Penyitaan Buku Mau Sampai Kapan? Lebaran Kuda?!

Editorial Laman Utama

oleh Muhammad Yusuf el-Badri

Bencana penyitaan buku terjadi lagi. Kali ini di Probolinggo. Diberitakan bahwa dua orang pegiat pustaka jalanan dari komunitas Vespa Literasi, masing-masing Muntasir B (24) dan Saiful A (25), diperiksa polisi Sabtu, 27/7, malam. Keduanya diperiksa terkait buku-buku yang dibawanya.

Ya seperti biasa, alasannya sudah bisa ditebak, karena membawa buku-buku yang ada bau komunisnya. Sabtu malam itu ada empat buku yang disita, yakni (1) Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara, (2) Sukarno, Marxisme dan Leninisme: Akar Pemikirian Kiri dan Revolusi Indonesia, (3) Menempuh Jalan Rakyat, (4) D.N Aidit, Sebuah Biografi Ringkas D.N Aidit.

Buku-buku itu disita atas dasar bau. Setelah mendapat kecaman dari masyarakat, LSM, dan rakyat netizen, beredar kabar lengkap dengan gambar berita acara penerimaan/penyerahan buku dari pemilik ke polisi. Masyarakat Indonesia tentu saja tidak bodoh-bodoh amat untuk memahami masalah ini.

Orang-orang sudah pasti menduga, proses penyerahan itu untuk menghindari tudingan penyitaan. Buku tidak disita, tapi pemiliklah yang menyerahkannya pada polisi. Dan polisi yang sudah terlanjur dikecam, dapat menyelamatkan muka. Sekali lagi, masyarakat sudah paham soal ini.

Kabar terakhir, buku yang disita polisi diserahkan MUI. Katanya sih untuk dikaji lebih dalam. Apa urusannya buku-buku itu dikaji ole MUI?! Emang MUI lebih nasionalis, gitu?! Agaknya bukan karena lebih nasionalis atau bukan. Ini ada kaitannya dengan posisi MUI di masyarakat sebagai lembaga agama yang dihormati. Terlebih akhir-akhir ini jargon yang berkembang dalam masyarakat muslim adalah berdiri bersama Ulama. Ini kesempatan bagi pemerintah untuk melegitimasi tindakan penyitaan bukunya.

Dengan diserahkannya buku itu ke MUI, barangkali polisi sedang berharap MUI akan menyatakan buku-buku itu bertentangan dengan Islam. Karena Marxisme adalah ideologi anti Tuhan. Dengan begitu, buku-buku itu harus dilarang. Polisi lupa bahwa tak semua yang bertentangan dengan Islam menjadi otomatis dilarang di Indonesia. Tidak semudah itu Bambang.

Oh ya, sebelum kasus Probolinggo ini, pada awal tahun 2019 tepatnya 8 Januari 2019, penyitaan buku karena alasan ada bau komunis-nya, juga terjadi di Padang. Buku disita oleh aparat gabungan, TNI/Polri dan Kejaksaan. Tapi menurut keterangan mereka ke media buku itu tidak disita atau dirazia tapi diamankan. Apapun sebutannya, substansinya sama saja sih. Buku diambil tanpa proses pengadilan.

Buku yang diamankan saat itu adalah (1) Kronik 65, (2) Mengincar Bung Besar, (3) Anak anak Revolusi, (4) Gestapu 65 PKI dan (5) Jas Merah. Kabar terakhir yang beredar dari kasus itu adalah, buku masih diteliti Kejaksaan. Baca selengkapnya di berita “Penulis Protes bukunya disita, Kejagung; Masih diteliti” 

Kurang dari sebulan sebelum kasus di Padang, pernah pula penyitaan buku di Kediri, 26 Desember 2018. Waktu itu penyitaan dilakukan oleh kodim. Alasan penyitaan buku-buku itu adalah karena keresahan masyarakat dan diduga buku memuat komunisme, PKI. Di kediri buku yang disita lebih banyak lagi yaitu (1) Empat karya filsafat (2) Menempuh Jalan Rakyat, (3) Manifesto Partai Komunis, (4) Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, (5) Benturan NU PKI 1948-1965 (6) Gerakan 30 Sept 1965 kesaksian Letkol PNB. Heru Atmojo (7) Nasionalisme, Islamisme, Marxisme (8) Oposisi Rakyat (9) Gerakan 30 September 1965 (10) Catatan Perjuangan 1946-1948 (11) Kontradiksi MAO-Tse-Sung (12) Negara Madiun (13) Islam Sontoloyo (14) Sukarno, Orang Kiri, Revolusi, & G30S1965 (15) Komunisme ala Aidit. Baca selengkapnya di artikel “ICJR Kecam Polisi & TNI Razia dan Sita Sejumlah Buku di Kediri”

Buku-buku itu diserahkan ke kejaksaan untuk dikaji lebih lanjut. Semua alasan penyitaan buku lebih kurang sama, yaitu memuat ajaran komunis atau ada bau komunisnya. Saudara-saudara, untuk kasus penyitaan Padang dan Kediri, bagaimana hasil kajian dan penelitian dari kejaksaannya ya? Apakah sudah ada berita? Saya sih belum baca. Ini kajian sudah enam bulan lebih lho. Apa masih sedang dikaji atau diteliti? Apa sedang dibiarkan saja biar menguap dan hilang?

Oke. Sembari menunggu hasil kajian atau penelitian dari kasus penyitaan buku di Padang dan Kediri, ada pertanyaan penting, mungkin juga pertanyaan banyak orang. Kenapa penyitaan terus terjadi dan silih berganti dari satu kota ke kota lain di setiap tahunnya? Kenapa penyitaan tidak dilakukan secara serentak dan sekaligus di seluruh Indonesia? Selama tujuh bulan terakhir saja sudah terjadi tiga kali penyitaan di berbagai kota berbeda, Kediri (26/12/18), Padang (8/1/2019) dan terakhir Probolinggo (27/7/2019).

Jawaban yang paling mungkin atas pertanyaan itu adalah bahwa penyitaan buku demi penyitaan yang dilakukan hanya agar isu komunis tetap hidup dalam masyarakat. Kalau memang pemerintah serius ingin menyelesaikan masalah buku dan mengakhiri keresahan masyarakat, -yang menjadi salah satu alasan penyitaan, sebenarnya mereka bisa membeli semua buku yang diduga berbau itu dari toko-toko buku.

Caranya, kumpulkan buku-buku berbau itu secara berjenjang dari sabang sampai merauke, dari miangas sampai pulau rote. Setelah buku dikumpulkan, lalu kaji dan teliti secara akademik dan ilmiah. Hasil kajian atau penelitian itu umumkan ke publik, mana buku yang dilarang dan berbahaya bagi Pancasila, kalau memang ada.

Penelitian perlu dilakukan supaya masyarakat tidak menduga-duga karena penyitaan-penyitaan yang sering terjadi. Apa tidak bosan setiap tahun harus membicarakan kasus penyitaan buku terus. Dan aparat negara emang ndak bosan dikecam terus? Kalau aparat tidak bosan, wartawan mungkin sudah bosan harus membuat berita dengan alasan yang sama, berbau komunis, buku disita untuk diteliti atau dikaji lebih dalam.

Kalau wartawan gak bosan, ya netizen yang bosan, karena beritanya gak berubah-berubah. Arab Saudi aja sudah gelar turnamen PUBG Bambang dan malah sedang menyiapkan taksi terbang, masa kita orang Indonesia masih baca berita penyitaan buku terus. Atau maunya emang Indonesia gini-gini aja sampai lebaran kuda?!

 

Sumber Gambar; Unuja.ac.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *