Penyejuk Menjelang Demo 4 November

Opini

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Demo 4 Novermber nanti telah membuat masyarakat tegang dan was-was. Berdasarkan informasi kepolisian, negara dalam status Siaga I. Tak sedikit pula masyarakat yang mencemaskan akan terjadinya peristiwa kekerasan etnis 98. Sebagian lainnya mencurigai adanya kelompok radikal ISIS yang ikut menumpang dalam gerakan demo aksi bela  agama.

Pasca surat internal Brimob beredar, satu persatu langkah antisipasi rusuh mulai terjadi. Langkah awal antisipasi dimulai oleh Presiden dengan mengundang sejumlah petinggi ormas Islam, NU, Muhammadiyah dan MUI. Selain itu, Presiden Joko Widodo juga melakukan diplomasi berkuda di kediaman Prabowo. Tak lama berselang Presiden dua periode pun ikut mendinginkan suasana menjelang demo 4 November.

Oh ya, Persatuan Tarbiyah (Perti-Tarbiyah) kok nggak di undang presiden ya? Hmm Presiden Jokowi Jahat. Persatuan Tarbiyah (Perti-Tarbiyah) kan juga ormas Islam terbesar yang punya masa seluruh Indonesia…kata pengurusnya sih begitu.

Dalam suasana panas-dingin menjelang demo 4 November nanti, ada yang menarik perhatian saya. Pastinya bukan diplomasi berkuda atau lebaran kuda. Karena Presiden agak tegang ketika menunggangi kuda putih Pak Prabowo. Dan untuk pak Prabowo sendiri, saya jujur tidak tahu. Apa masih bisa tegang atau tidak. Teman-teman sendiri kan maklum, Pak Prabowo sudah biasa naik kuda.

Hal yang saya maksud adalah kehadiran Pak SBY. Kemunculan Pak SBY yang menurut saya, mengganggu fokus masyarakat yang sedang konsentrasi menyimak berita demo 4 November. Orang-orang yang sedang bersemangat untuk jihad membela akidah, tiba-tiba menjadi gagal fokus karena Pak SBY ‘mengeluh’. Untung saja beliau tidak menyebut ‘saya prihatin karena dituduh menghilangkan TPF Munir’.

Kali ini, yang mengemuka dari pak SBY adalah semangat ketentaraannya, yakni lebih tegas dan berani. Hanya saja yang membuat saya sakit perut  dan pusing selama dua hari ini adalah bahasa Inggrisnya. Come on Baby.

Dari temuan saya, yihaa sok KPK ya saya. Yang Otete terus itu lho. Berita yang saya temukan ada beberapa kalimat yang membuat saya pusing antara lain; Pak SBY bilang, saudara-saudara, berbahaya jika di sebuah negara ada intelijen ‎failure, intelijen error .

Pertanyaan saya, Pak SBY mau kasih keterangan pada siapa sih harus pakai bahasa Inggris segala? Emang banyak orang Barat ya yang meliput kemarin?

Kalau tujuannya pada Pak Jokowi, emang Pak SBY nggak tau kalau Presiden kita sekarang lebih suka bahasa Indonesia dari pada bahasa Inggris? Dan bahkan kalau ada pertemuan Internasional pun beliau menugaskan wakil presiden. Saking ndak sukanya pakai bahasa Inggris. Bukan ndak bisa bahasa Inggris lho pak. Tapi karena nggak suka.

Saya katakan, apa susahnya sih, Pak SBY bilang, Saudara-saudara, berbahaya jika di sebuah negara ada intelijen gagal dalam bertugas dan bergalat memberi informasi.

Dengan kalimat seperti itu, masyarakat mengerti, kalau kekacauan informasi dan berita karena intelijen yang bermasalah.

Kalimat kedua yang saya baca diberita, katanya ucapan Pak SBY, “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan, I tell you”. Membaca kalimat terakhir ini, saya pikir, untung saya tidak mendengar langsung konferensi pers ini.

Sebab kalau saya mendengar langsung, saya akan menjawab dengan tegas, fuck you men. Kalimat ini adalah jawaban yang disampaikan oleh salah seorang teman asal luar negeri, ketika saya mengatakan, I tell you dalam sebuah diskusi kampus.

Dalam diskusi itu saya katakan bahwa mereka harus belajar bahasa Indonesia untuk kuliah sebagaimana orang Indonesia juga harus belajar bahasa Inggris ketika kuliah di negeri mereka. Dan mereka tidak boleh bicara selama diskusi kalau bukan dalam bahasa Indonesia.

Tentu saja saya menjelaskan dalam bahasa Indonesia. Di ujung pembicaraan saya bilang, I tell you. Mendengar penjelasan saya, lalu ia jawab, Fuck you men. Sambil tersenyim saya menjawab, thank you.

“Ternyata dia (teman saya itu) paham maksud saya”, pikir saya waktu itu.

Jadi pak SBY, kalau bapak sudah capek pakai bahasa Indonesia, jangan merasa sebagai sebagai mantan presiden Indonesia lagi. Sebab mahasiswa baru akan nyengir sambil bilang, hmm nggak nasionalis bingit tuh presiden dua periode. Apalagi yang presiden cuma tiga tahun.

Selain itu, tetangga juga akan berujar, orang yang di karantina dalam barak tentara nasional Republik Indonesia belasan tahun (mungkin puluhan tahun) dan besar di tubuh TNI sampai pangkat jenderal saja masih tidak menghargai bahasa Indonesia sebagai pemersatu apalagi orang biasa.

Untuk terakhir kali saya ingin bertanya, apa benar yang pernah menjadi Presiden Indonesia dua periode adalah Pak SBY, yang kemarin datang ke kantor Menkopolhukan dan Wakil Presiden?

Atau jangan-jangan SBY yang menjabat Presiden sejak 2004 sampai 2014 telah berubah menjadi Agus yang sekarang menjadi calon gubernur DKI. Dan kalau nanti memenangkan pemilihan gubernur, berarti SBY dengan tubuh Agus yang akan mengatur Jakarta lima tahun ke depan.

Sementara yang datang menemui Pak Wiranto adalah Agus dengan tubuh SBY. Sehingga tampak lebih berani dan anak muda. Lagi pula dalam konferensi pers kemarin, tidak ada kata prihatinnya, jadi ndak Pak SBY banget.

gambar; beritasatu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *