Sikap Membaca Berita, Karena Berita Bukan Fakta

Petuah

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Belakangan ini, masyarakat tengah membangun tradisi hujat menghujat karena berita yang beredar. Tradisi yang tidak semestinya lahir pada masyarakat beragama, ketika informasi bertebaran seperti rambai dilecutkan.

Ditambah lagi oleh banyak media hitam, media yang tak jelas asal usulnya, memperkeruh suasana. Beragam informasi disebar tanpa tanggung jawab. Kadang berita tersebut murni berita dusta. Belum lagi masyarakat kita yang tengah puber dengan media dan berita.

Berita paling banyak beredar adalah berita yang membangkitkan emosi beragama. Tujuannya tak lain adalah agar masyarakat ikut mencaci maki dan membenci orang lain.

Barangkali media-media hitam lahir, adalah respon terhadap media massa yang cenderung tidak berimbang dan menyudutkan dalam pemberitaan, terutama terkait dengan agama Islam. Sehingga ketika umat muak, lahir media online yang dengan mudah membakar kemarahan.

Situasi ini dimanfaatkan untuk terus memprovokasi pembaca sembari mengais keuntungan. Ketika informasi sudah seperti rambai dilecutkan, pembaca mesti bijak dalam bersikap. Perlu ketenangan dalam berfikir dan tentu saja tak mudah marah.

Kalau berita yang diterima dianggap penting, cari berita pembanding. Jangan terlalu mudah menghujat karena berita. Sebab berita bukanlah fakta sebenarnya, baik berita itu berupa gambar maupun cerita. Apalagi hanya dengan membaca judul berita saja lantas kita menfinah, merendahkan dan menghina orang lain. Sikap tersebut sangat tindak mencerminkan diri sebagai orang beragama.

Kenapa sikap tenang diperlukan? Karena setan dengan mudah masuk ketika kita tergesa-gesa mengambil kesimpulan dan sikap. Terlalu cepat bersikap hanya akan melahirkan prasangka buruk dan amarah. Apalah arti agama dan Iman bila hati penuh dengan kebencian. Tak ada gunanya amal bila kita senantiasa menghujat, menghina dan merendahkan orang lain.

Ketahuilah bahwa berita dibuat sesuai kepentingan dan cara berpikirnya masing-masing terhadap suatu masalah.

Sebagai contoh, ada berita tentang demonstrasi tuntutan mahasiswa di depan istana negara. Yang merupakan fakta adalah demonstrasi dan tuntutan demo. Sedangkan judul dan isi adalah berita yang menggiring pembaca untuk berpendapat tentang demo.

Media yang mendukung pemerintah misalnya akan menulis, baik judul maupun isi yang intinya kira-kira begini, Demo Mahasiswa Sebabkan Taman Rusak. Tujuannya adalah supaya publik menolak atau menghujat demo mahasiswa karena demo hanya merusak belaka, tidak baik dan seterusnya.

Sedangkan media anti pemerintah akan menulis, Demo Mahasiswa Tuntut Menteri Anu Mundur. Tujuannya supaya  publik ikut terlibat mendukung tuntutan mahasiswa.

Ini sekedar contoh sederhana saja. Bila kita sebagai pembaca dianggap telah terlibat, terpengaruh, maka untuk selanjutnya akan muncul berita yang mirip.

Dan khusus untuk saat ini, keterlibatan pembaca muncul ketika ada berita tentang penistaan agama. Kemarahan publik dianggap dapat disulut dengan berita tersebut. Sehingga berita yang dimunculkan oleh media provokatif hanya tentang penistaan agama dengan beragam judul yang menghasut.

Tema beritanya dapat diterka seperti Syi’ah, pembantaian umat Islam, injakan kitab suci, kristenisasi, penginaan al-qur’an, dan lain sebagainya. Pokoknya segala yang tersangkut dengan agama.

Oleh sebab itu, kita sebagai pembaca mesti hati-hati dengan berita yang provokatif. Agar tak mudah menghujat dan menfitnah orang lain. Hanya dengan cara itu, emosi dapat diredam, ketenangan hidup dapat dicapai dan hubungan sesama berjalan dengan baik.

Tujuan utama dari berita itu tak lebih dari sekedar membuat kericuhan, kekacauan dan sikap saling membenci antar sesama umat seagama maupun antar umat beragama.

sumber gambar: theodysseyonline

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *