Samarinda, Sejarah, Islam dan Teror

Petuah

Opini Muhammad Julkarnain

(Pegiat Rumah Transformasi Indonesia)

 

Sungai Mahakam berombak

pagi menjelang siang Minggu itu.

Tenang alirannya diinjak dan dihempas

pembajak agama, mengusik tenun damai

kota di tepi Mahakam.

Langit Samarinda bersedih mengantar Intan

Adinda kecil tak berdosa ke pangkuan Tuhan.

(Muhammad Julkarnain)

Bagi Masyarakat Samarinda, insiden teror di Gereja Oikumene amat memilukan, juga menginjak-injak falsafah lama tanah Banua: “mudahan tuntung pandang ruhui rahayu”, yang semakin kehilangan tuahnya dan tidak lagi menjadi azimat keramat, tentang visi vertikal dan horizontal bermakna“semoga Tuhan memberi kehidupan yang langgeng, sejahtera dan harmonis. ”Tuah falsafah yang (semakin) kehilangan pengaruhnya itu, beserta “tenun damai Samarinda” yang robek harus dijahit bersulam “benang beragam rupa,” berlapis-lapis, dengan agama, sejarah dan budaya sebagai simpul poros ikatannya untuk mengembalikan marwahnya sebagai titik pijak toleransi dan persaudaraan.

Kesadaran masyarakat Samarinda yang saling bersatu dalam perbedaan, sesungguhnya dapat ditelusuri akar historisnya untuk menunjukkan arti penting penggambaran semangat etis masyarakat Samarinda yang telah terbangun sejak dulu. Melalui situs resmi pemerintah kota Samarinda (samarindakota.go.id) tertulis bahwa pada pertengahan abad ke-17, Sultan yang dipertuan Kerajaan Kutai menerima rombongan orang-orang Bugis Wajo yang dipimpin oleh La Mohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado), yang saat itu memohon suaka politik atas sikap mereka menolak perjanjian Bongaya (Perjanjian Kerajaan Gowa dan VOC Belanda) setelah mereka kalah dari serangan Belanda. Hijrah kelompok Bugis Wajo ke Tanah Kutai ini diterima dengan baik oleh Raja saat itu, atas kesepakatan untuk bersedia membantu segala kepentingan Kerajaan Kutai.

Dalam suasana saling bersepakat itulah, Raja Kutai berinisiatif membentuk sebuah perkampungan di tanah rendah, sebagai benteng pertahanan dari serangan bajak laut Filipina yang seringkali melakukan perampokan di wilayah pantai Kerajaan Kutai, sekaligus menjadi kampung baru bagi Pua Ado dan pengikutnya asal tanah Sulawesi dengan nama “Samarendah,” sebuah kampung yang secara geografis berada di dataran rendah; (juga bermakna) persamaan derajat bagi penduduk asli dan pendatang, antara Kutai, Bugis, Banjar dan suku-suku lainnya. Istilah “Samarendah” inilah yang lama-kelamaan menjadi sebuah lafal melodius: “Samarinda.” Sebutan bagi Kota di tepian Sungai Mahakam,  yang sebab-musababnya bermula pada sejarah penting dan telah berhasil menancapkan pilar-pilar egaliter, terbuka, toleransi, tolong menolong dalam semangat Kayuh baimbay (Mengayuh bersama-sama).

Fakta tentang teror Minggu lalu, tentu saja menjadi anomali yang terjadi di Kota bermotto Tepian (Teduh, Rapi, Indah, Aman dan Nyaman) ini di tengah bangunan sejarah yang sangat ideal itu. Adanya disparitas antara idealitas sejarah dengan realitas yang terjadi merupakan tanda tanya yang harus dijelaskan. Untuk kepentingan itu, maka agama dan sejarah lokal menjadi core dalam tulisan ini.

Narasi Agama tentang Penistaan Agama

Untuk mempermudah dalam mengurai makna pada kasus “Teror Bom Molotov di Gereja Oikumene,” nampaknya teori semiotika Barthes tentang “Tatanan Pertandaan (Order of Signification)” tentang makna denotasi, konotasi dan mitos  mampu menguraikan banyak hal dibalik peristiwa tersebut. Secara sederhana, Denotasi adalah makna harfiah, sebuah fenomena yang tampak dengan panca indera; sedang konotasi adalah operasi ideologi; dan mitos sebagai sebuah term yang difungsikan untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang beraku dalam suatu periode tertentu. (Alex Sobur, 2006: 71).

Secara denotasi atau makna harfiah, “teror” berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah tindakan menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Dengan memerhatikan insiden teror di Gereja Oikumene, maka dapat dikatakan bahwa sekelompok orang berusaha untuk menciptakan ketakutan bagi jemaat gereja Oikumene yang berada di Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda Seberang.Di luar makna denotasinya,“Teror Bom” jika dilihat dari makna konotasinyaadalah tindakan yang dilakukan oleh teroris untuk menandai eksistensinya yang superior dan mengancam di hadapan sebuah kelompok agama yang dilindungi kebebasan beribadahnya oleh negara.

Dua pemaknaan di atas, tentu saja memunculkan pandangan yang beragam bagi siapapun, bahkan dalam simbol-simbol yang lebih jelas dan konkret, bahwa teror bom Gereja Oikumene adalah sebuah usaha membenturkan agama, antara Islam dan Kristen. Ketegangan antara Islam dan Kristen adalah targetnya dengan menciptakan konflik terlebih dahulu, mengingat objek peledakan bom adalah simbol agama yang disucikan pemeluknya. Lagi-lagi Islam menjadi kambing hitam setelah terlihat bahwa pelaku teror, (Seseorang yang mengenakan kaos bertuliskan “Jihad”), sebuah terminologi Islam yang dipahami dengan kedangkalan berfikir dengan cara meneror. Fakta itu jelas menyiratkan sebuah maksud dan tujuan, antara lain: mengatasnamakan agama tertentu (untuk) melakukan tindakan “penghinaan” simbol agama lain, serta menodai kebebasan beribadah yang sebenarnya dilindungi oleh undang-undang Negara. Untuk meluruskan itu, sumber keagamaan Islam sepatutnya dilibatkan untuk menjelaskan makna-makna hakikat, nilai dan norma-norma.

Kata kunci penting untuk mulai mendiskusikan kasus ini adalah “penghinaan,” sebuah makna lain yang mau tidak mau telah dipersepsikan oleh banyak orang. Kata kunci inilah yang digunakan untuk merujuk teks Al-Qur’an dan penjelasan-penjelasan yang terkait. Tulisan ini, berada di luar pembahasan “Jihad” yang diterjemahkan sebagai sebuah tindakan bersifat ancaman yang dimaknai sebagai oleh sekelompok orang dan telah banyak dibahas dan didiskusikan oleh ilmuan dan para ahli.

Patut diingat bahwa kasus teror pada (13/11/2016) meledak di tempat ibadah yang amat sangat suci bagi pemeluknya. Untuk meruntuhkan amarah, menghilang-redamkan kecurigaan dan prasangka, maka setiap kita sesungguhnya berkepentingan untuk menolak siapapun yang menggunakan agama sebagai alasan “menghinakan” simbol-simbol (termasuk teror). Bagaimanapun, berdasarkan ilmu dan kesadaran beragama, ia sama sekali tidak mewakili agama apapun bahkan bertolak belakang dari ajaran-ajaran agama.

Islam memandang penting relasi antar agama untuk tidak saling menghinakan simbol-simbol agama lain, bahkan Tuhan sesembahan agama lain. Mandat itu termaktub jelas dalam kalam Tuhan surah Al-An’am (6): 108: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Ayat ini dijelaskan dengan begitu sejuk oleh Ibnu ‘Ajibah dalam karya Tafsir monumentalnya Al-Bahrul Madid fi Tafsir Al-Qur’an Al-Majid, menurutnya menghinakan simbol agama (sesembahan) agama lain hanya akan memunculkan pertentangan dan pembalasan yang tidak didasarkan pada rasionalitas. Ayat ini turun sebagai larangan Allah agar tidak menghinakan Tuhan agama lain. Bahkan ayat ini menjadi contoh bagi suatu metode penggalian hukum di kalangan Malikiyah (Mazhab Imam Malik) untuk meninggalkan sesuatu yang (mungkin) boleh, namun berpotensi menimbulkan keburukan lainnya sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan (Sadd al-Dzara’i).

Setiap manusia, atas apa yang dilakukannya,  baik dan buruknya, adalah aktivitas historis yang akan dipertanggungjwabkannya sendiri dihadapan Tuhan. Melengkapi penafsirannya, Ibnu ‘Ajibah menuliskan sebuah isyarat bahwa al-‘Arif al-Kamil (Orang yang mengenal Tuhan) tidaklah akan menghinakan segala ciptaan Allah (termasuk makhluk) dan apa yang telah ditakdirkan-Nya dengan mengedepankan moral terhadap segala wujud dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Rasul Muhammadpun menegaskan dalam Hadisnya: “Allah melaknat orang-orang yang menghinakan kedua orang tuanya, Sahabat bertanya: Siapakah yang menghinakan kedua orang tua itu wahai Rasulullah?, dia yang menghina ayah orang lain sehingga orang itupun menghina ayahnya, dan dia memaki ibu orang lain sehingga orang itupun memaki ibunya.” Riwayat ini secara normatif memberikan penegasan bahwa Islam hormat atas hak-hak privat dan simbol suci agama lain, (bahkan juga) nilai-nilai kemanusiaan. Sedang, Teror adalah sebuah penyelewengan nilai-nilai agama yang ideal.

‘Ibrah Sejarah: Kita yang Bersahabat     

Dituliskan dalam sebuah kitab Arab-Melayu berjudul Syajarah al-Arsyadiyyah wa Ma Ulhiqa Biha yang ditulis oleh ulama kenamaan Syaikh ‘Abdurrahman Shiddiq, bahwa Tiga abad lalu, seorang ‘ulama asal Kalimantan, Syaikh Arsyad Al-Banjari bersama sahabat-sahabat seperguruannya (Syaikh ‘Abdus Shamad Palembang, Syaikh ‘Abdurrahman Betawi, Syaikh dan Abdul Wahab Bugis)menuntut ilmu di Haramain. Dikabarkan bahwa, salah satu guru “empat serangkai” ini, Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi menyarankan Syaikh Arsyad dan sahabat-sahabatnya untuk segera pulang mengajarkan Islam di Nusantara setelah 30 tahun lamanya belajar di Haramain. Setiba di Batavia, Empat Serangkai  itu menetap selama dua bulan sebelum kembali ke daerah masing-masing. Diceritakan bahwa empat serangkai ini melakukan perbincangan (mudzakarah) dan sharing perspektif (munazharah) perihal ilmu yang melibatkan para ‘Ulama, Pendeta Nasrani, Jenderal dan Anak Negeri. Digambarkan dalam perkumpulan itu sebagai perkumpulan dengan suasana yang saling berkasih dengan ikhlas, hormat menghormati, dan saling memberikan hadiah sesama mereka. (‘Abdurrahman Shiddiq, 1937: 6-7). Sebuah data sejarah yang menyejukkan, representasi semangat berkolaborasi dengan beragam orang yang berbeda-beda secara keyakinan, etnis dan status sosial.

Catatan kisah perjalanan di atas merupakan representasi ideal tentang hubungan sosial antar sesama. Jika ditarik satu garis lurus tentang ajaran sejarah dan agama, kita akan menemukan momentumnya pada satu titik yang koheren, yaitu sejarah Samarinda yang egaliter, terbuka pada dialog dan kerjasama didukung narasi agama mencerahkan adalah titik pijak kita untuk meyakinkan diri kita bahwa berbeda adalah sunnatullah (Hukum Allah) yang harus dijunjung tinggi, tidak hanya sebagai perbuatan yang dinilai baik, tetapi juga merupakan bentuk ibadah yang berdimensi sosial yang akan kita pertanggung jawabkan dihadapan Tuhan.

Teror Gereja Oikumene Samarinda menyisakan luka dan darah. Hilangkan curiga dan prasangka, teror ini diluar garis ajaran agama-agama apapun. Teror ini adalah kecelakaan sejarah bagi masyarakat Samarinda dan Indonesia. Luka yang kita tanggung bersama ini adalah momen penting untuk menciptakan citra kehidupan yang lebih baik dan meneguhkan     identitas dan karakter luhur, sebagai masyarakat Samarinda, Indonesia juga dunia yang menjadi Rahmat bagi semesta alam.

 

Gambar:jawapos

1 thought on “Samarinda, Sejarah, Islam dan Teror

  1. Bagi bangsa Indonesia wajib hukumnya memahami makna2 yg terkandung dlam sila Pancasila dan memahami makna Bhineka Tunggal Eka. Inilah barangkali kekhawatiran kita selama ini, terjadi huru-hara dimana-mana, terorisme yang di sematkan terhadap orang Islam, suka menyalahkan bahkan mengkafirkan terhadap orang lain….semua itu disebabkan karena mereka tidak memahami bagaimana sejarah Negara Indonesia d bentuk, bagaimana pendiri bangsa berjuang mati-matian demi keutuhan dan persatuan NKRI, demi sebuah keutuhan bangsa mereka menutup pintu rapat-rapat egoisme ras, suku, gol. Agama, nasab, issu negatif lainnya. …mudah2han kita d berikan pencerahan dan kpahaman akan hakikat makna persatuan dan kesatuan…Wallahualam…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *