Selamat Tinggal Orang Dalam

Laman Utama

Oleh Muhammad Yusuf el-Badri

Setiap penerimaan calon pegawai, rekruitmen oleh lembaga negara, kita hampir tak pernah absen membicarakan soal calo dan orang dalam. Hingga sekarang, setelah 20 tahun reformasi, masyarakat masih meyakini bahwa untuk mendapatkan pekerjaan di republik ini, baik di lembaga pemerintahan maupun swasta, TNI dan Polri, mesti ada uang dan orang dalam.

Hasil survei Polling Center bersama Indonesia Corruption Watch (ICW) menunjukkan bahwa rekrutmen CPNS dan kepolisian dianggap sebagai sektor yang paling rentan praktik korupsi, (Kompas, 20/7/2017). Ini berarti bahwa tanpa ada dua hal tersebut di atas, jangan berharap untuk lulus tes, meski memenuhi kualifikasi. Begitu masyarakat meyakininya.

Itulah sebabnya banyak sarjana jadi penganggur, karena mayoritas mereka tidak punya uang dan tidak punya orang dalam. Umumnya para pencari kerja pesimis dan kadang telah menyerah sebelum mencoba peruntungan bila ada rekrutmen aparatur negara, apapun bentuknya dan kualifikasi yang dibutuhkan. Terlebih ketika ada nama yang dikenal sebagai anak pejabat atau mantan petinggi negara. Tanpa ada ujian dan seleksi, toh sudah jelas siapa yang bakal diterima sebelum proses seleksi dilakukan.

Itu dulu. Sekarang penerimaan aparatur negara, khusus CPNS kian canggih dan sosialisasi penggunaan peralatan ujian tampak makin baik. Walaupun ada beberapa kendala dan masalah, semuanya dipahami sebagai hal yang wajar belaka. Dengan sistem penerimaan kali ini, banyak peserta yang datang ke lokasi ujian dengan rasa optimisme dan rasa percaya diri yang tinggi. Paling tidak begitulah terpantau dalam setiap komentar yang ada di media sosial BKN.

Meski banyak yang tak lulus ujian, tetapi peserta ujian puas dengan proses yang mereka jalani. Alasannya adalah adanya rasa keadilan; kesamaan peluang yang mereka peroleh dan kesempatan untuk diterima sama besarnya dengan peluang anak-anak pejabat, penguasa, kerabat atau siapapun di republik ini. Kehadiran teknologi telah memutus rantai budaya orang dalam, kolusi dan nepotisme. Tentu saja ini adalah sebuah prestasi yang luar biasa bagi bangsa Indonesia.

Masa depan bangsa Indonesia tampak kian cerah. Karena negara akan segera diurus oleh generasi yang punya kualifikasi dan kemampuan yang memadai. Sistem kekerabatan dalam mengurus negara telah berakhir. Orang dalam tak laku lagi. Kepada mereka kita sampaikan selamat tinggal. Kita sambut masa depan Indonesia dengan optimisme dan rasa percaya diri.

Sumber Gambar; Tribunnews.com

Islam Yang Agung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *