Raja Salman; antara Hater dan Loyalis Timur Tengah

Islam Liputan

Opini Wemfauzi

Kunjungan Raja Salman bin Abdul Aziz, penguasa Saudi Arabia ke Indonesia adalah satu kehormatan yang lumrah dalam tata krama hubungan antar dua negara di dunia. Sebagai tuan rumah yang baik pemerintah tentu akan mengakomodir apa saja yang diperlukan tamu, agar merasa nyaman.

Persoalan anggota rombongan yang berjumlah 1500 orang juga bukan perkara besar. Sepanjang mereka membayar sendiri board and lodging, juga sah saja. Bahkan sebaliknya, harusnya kita bersukur karena ada tambahan devisa lewat jumlah rombongan yang konon datang dengan 3 pesawat Jumbo jet itu.

Lagi pula, Saudi adalah negeri Petro dolar, alias punya uang berlimpah karena emas hitam alias minyak bumi, meski sekarang tak sekuat dua dekade lalu, maka wajar negara ini masih ingin dianggap seperti itu, melalui jumlah anggota rombongan yang terlihat massif itu. Terkait jumlah yang sangat banyak menurut kita, itu lebih kepada soal budaya, bukan agama, karena tiap bangsa punya budaya.

Seperti juga kita punya pepatah. Makan tak makan yang penting kumpul. Ini budaya dan semua memaklumi. Raja Salman dan rombongan datang untuk beberapa kepentingan, bisnis, ekonomi, pendidikan , sosial yang menyangkut sejarah serta nasib serta kelanjutan sejarah dua negara, sampai kepada liburan keluarga.

Anehnya, di sini justru yang adalah bahasan tidak penting, seperti total jumlah rombongan. Perang kata-kata antara pendukung dan pembenci Saudi marak. Alas pikirnya sih sebenarnya sama. Sama-sama salah. Tidak menempatkan Saudi sebuah entitas negara sebagaimana mestinya. Dan pandangan itu seperti dua sisi mata uang, satu badan tapi lain muka.

Bagi yang tidak suka, mereka melihat Arab sebagai representasi Islam yang lebih sering gagal mewakili suara ummat di luar teritorial mereka. Contoh saja konflik Arab-Israel. Perang teluk satu dan dua, perang Irak-Iran, Yaman dan Suriah. Saudi lebih menonjolkan sisi sekular yang itu didasarkan pada pertimbangan untung rugi, khususnya bagi keluarga kerajaan.

Saudi juga diuntungkan dengan posisi mereka sebagai pengontrol penuh dua kota suci, Makkah dan Madinah. Padahal, secara historis dan ideologis, keduanya bukan cuma milik kerajaan yang beraliran Wahabi, namun sejak dinasti Al Saud berkuasa, negara-negara Islam lain hanya bisa jadi tamu, tanpa bisa ikut campur dalam penataan atau pengawasan, khususnya terkait Rukun Islam ke-5 yakni haji.

Anehnya di tanah air, contoh-contoh persoalan politik di atas, tidak menjadi perhatian bagi sebagian kalangan pengagum Saudi. Mereka tetap menjadikan negara itu “seolah-olah” representasi Islam dan muslim Indonesia harus mencontoh, mulai ideologi sampai sampai kepada urusan pernak pernik. Ini termasuk persoalan gelar terhormat, yakni sebutan Habib.

 

Julukan Habib, (seseorang yg punya tali darah sampai ke Baginda Nabi Muhammad), kepada sejumlah orang dari beberapa ormas, suka atau tidak , telah menaikkan pamor beberapa pihak. Mereka mendapat kehormatan lebih, walau sejatinya belum pantas.

Padahal, tak sembarangan orang berhak menyandang, meski secara tak ada pula peraturan yang melarang atau membolehkan bagi siapapun yang ingin mengenakan.

Karena itulah, dengan berfasih-fasih dalam beberapa istilah Arab seperti lafal ana-antum, plus memakai gamis atau sejenis daster yang memang berasal dari kawasan timur tengah, khususnya saat berada di mimbar-mimbar . Maka cap muslim yang diyakini lebih saleh dari orang-orang lebih kerap berkemeja batik atau saringan dalam keseharian, ikut menebalkan pernyataan bahwa dengan gelar tersebut, perwujudan sikap dan perilaku lebih Islami sudah menemukan bentuk, terutama bagi yang memakai keduanya.

Pengaruh yang didapat dengan gelar itu, sejatinya jug adalah gambaran kasat mata dari ketidak kritisan sebagian ummat yang sedang getol mencari role model dalam beragama, yang untuk sementara melihat Saudi Arabia sebagai panutan.

Karena Saudi Arabia menjadi pengendali penuh kota Haram, Makkah dan Madinah, maka kecenderungan umum oleh masyarakat sini. Apapun yg datang dari sana pasti bagus dan benar.

Bagi pengagum timur tengah di Indonesia, khususnya Saudi, menurut mereka kemurnian Islam adalah apa yang datang dari dua kota yang nota bene ada di negara itu. Sebaliknya, Islam yang ada di nusantara saat ini, sudah campur aduk dan tak murni lagi.

Yang pada gilirannya, karena penolakan atas realitas sosial keagamaan. itu, kerap memunculkan gesekan, khususnya terkait pemahaman yg diserap dari budaya lokal, yang itu tidak menyangkut hal-hal yang prinsip dalam Islam.

Sikap permusuhan kepada simbol budaya lokal, praktis menumbuhkan kebencian satu sama lain. Yang pada gilirannya kian melebarkan jarak pandang, sekaligus meluaskan pertikaian.

Penolakan dan proteksi dari unsur-unsur yang dianggap bisa merusak akidah ummat, sering dilontarkan. Termasuk kepada sejumlah daerah yang warga muslimnya minoritas, seperti Papua dan Bali.

Maka ketika sang raja bersama rombongan memutuskan ke Bali, berlibur setelah melakoni serangkaian urusan kenegaraan dan bisnis. Kalangan pertama, seperti mendapat peluru untuk menyerang kelompok kedua.
Padahal, kedatangan tersebut juga tak berbeda dengan kunjungan yang sebelumnya juga telah dilakukan banyak kepala negara. Lebih kepada relasi ekonomi. Dan ini sepertinya jadi perhatian utama dalam misi kedatangan tersebut.

Karena Saudi perlu mencari sekutu baru, pasar baru dan Indonesia adalah pilihan realistis setelah China. Semua itu tak lepas dari fakta bahwa kekuatan politik dan ekonomi yang menopang peran penting Saudi di regionalnya sudah merosot. Pengaruh mereka di Timur Tengah, diantara negara Kerjasama Teluk yang terdiri dari 5 kerajaan dan negara negara sekawasan yang akrab dengan konflik bersenjata sudah banyak redup.

Saudi melemah karena minyak yang menjadi darah ekonomi mereka tak lagi bisa jadi alat tawar efektif di percaturan politik global. Karena Amerika yang selama ini menjadi sahabat utama, tak lagi tergantung kepada pasokan minyak dari Saudi. Amerika juga sudah mulai melepaskan dukungan yang selama ini diberikan, sekaligus membiarkan negara tersebut membereskan persoalan tanpa bantuan sang paman.

Maka Indonesia yang selama ini dipandang sebelah mata, meski punya penduduk muslim terbanyak, hanya dianggap besar dalam jumlah namun tidak untuk pengaruh, mulai dapat perhatian. Maka bisa diterjemahkan juga, lewat jumlah rombongan yang demikian besar, Saudi ingin mengatakan, mereka datang tak semata karena bersaudara dalam Islam. Itu sudah “taken for granted”.

Mereka datang untuk dagang. Sedangkan liburan adalah kebutuhan yang juga diperlukan. Bagi mereka, Indonesia termasuk Bali, sama saja seperti Paris, London atau New York, kota atau negara tersebut lebih bermakna sekuler, duniawi. Bukan akhirat seperti yang disangkakan sebagian generasi gagap sosiologis tersebut.

So.. mari sambut kehadiran mereka secara wajar dan proporsional, tanpa perlu jadi penentang atau penyuka salah satu kegiatan yang terakhir dilakukan oleh Raja Faisal pada tahun 1970 lalu.

Gambar; Sindonews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *