Sertifikasi Penceramah: Penataan bukan Pembatasan

Headline Islam

Opini Wemfauzi

Mubalig, penceramah, dai adalah tugas dan kewajiban setiap muslim. Karena Nabi berkata Sampaikan dari ku walau satu ayat (HR. Bukhari). Karena berstatus wajib, maka belajar dari sejarah persebarannya di Nusantara, di mana agama ini dibawa oleh pedagang, bukan oleh dai, atau mubalilig yg mengkhususkan aktifitas untuk itu, seperti misionaris agama lain. Mereka berdakwah dengan perilaku karena juga paham dan mempraktekkan hadist, Nabi datang untuk menyempurnakan akhlak.

Pada periode berikutnya, ulama-ulama yang datang ke Nusantara, tidak berdakwah dengan cara keliling kampung atau negeri. Tapi mendirikan sekolah serta pusat pendidikan. Mereka sadar dengan mendirikan pusat pendidikan, agama ini bisa tersebar secara benar, dan diterima secara benar pula dari orang yang memiliki pemahaman yang benar.

Masyarakat yang datang ke institusi itu, mereka tidak mendatangi, mereka para ulama itu juga tak menerima bayaran dari audiensnya. Strategi tersebut lebih efektif dan mendalam.

Kalaupun harus berkeliling dan ceramah, itu kegiatan sampingan. Fakta berikutnya adalah berdirinya ratusan atau ribuan pesantren, yang jutaan lulusannya tak menjadikan dakwah, ceramah sebagai profesi untuk cari rezeki Mereka punya usaha lain yang tak terkait lagi dengan ilmu yang mereka dapat. Umumnya, mereka berprofesi sebagai pedagang, tani, pegawai dll. Dakwah mereka terus jalan tapi lewat perilaku dan tauladan.

Sampai awal abad ke-20, cara seperti ini masih banyak dilakukan oleh para ulama di banyak wilayah, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi dll. Bagi yang mau belajar agama datang ke pusat pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan.

Lalu ada kekosongan di masyarakat, itulah yang oleh Syekh M Jamil Jambek diisi dengan aktifitas tabligh, dakwah berkeliling kampung, di Minangkabau. Bukan dengan mendirikan sekolah-sekolah seperti sejawatnya yang lain, seperti Haji Rasul, (ayah Buya Hamka), Ibrahim Musa Parabek, Abdullah Ahmad, Sulaiman Rasuli, dll.

Seiring waktu, terjadi pergeseran. Dakwah yang tadinya kewajiban setiap muslim lewat perilaku, mengerucut jadi tugas orang-orang tertentu. Awalnya niat tulus itu memang masih mampu menjaga para dai. Namun seiring massifnya perkembangan jaringan televisi dan IT (teknologi informasi), dakwah yang tadinya kewajiban tiap muslim, tak lagi murni. Masyarakat pun secara tak sadar ikut mengakui.

Budaya pop yang tunduk kepada selera pasar, membuat ceramah agama mulai diukur berdasarkan angka.
Karena “tuntutan pasar”, yang itu juga terkait penawaran dan permintaan (supply and demand), keluhuran tugas ini mulai terdegradasi. Ukurannya bukan pada kedalaman ilmu, tapi popularitas. Dan diperburuk oleh sikap materialistik jamaah, yang lebih suka menjadikan aktifitas itu sebagai tontonan, bukan tuntunan. Rela bayar mahal da’i seleb perkotaan, daripada guru kampung yang lebih menguasai agama serta mempelajarinya dari dasar hingga pada tingkat kemahiran.

Tuntutan pasar juga melahirkan penceramah setengah matang. Yang lebih banyak membahas ranting dari pada pokok. Utamakan pakaian dari pada isi. Utamakan tampilan daripada laku. Utamakan ego daripada tawadhu. Jauh dari kesederhanaan. Senang pada hidup materilistik di tengah umat yang papa dan miskin.

Kebanyakan latar belakang mereka bukan alumni pesantren. Kalaupun pernah belajar, hanya sekedar dapat ijazah, paham sedikit bahasa arab. Sisanya cari di google. Itu diperburuk dengan malasnya membaca atau minim baca buku-buku referensi keagamaan. Karena malas membaca, jadilah isi ceramah mereka seperti kaset rekaman. Mereka lebih banyak megulang-ulang yang telah disampaiakan.

 

Padahal, di tataran yang lebih tinggi, Tan Malaka pernah berkata, ” Seorang penulis jika tulisannya ingin dibaca orang. Bacaannya harus 10 kali lebih banyak dari pembacanya. Maka, syarat sama juga berlaku untuk mubaligh era IT saat ini. Bila ingin didengar dan dihargai, bacaannya harus lebih dalam dari jamaahnya.

Yang terjadi saat ini adalah sebaliknya,. Banyak dai naik mimbar dengan modal judul yang bertebaran di media sosial. Atau mendadak jadi mubalig karena terjebak situasi.

Setelah itu, preferensi dan hawa nafsu dalam warna politik menjadi bensin penggerak suara, maka hasilnya adalah caci maki yang jauh dari ajaran Nabi. Kalaupun dengan tensi yang lebih rendah, ceramah mereka banyak kurang up date. Data yg dipakai adalah bahan lama. Akibatnya, pendengar jadi tertidur karena isi kajian penceramah terasa membosankan. Atau alih-alih menambah ilmu, siraman rohani, yang terjadi justru menumpulkan logika dan mematikan nurani.

Tapi karena sebagian sudah terlanjur diletakkan pada posisi terhormat, dan pendengar berada dalam kondisi pasif, maka fenomena di atas dianggap bukan persoalan.

Saat ada upaya penataan, reaksi yang muncul adalah penolakan. Padahal, kalau gejala di atas tak ditangani, yang akan terjadi adalah pembusukan dari dalam secara perlahan. Persoalannya bukan pada aktifitas. Tapi lebih kepada pelaku. Penataan mubaligh, penceramah diperlukan.

Penataan bukan untuk pembatasan. Karena, bila yang dimaksud harus melalui serangkaian ujian tingkat keilmuan. Maka akan muncul keanehan, yang diuji malah lebih berilmu dari penguji.

Sertifikasi itu mungkin lebih tepat diganti dengan pemetaan dan penataan. Sekaligus memetakan atau membuatnya dalam bentuk kategori, sehingga jamaah atau masyarakat jadi tahu klasifikasi dan kualifikasi para penyeru agama tersebut.

Bagi yang takut dan khawatir sertifikasi akan menjadi alat penguasa untuk membatasi jalan dakwah, artinya dia tidak paham sejarah syiar agama ini. Sekaligus terkungkung dan mengunci diri dalam pemikiran gelombang kedua peradabannya Alvin Tofller.

Maka disini berlaku ungkapan. Al Islam, Mahjubun Bil Muslimin.. Cahaya Islam redup akibat perilaku orang Muslim sendiri. Karena memperkuat pernyataan. Bila urusan tidak diserahkan pada ahlinya. Tunggu saja kehancuran yang akan mendatangi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *