Rahmah El Yunusiyah;  “Mempertanyakan Habis Gelap Terbitlah Terang”

Feature Footer

Opini Wemfauzi

Sejarah adalah bentukan penguasa.  Pendapat yang masih banyak dan berlaku hingga sekarang termasuk dalam hal gerakan emansipasi wanita di Indonesia.

Buku sejarah di sekolah-sekolah tingkat dasar sampai menengah menyebutkan bahwa gerakan kesetaraan perempuan  Itu digerakkan oleh sosok perempuan Jawa cerdas dari Jepara bernama Kartini, yang harus menerima kenyataan bahwa tempat perempuan itu di rumah, mengabdi kepada suami.

Upayanya ditengah keterbatasan tersebut kian sempurna lantaran Kartini wafat dalam usia 25 tahun pada  tahun 1904. Selanjutnya, nama besar Kartini praktis terbentuk oleh banyak pihak khususnya Belanda yang mencoba mengambil hati penduduk nusantara lewat politik etis atau politik balas budi.

Padahal,  selang 19 tahun kemudian di Padang Panjang, Sumatera Barat, seorang perempuan muda bernama Rahmah El Yunusiyah yang lahir pada 20 Desember  tahun 1900, sukses mewujudkan apa yang baru jadi mimpi oleh Kartini itu.

Usai menempuh pendidikan dasar formal selama  3 tahun, ia lanjutkan dengan pelajaran  keislaman serta bahasa Arab dan Latin  di Diniyah School (1915) yang diasuh dua orang kakaknya, Zaenuddin Labay  El Yunusi dan Muhammad Rasyid. Sekolah itu menerapkan pola ko edukasi, alias lali-laki perempuan belajar dalam satu kelas.

Selain belajar di sekolah sang kakak,  Rahmah juga belajar  fiqh lebih dalam kepada Abdul Karim Amrullah (orang tua Buya Hamka) di Surau Jembatan Besi.

Rahmah tercatat sebagai murid-murid perempuan pertama yang ikut belajar di Surau Jembatan Besi saat  ia berusia 15 tahun. Keputusan belajar lebih dalam itu diambil Rahmah karena  dengan bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, perempuan tidak bebas  mengutarakan pendapat serta menggunakan haknya dalam belajar.

Apalagi banyak masalah perempuan terutama dalam perspektif fikih tidak dijelaskan secara rinci oleh guru yang notabene laki-laki, sementara murid perempuan enggan bertanya.

 

Di sisi ini, Rahmah merasa gerakan kaum muda Minangkabau yang berfokus pada masalah pendidikan belum masuk ke hal yang paling mendasar yakni pendidikan perempuan. Rahmah merasa, perempuan belum menjadi subjek setara pria dan akan tetap dalam kebodohan paradigma patriakhi itu. Menurut Rahmah, kebodohan masyarakat atau umat Islam bermula dari kebodohan di rumah atau keluarga.

Padahal, rumah tangga adalah tiang masyarakat dan masyarakat adalah tiang negara. Maka,  kemajuan sebuah masyarakat harus dimulai dari mendidik dan memajukan. perempuan.

Untuk itu, sejak awal, dirinya sangat sadar peran terbaik untuk perempuan adalah menjadi pendidik. Anak-anak berkualitas lahir dari ibu yang berkualitas serta hasil dari mendapatkan pendidikan berkualitas.

Keinginan besar untuk mengeluarkan kaumnya keluar dari kebodohan, mendapat dukungan penuh dari Zainuddin Labay.

Tak butuh waktu lama, pada tanggal 1 November 1923, saat ia berusia 23 tahun, bersama teman-teman perempuannya di PMDS (Persatuan Murid-murid Diniyyah School) ia berhasil mendirikan sekolah khusus perempuan bernama  Diniyah School Putri atau Madrasah Diniyah li al-Banat.

Secara garis besar, Rahmah merumuskan tujuan pendidikan dari Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang, dalam satu frasa, “Membentuk putri yang berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian kepada Allah SWT”.

Murid pada tahun pertama iitu berjumlah 71 orang yang sebagian terdiri dari ibu-ibu muda, termasuk putri dari Teungku Panglima Polim dan Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Kelompok  ibu-ibu muda yang  mendapat kesempatan belajar itu mendapat nama khusus yaitu  “Sekolah Menyesal”.

Pada tahun pertama, pola ajar masih menggunakan system halaqah, alias duduk menghampar dengan diajar oleh seorang guru. Dua tahun kemudian. ia menerapkan sistim pendidikan sekolah modern yang  menggabungkan pendidikan agama, pendidikan sekuler dan pendidikan keterampilan secara klasikal.

Keteguhan hati Rahmah mendapat ujian. Sebuah gempa hebat mengguncang kota itu  pada tahun 1926. Bangunan sekolah dan asrama permanen yang baru ia rintis hancur total. Namun ia  berusaha untuk langsung bangkit. Rahmah  membangun kembali sekolahnya dengan batangan bambu dua lantai berukuran 12×7 m2 dan menghimpun kembali para muridnya.

Upaya tersebut masih kurang, bersama pamannya ia menjelajahi Aceh, Sumatera Utara, hingga menyeberangi Selat Malaka untuk mencari bantuan dana ke Malaysia. Usaha itu tak sia-sia karena selain berhasil mengumpulkan dana cukup besar, keluarga-keluarga sulthan di Malaysia juga mengirim anak-anak perempuan mereka ke sekolah tersebut.

Sejak kembali beroperasi setelah gempa besar tersebut, Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang ini mencatat kemajuan besar.  ribuan murid datang dari berbagai daerah tanah air.

Hal itu tak lepas dari sifat dirinya yang open minded  alias mau menerima hal-hal baru dan positif. Salah satunya adalah mendatangkan datangkan guru senam asal Amerika untuk melatih kebugaran para murid sekolah tersebut.

Di antara ribuan siswa yang berhasil beberapa diantaranya  adalah, Menteri Sosial  kerajaan Malaysia Tan  Sri Datin Aisya Ghani. Sosok yang  membuktikan bahwa anak didik Rahmah tak hanya sukses sebagai wanita yang berfokus pada pembentukan keluarga dan anak-anak muslim yang berkualitas, namun juga memberi kontribusi kepada masyarakat.

Selain Datin Aisya Ghani, ada juga nama Siti Zubaidah dan Siti Sakinah, keduanya adalah mantan ketua Dewan Partai Islam se Malaisya (PAS). Fakta diatas menjadi bukti bahwa sekolah ini mampu melahirkan perempuan-perempuan berkualitas yang mampu memberi sumbangan signifikan  kepada masyarakatnya.

Pengakuan bahwa Rahmah adalah pelopor pendidikan khusus perempuan Indonesia juga datang dari Universitas Kedua tertua dunia yakni Al Azhar di Kairo,  Mesir.  Itu berawal saat Grand Syeikh Universitas itu  Syaikh Abdurrahman Taj berkunjung ke Diniyyah Putri  tahun 1955. Syaikh Abdulrahman tertarik dengan pola pendidikan yang dijalankan Rahmah.

 

Sepulangnya dari kunjungan tersebut, Universitas yang berdiri pada masa Perang Salib  ini membuka pendidikan khusus Perempuan yang bernama kulliyyât al-banât.  Karena sejak didirikan,  Al Azhar belum memiliki sekolah pendidikan khusus perempuan.

Rahmah  diundang ke Mesir pada tahun 1957 untuk menghadiri peresmian sekolah khusus itu, sekaligus untuk menerima gelar Syaikhah atau Doktor Honoris Causa. Sebuah gelar langka untuk warga luar jazirah Timur Tengah, apalagi kepada seorang wanita. Gelar tersebut diberikan karena Rahmah dianggap  ahli dalam bidang tertentu dan menguasai khazanah ilmu-ilmu keislaman.

Rahmah adalah juga pelaku aktif emansipasi wanita. Sebab di kancah politik, namanya tercantum dalam struktur Dewan Pimpinan Pusat Partai Masyumi di Jakarta tahun 1952-1955. Dilanjutkan dengan menjadi anggota dan terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara untuk periode tahun 1955-1958.

Itu pula yang barangkali membuatnya menjadi pendukung gerakan PRRI Sumatetra Tengah pada tahun 1957-1958. Meski oleh para penerus  sekolah sekolah itu, semua bermula dari ketidaksenangannya kepada Soekarno secara pribadi.

Selanjutnya, sejarah memang tidak berpihak kepadanya, sebagaimana nasib yang juga dialami pentolan PRRI yang umumnya berasal dari Partai Masyumi.  Pengucilan dan pengkerdilan secara politik juga dialami oleh  Rahmah, baik saat Soekarno masih berkuasa, sampai kepada  Soeharto di zaman Orba.

Buktinya sampai sekarang, karya besarnya berupa sekolah yang masih berdiri megah belum mendapat penghargaan semestinya.  Rahmah belum tercata sebagi orang yang diakui sebagai pahlawan nasional. Itu persis sama dengan mayoritas petinggi Partai Masyumi yang bergabung dengan PRRI.

Kenyataan di atas sangat bertolak belakang dengan  perlakuan kepada RA Kartini.  Kumpulan surat korespondensinya yang kemudian dibukukan dalam sebuah buku berjudul  Door Duisternis tot Licht,  yang oleh sastrawan Armin Pane juga diterjemahkan dengan makna yang tak semestinya, menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”, seolah-olah jauh lebih memberi pengaruh kepada perjuangan perempuan Indonesia.

Buku yang semestinya diterjemahkan menjadi “Dari Kegelapan Menuju Cahaya Tuhan”, sebuah kalimat yang ada dalam salah satu Ayat Qur’an  itu seperti jimat dan mantra, bahwa wanita  Indonesia sudah diwakili oleh  Kartini.  Sosok  yang rela jadi Istri kedua seorang Wedana yang sebelumnya telah lebih dahulu  menceraikan tiga orang perempuan.

Maka wajar saja, bila   21 April yang menjadi tanggal peringatan emansipasi wanita Indonesia,  masih berkutat pada peringatan tahunan yang isinya lebih kepada pengenaan busana kebaya. Hanya sekedar symbol dan pakaian.  Kering tanpa makna. Sebab sumber inspirasi utamanya bukan sosok Kartini sendiri melainkan Mr. J.H. Abendanon, seorang Belanda yang secara budaya  dan mental sangat berjarak dengan Kartini.

Atau  dalam bahasa konspiratif,  Abendanon berhasil menyingkirkan  karya besar yang telah dibuat Rahmah El Yunisiyah karena berpotensi mempercepat keruntuhan dominasi Eropa.

Pada saat yang sama, ia sengaja mengangkat karya Kartini yang masih di ranah ide sebagai sebuah “mahakarya”, namun secara isi tak akan menggangu kenyamanan Belanda sebagai penjajah, minimal dalam jangka pendek.

Silahkan nilai kenyataan ini, mempercayai sejarah bentukan penguasa, atau mencoba terbuka kepada fakta bahwa penyimpangan masih terpelihara?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *