Islam dalam menyalurkan aspirasi politik dan pilihannya. Hal itu terbukti sejak pemilu 1999 sampai pemilu 2014 tidak ada partai Islam yang menang dalam pemilu. Berbagai faktor menyebabkan partai politik berbasis agama kurang mendapatkan efek dari pemilih umat Islam. Selain itu kecenderungan selama ini posisi umat Islam hanya dijadikan vote Getter atau sekedar mendapatkan dukungan tanpa disertai dengan program yang nyata dalam membela kepentingan umat Islam.

Hal tersebut merupakan buah dari kebijakan yang secara sadar dan tidak telah dilakukan oleh ideolog partai yang menjadikan lambang Islam sekedar nama belaka sebagai alat pengumpul suara.

Maka trend umum yang terjadi sejak kebebasan politik diperoleh pasca tumbangnya Orde Baru adalah, Parpol dengan basis agama, khususnya Islam hanya meminjam label agama kepada ummat demi mendapatkan kekuasaan.

Setelah didapat, partai-partai tersebut tidak mampu atau malas mewujudkan amanah serta janji-janji yang diucapkan saat masa pemilihan berlangsung. Saat ini yang membedakan partai Islam di Indonesia dengan parpol lain, hanya pada nama dan simbol belaka.

Demikian benang merah dialog publik “Arah Politik Umat Islam 2018 dan 2019” yang diselenggarakan Lembaga Studi Keislaman dan Kebudayaan SIMAK Institut Sabtu malam (20/1/2018) di Ciputat Tangerang Selatan Banten dengan nara sumber peneliti CSIS Arya Fernandes, Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago dan Irwan Natsir dari Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung.

Menurut Arya Fernandes ada beberapa faktor yang menyebabkan partai berbasis agama dalam hal ini partai Islam kurang mendapat dukungan atau pilihan dari umat Islam. “Secara akal sehat mayoritas penduduk Indonesia muslim harusnya partai Islam yang mendapatkan dukungan politik yang terbesar. Tapi kenyataannya tidak seperti itu.” katanya .

Dari pemilu 1999 yang diadakan paska reformasi sampai pemilu 2014 tidak ada partai Islam yang menang dalam pemilu. Kenapa? Program yang ditawarkan partai Islam tidak ada perbedaan dengan partai nasionalis. Program nya sama saja sehingga tidak ada perbedaan dari aspek ini.

Faktor lain input aktor partai Islam mengalami kemandegan. Kaderisasi tokoh tokoh di partai Islam mandeg dibandingkan dengan partai nasionalis. Selanjutnya saat ini isu isu masalah agama kurang mendapatkan respon dari pemilih. Bahkan dalam dua pemilu terakhir tidak ada lagi isu masalah agama yang muncul.

Menurut Arya Fernandes, faktor lain penyebab suara umat Islam tidak ke partai Islam adalah ada konflik di tubuh partai Islam yang menimbulkan imej kurang baik. Kemudian para aktivis organisasi mahasiswa Islam tidak menjadikan partai Islam untuk tempat aktivitas politik mereka. “Banyak sekali faktor yang menyebabkan dukungan politik umat selama ini tidak kepada partai Islam” ujarnya

Hal senada disampaikan Pangi Syarwi dari Voxpol Center. Menurutnya partai Islam tidak menjadi kekuatan dominan dan terbukti perolehan suara partai Islam tidak pernah menang dalam pemilu.

Masalah lain kata Pangi tidak adanya tokoh partai Islam yang bisa menaikkan suara partai mereka. Padahal pengaruh tokoh partai cukup berpengaruh dalam menaikkan perolehan suara dari masyarakat atau pemilih. Hal ini terbukti tidak munculnya ketua partai politik Islam yang menjadi calon presiden. “Paling paling hanya jadi calon wakil presiden dan itupun menawarkan kepada partai lain untuk berkoalisi,” katanya.

Sementara Irwan Natsir dari Harian Pikiran Rakyat melihat selama ini posisi umat Islam baru sebatas memberikan dukungan politik dan hanya menjadi vote Getter saja. Setelah dukungan diberikan tidak pernah diketahui apakah partai politik yang didukung benar benar memperjuangkan kepentingan umat Islam.

Di tingkat pilkada gubernur, Bupati dan walikota di sejumlah daerah ada partai politik Islam yang menang dan berkuasa. Namun pertanyaannya apakah setelah menang dan berkuasa memperjuangkan kepentingan umat Islam?

Kata Irwan Natsir jika ditelisik lebih jauh dari program program kepala daerah yang berasal dari partai Islam ternyata program yang dilaksanakan bersifat umum dan tidak ada yang secara khusus berkaitan dengan kepentingan umat Islam. “Inikan cukup ironis. Kenapa kepala daerah yang berangkat dari partai Islam tidak memperjuangkan kepentingan umat. Sehingga dukungan umat yang diberikan menjadi tidak sia sia, ” ujarnya.

Fenomena yang terjadi ada kecenderungan ketika berkuasa lebih mengedepankan kepentingan kelompok, kepentingan partai. Bukan lagi kepentingan umat secara keseluruhan.

Sementara itu Direktur Eksekutif SIMAK Institut Budi Johan mengatakan acara dialog publik yang diadakan untuk merespon situasi politik menjelang pilkada 2018 dan pemilu 2019. “Kita ingin lihat bagaimana arah politik umat Islam ke depan,”katanya.

Kliping Berita
Sumber Breaking NEws

https://breakingnews.co.id/read/parpol-islam-di-indonesia-hanya-tinggal-nama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *