Pertimbangan; Bela Tauhid atau Bela HTI?

Kolom Laman Utama

Oleh Muhammad Yusuf el-Badri

(Pengkaji Islam dan Kebudayaan, Simak Institute)

Pertanyaan pertama kali muncul setelah pembakaran bendera bertulis Dua Kalimat Syahadat ramai dibicarakan adalah kenapa umat Islam Protes dengan pembakaran itu? Jawaban paling umum adalah karena yang dibakar adalah Kalimat Tauhid. Kalimat suci umat Islam. Membakar kalimat Tauhid berarti menghina Islam. Alasan ini berarti bahwa bendera bertulis Kalimat Syahadat itu dilepas dari segala ideologi dan gerakan politik HTI.

Tidak mudah untuk menjelaskan perkara pembakaran bendera itu. Pertama,  faktanya ada kalimat Tauhid di bendera yang dibakar itu dan kedua, bendera serupa telah menjadi ikon pergerakan politik Hizbut Tahrir Indonesia.

Inilah awal problem dilematis ketika terjadi pembakaran terhadap bendera itu. Sehingga ketika muncul pemberitaan bahwa telah terjadi pembakaran bendera Tauhid, Panji Rasulullah saw, masyarakat Islam buncah. Marah dan melakukan protes keras.

Dugaan saya, umat Islam yang marah dan protes itu adalah Umat Islam yang semata-mata melihat bendera yang dibakar sebagai Kalimat Suci. Dengan polosnya, orang-orang ini dengan mudah akan mengamini bahwa yang terjadi di Garut tempo hari adalah pembakaran bendera Tauhid dan penghinaan terhadap Islam. Karena sekali lagi, soal bendera bertulis Dua Kalimat suci, itu diyakini semata-mata sebagai bendera tauhid, panji Rasulullah, Muhammad saw. Tidak lain.

Demikian pula yang terjadi dengan pernyataan salah satu wakil ketua MUI, “Memang itu tidak ada HTI-nya, jadi itu kalimat tauhid. Kami melihat yang dibakar kalimat tauhid karena tidak ada simbol HTI”.

Saya tidak tahu apakah seiring perkembangan kasus dan polemik pembakaran itu, Prof. Yunahar akan menyadari persoalan itu akan berdampak luas, yakni legitimasi munculnya gerakan-gerakan sarat politis.

Bayangan Politik Praktis di Tengah Api Pembakaran

Pertanyaannya adalah apakah setiap ada bendera dengan kalimat Tauhid, pasti pembela Islam? Dan apakah pembakaran atau pemusnahan terhadap sesuatu yang bertulis Syahadat itu harus dipandang sebagai penghinaan terhadap Islam? Bagaimana bila nanti Kalimat Suci itu dimanfaatkan sebagai penangkal dan akal-akalan semata? Kiranya umat Islam perlu berpikir tentang penyalahgunaan ini.

Cerita pembakaran bendera bertulis Kalimah Syahadat sebagai penghinaan terhadap Islam telah berkembang. Dan tampaknya akan terus dikembangkan demi mendapatkan yang seluas-luasnya dukungan dari umat Islam Indonesia.

Sebagai gerakan politik, para mantan anggota dan pengurus HTI jelas punya kepentingan untuk memperjuangkan kehadirannya kembali setelah dibubarkan pemerintah. Dan dukungan umat Islam itu amat sangat penting.

Upaya yang terus disebarkan di media sosial adalah HTI memperjuangkan Islam. Ketika telah tertanam dalam benak umat Islam bahwa HTI ‘benar’ sebagai suara Islam, memperjuangkan keyakinan dan ajaran Islam, itu berarti bahwa pembubaran Hizbut Tahrir di Indonesia (HTI) akan dipandang oleh masyarakat muslim umum sebagai bentuk sikap anti Islam pemerintah.

Dengan begitu, simpati akan muncul. Dan HTI mungkin akan mendapatkan tempatnya kembali di tengah masyarakat. Tak hanya itu, HTI sekaligus mendapat ‘pembelaan’ gratis dari masyarakat muslim, di saat HTI terengah-engah membela kehadirannya di depan hukum Indonesia.

Adanya gerakan politik HTI dibalik bendera dengan tulisan Kalimat Tauhid memang menyulitkan umat Islam Indonesia membela keyakinannya. Di satu sisi umat Islam merasa perlu membela keyakinanya, ketika Kalimat Tauhid itu dianggap direndahkan. Di sisi lain, ada gerakan politik HTI yang bakal menunggangi pembelaan itu.

Tidak mudah bagi umat Islam membiarkan Kalimat Suci mereka dilecehkan dan dianggap sebagai ancaman. Tetapi ada hal yang lebih berbahaya, bahwa HTI telah bertindak terlalu jauh dengan mengusung kesucian keislaman untuk kepentingan kekuasaannya semata. Kenapa kepentingan HTI semata-mata politik mereka? Karena tujuan kehadirannya adalah mendirikan negara Khilafah.

Seandainya apa yang diyakini HTI, bahwa mendirikan Khilafah adalah kewajiban setiap muslim dan dasarnya bersifat Qath’i (pasti), tentulah MUI, ormas Islam lain dan muslim dunia telah dan akan ikut memperjuangkannya.

Seandainya pula sistem pemerintahan selain khilafah bertentangan dengan Islam, dan sistem selain khilafah (seperti demokrasi, kerajaan, republik dll) adalah haram menurut Islam secara pasti (Qaht’i), pastilah seluruh dunia Islam akan menolak keberadaan sistem-sistem itu. Toh pada kenyataannya konsep Khilafah HTI-lah yang ditolak oleh muslim dunia.

Apakah itu berarti, hanya HTI-lah yang mengerti Islam? Lha..jangan ngawur donk. HTI juga baru muncul tahun 1953. Jadi, untuk anda yang ikut dalam aksi, pastikan bahwa anda mengerti tentang apa itu HTI dan mengerti apa yang sedang anda bela. Bahwa anda ikut aksi karena pertimbangan akal sehat, bukan provokasi berita.

Apalagi karena kebencian terhadap ormas atau karena ingin mengganti presiden. Lebih buruk tentunya, bila anda menutup kepentingan politik dengan aksi bela Tauhid. Tuhan, Allah swt mengetahui apa yang anda tampakkan dan apa yang anda sembunyikan.

Dan ingat peringatan Allah swt. Artinya, “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya”. Apalagi dengan alasan ikut-ikut. Karena setiap pekerjaan, akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, Rabbul Jalil.

Sumber Gambar; Kompas dot com

Bayangan Politik Praktis di Tengah Api Pembakaran

Layakkah HTI dibubarkan?