Refleksi Demo 4 November

Mahasiswa

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Adanya kekhawatiran bahwa demo 4 November berlangsung anarkis, rusuh ricuh baik karena umat Islam sendiri maupun karena ditunggangi oleh kelompok radikal, dijawab oleh umat Islam dengan aksi nyata. Demonstrasi dengan puluhan bahkan mungkin ratusan ribu massa Umat Islam berjalan tertib, aman dan damai.

Meskipun ada insiden bentrokan pada malam hari, namun hal itu tidaklah berarti apa-apa bila dibandingkan dengan apa yang terjadi sejak jum’at pagi hingga pukul 18.00 sore.

Bila sebelumnya, aksi demonstrasi Umat Islam, dianggap sebagai biang kerusakan ruang publik kota, taman dan kebersihan, sekali lagi tuduhan itu dijawab dengan aksi nyata.

Umat Islam bahkan menjaga kebersihan dan ketertiban, selama demo berlangsung dan melakukan aksi bersih-bersih sampah ketika demo akan berakhir. Sekali lagi, peristiwa yang terjadi setelah malam tiba, tidaklah berarti apa-apa dibandingkan apa yang dunia saksikan di siang hari dengan massa yang memadati Kota Jakarta.

Mungkin demo 4 november ini akan tercatat sebagai satu-satunya demonstrasi dengan massa  terbesar yang bertanggungjawab dan bermartabat sepanjang sejarah demokrasi.

Ini menandakan bahwa umat Islam Indonesia telah dewasa dan maju dalam berdemokrasi karena ikut menyumbang keteladanan yang baik untuk demokrasi Indonesia. Tentu saja hal ini dapat menjadi contoh bagi siapa pun dalam menyampaikan aspirasi dan pendapatnya.

Oleh sebab itu, Umat Islam harus menyadari betul bahwa, inilah inti dari demokrasi itu sendiri yaitu kebebasan berpendapat dan berkumpul yang dijamin oleh negara. Setiap orang dilindungi dan diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi di hadapan publik selama tidak melanggar hukum sebagai hasil dari kesepakatan bersama.

Dengan demikian, demokrasi di Indonesia mesti harus terus dirawat untuk kemajuan bangsa. Ini adalah catatan pertama.

Catatan kedua, tidak adanya respon dari pemerintah, dalam hal ini presiden Joko Widodo, disebabkan oleh dua kemungkinan, pertama bahwa pemerintah memang abai terhadap aspirasi penegakan hukum. Padahal, tuntutan jaminan penegakan hukum terhadap laporan Umat Islam tentang Ahok bukan hanya berasal dari Jakarta, tapi hampir seluruh Indonesia.

Kedua, ketidakhadiran Presiden di Istana Negara ketika masyarakat menginginkan pertemuan -terlebih dengan massa yang begitu besar dari seluruh Indonesia-, menunjukkan ketidakberanian Joko Widodo dalam mengambil sikap mandiri sebagai kepala negara.

Sebab bagaimanapun juga, kasus yang dilaporkan Umat Islam akan memengaruhi Ahok sebagai calon gubernur DKI Jakarta yang diusung oleh PDIP Cs -partai yang juga mengusung Joko Widodo sebagai presiden RI ditambah partai mendukung pemerintahan.

Catatan Ketiga, demonstasi 4 November diharapkan tidak membuat Umat Islam kembali terpecah belah dalam berbagai hal. Karena banyaknya agenda keislaman Indonesia yang mesti diselesaikan seperti kemiskinan, ketersediaan lapangan kerja, pendidikan dan lain sebagainya.

Umat Islam termasuk Indonesia, saat ini dalam berbagai aspek -disadari atau tidak- berada dalam ketertinggalan yang sangat jauh dari bangsa lain. Bahkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari (mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali) kita lebih banyak memakai yang bukan diproduksi oleh Umat Islam sendiri.

Sebut saja makanan, pakaian, berbagai macam obat, peralatan rumah tangga, alat transportasi dan teknologi. Bahkan semen dan keramik yang kita gunakan untuk memperindah masjid, pakaian muslim dan sajadah yang kita gunakan untuk beribadah sangat sedikit sekali yang merupakan hasil produksi Umat Islam.

Barangkali karena produk itu bukan hasil dari produksi umat Islam, maka label halal diperlukan di setiap kemasan makanan, minuman dan yang lainnya. Supaya produk tersebut dikonsumsi dan digunakan oleh umat Islam Indonesia.

Gambar: viva.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *