Pekerjaan Rumah Para Perempuan

Slide Atas

“Dia akan melawan anak laki-laki? Dia tidak akan bertahan sampai dua menit, Paman”. Kata Omkar pada Mahavir, ketika Mahavir merencanakan pertandingan gulat lumpur untuk Geeta Kumari, anak perempuan sulungnya.

Apa yang dikatakan oleh Omkar dalam film Dangal (2016), merupakan representasi pikiran masyarakat dalam memandang perempuan. Di mana perempuan adalah orang yang lemah di hadapan laki-laki. Banyak hal yang diperuntuk oleh dunia hanya untuk laki-laki saja. Bagi dunia, perempuan adalah satu hal dan profesi adalah hal yang lain.

Pada akhirnya, anak perempuan bukanlah ukuran yang sebanding dengan anak laki-laki. Sehingga mereka dididik hanya untuk menjadi pelayan rumah tangga dan dilahirkan hanya untuk melahir. Anak perempuan sama sekali tidak berhak punya masa depan dalam menentukan hidupnya.

Bahkan hak untuk menentukan pendamping hidup sekalipun  ada di tangan laki-laki. Paling tidak begitulah gambaran kenyataan perempuan dalam masyarakat yang hidup dengan budaya patriarki. Budaya yang oleh Nawal El Saadawi disebut sebagai budaya eksploitasi dan perbudakan manusia.

Adalah Mahavir Sigh, sebagai laki-laki sekaligus ayah, berada di seberang pemikiran dunia yang menganggap lemah anak perempuan. Cerita berawal ketika Mahavir ditunggu oleh dua orang tua di desa Balali, negara bagian Haryana, India, membawa dua laki-laki yang babak belur karena perkelahian. Mahavir mengira bahwa pelakunya adalah Omkar, anak saudaranya.

Istri Mahavir lalu menimpali bahwa dua anak laki-laki yang babak belur itu adalah hasil makan tangan Geeta dan Babita. Melihat hal itu, Mahavir meyakini bahwa anak-anaknya bukan perempuan ‘biasa’, tapi ada darah gulat yang mengalir dalam tubuhnya.

Setelah mendengar cerita dari anak-anaknya, bagaimana dua anak laki-laki desa Balali itu bisa cedera kena tangan Geeta dan Babita, Mahavir menyadari bahwa anak perempuan tidaklah berbeda dengan laki-laki. Ia kemudian menyiapkan anak-anaknya menjadi pegulat profesional.

Suatu pilihan berat, yang tidak pernah terjadi sebelumnya bahkan di Haryana, negara bagian India. Sebab gulat menurut masyarakat hanya diperuntuk bagi laki-laki bukan perempuan. Mahavir bersikeras saat pilihan itu ditantang oleh sang istri. Ia dengan penuh yakin mengatakan “kau pikir anak-anak kita lebih lemah dari anak laki-laki?”

Upaya Mahavir Sigh memperlakukan anak-anak perempuannya seperti anak laki-laki tidak hanya mendapat tantangan dari sang Istri, tapi juga masyarakat luas. Ia dianggap sebagai ayah yang tidak tahu malu dan gila karena mendidik anak-anak perempuannya sebagai pegulat  bukan tukang masak.

Ia juga ditolak oleh komunitas gulat ketika menyerahkan anaknya untuk ikut  berlatih, dengan alasan bahwa anaknya adalah perempuan. Dan melibatkan mereka dalam dunia gulat dan bertarung dengan laki-laki bahkan dipandang sebagai kesalahan besar dan dosa. Memisahkan perempuan dan laki-laki dalam dunia yang berbeda, menurut Nawal adalah cara laki-laki mempertahankan kuasanya.

Tantangan berat masyarakat untuk membentuk tatanan sosial yang setara antara  laki-laki dengan perempuan adalah ketakutan orang tua bahwa anak perempuan yang menyamai laki-laki dalam banyak hal, baik kecerdasan, profesi dan keberaniannya, bukan alasan laki-laki memilih pasangan hidup. Karena kecenderungan masyarakat (baca;laki-laki) dalam memilih pasangan hidupnya adalah mencari perempuan yang bisa dikuasainya.

Kondisi ini juga yang mengkhawatirkan istri Mahavir, agar Mahavir berhenti mendidik anak-anaknya menjadi pegulat. Istrinya berkata; “siapa yang akan menikahi putri kita?”. Pertanyaan ini adalah hal yang wajar dalam masyarakat patriarki. Karena laki-laki, kata Nawal tidak bisa mengendalikan perempuan cerdas dan berpengalaman.

 

Perempuan yang cerdas adalah ancaman terhadap struktur kelas patriarki yang kemudian akan berubah menjadi ancaman kedudukan palsu yang ditempati laki-laki sebagai setengah dewa dalam kaitannya dengan perempuan. Sehingga membiarkan perempuan tetap bodoh dan lemah tidak lain dari cara mempertahankan pernikahan sebagai lembaga yang dibangun atas dasar ekspoitasi.

Mahavir berpendirian lain, ia tidak menempatkan anak-anak perempuannya sebagai objek dalam masyarakat. Tetapi sebaliknya, Mahavir memandang bahwa perempuan adalah juga subjek yang berhak menentukan hidup dan masa depannya sendiri tanpa bergantung pada pihak lain. Ia mengatakan; “Aku anak mendidik anak kita menjadi hebat. Mereka tidak akan memilih putri kita (sebagai istri). Tapi putri kitalah yang memilih mereka.”

Tanpa memandang perempuan sebagai subjek yang mandiri dan hidup dalam masyarakat maka, takdir perempuan ada pada masyarakat. Seperti dikatakan Sunita ketika Geeta dan Babita mengeluhkan perlakuan ayahnya, Mahavir, yang memaksa mereka untuk jadi pegulat.

Sunita berkata;“(sendainya seorang ayah tidak memikirkan masa depan anak perempuannya), maka takdir kita telah dimulai sejak seorang perempuan dilahirkan. Saat remaja ia akan diajarkan memasak dan bersih-bersih. Lalu memaksanya melakukan seluruh tugas rumah tangga. Setelah dewasa, dia akan dinikahkan untuk mengurangi beban orang tuanya. Perempuan lalu menyerahkan hidupnya pada laki-laki yang sama sekali belum dikenalnya. Lalu ia akan melahirkan anak beruang dan membesarkannya. Karena semua itu adalah tugas seorang perempuan.”

Pandangan dunia inilah yang coba dilawan oleh Mahavir Sigh, sebagai ayah. Ia tidak menghendaki dunia yang memandang lemah perempuan. Barankali, atas dasar itu pula, ia terus berjuang untuk anak-anaknya dan berhasil mengantarkan mereka menjadi juara gulat nasional India.

Dua anak perempuan Mahavir itu, Geeta dan Babita juga membuktikan bahwa perempuan mempunyai peluang yang sama dengan laki-laki. Karena menjelang menjadi juara Gulat nasional India, Geeta dan Babita telah mengalahkan banyak laki-laki pegulat di daerah asalnya. Geeta anak sulung Mahavir akhirnya menjadi pegulat perempuan pertama India yang menjuarai Commontwealth Games 2010.

Apa yang dilakukan oleh Mahavir semakin jelas terlihat dalam pesannya pada Geeta menjelang pertarungannya dalam perebutan gelar juara Commontwealth Games gulat perempuan. Mahavir mengatakan bahwa perjuangan Geeta adalah perjuang untuk perempuan India.

Ia melanjutkan, “Jika kau menang besok, kau takkan sendirian. Jutaan gadis India anak menang bersamamu. Kemenangan itu juga akan menjadi kemenangan semua perempuan yang dianggap lemah dari laki-laki. Perempuan yang dipaksa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Juga perempuan yang dinikahkan untuk membesarkan anak-anak. Jadi pertarungan besok bukan hanya melawan Angelina -pegulat asal Australia- tapi melawan orang-orang yang menganggapmu lemah.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *