Sisi Lain Transformasi Arab Saudi

Breaking News Opini Slide Atas

Opini Muhammad Yusuf el-Badri
Perkembangan berita sekitar Arab Saudi semakin hari semakin menarik untuk dicermati. Arab Saudi yang selama ini merupakan pusat gerakan pemikiran dan doktris Islam Wahhabi, menjelang 100 tahun usia kerajaan Arab Saudi, terjadi perubahan signifikan dalam berbagai bidang, baik ekonomi, politik, sosial, pemikiran dan kebudayaan.

Perkembangan terbaru adalah penggantian menteri kerajaan dan ditangkapnya sejumlah pengeran dan mantan menteri oleh komite anti korupsi. Selain kerajaan yang semakin otoritarian, semuanya tampak akan mengalami perubahan signifikan. Perubahan yang tak kalah penting selain ekonomi dan politik adalah perubahan corak pemikiran keagamaan dan sosio-kultural masyarakat Arab Saudi. Inilah sisi lain menjadi tema pokok dalam tulisan ini.

Sebelum penangkapan mantan Menteri dan Pangeran kerajaan, pemerintahan Arab Saudi lebih dulu melakukan pemecatan terhadap para imam masjid yang dianggap ekstrim di Arab Saudi. Melalui menteri luar negeri dijelaskan bahwa pemerintahan Arab Saudi tidak akan membiarkan penyebaran ideologi kebencian dan mendukung ideologi terorisme atau semacamnya.

Apa hubungan antara ideologi kebencian dengan imam masjid? Hal itu tidak lain karena imam masjid merupakan pemegang otoritas keagamaan di Arab Saudi. Sementara doktrin agama yang dipakai diadopsi dari pemikiran Muhammad ibn ‘Abd Wahhab atau yang lebih dikenal dengan sebutan wahhabi yang dianggap sebagai sumber perpecahan dalam Islam sunni.

Diantara dokrin Wahhabi yang terkenal adalah penyesatan dan pengafiran terhadap orang yang tidak sepaham dengannya, penolakan terhadap rasionalitas dalam beragama. Konsekuensinya adalah segala penafsiran terhadap agama harus ditinggalkan dan teks agama harus dipahami sebagaimana adanya. Tanpa disadari, penolakan penafsiran yang dilakukan adalah dengan melakukan penafsiran yang disandarkan pada teks dan dipahami sebagai kebenaran tunggal.

Penolakan itu dianggap oleh pemikir modern sebagai klaim kebenaran. Sehingga muncul gerakan pembaharuan agama. Dan selama satu dekade belakangan ini, gerakan reformasi agama semakin kuat di Arab Saudi. Satu persatu aktivis demokrasi dan pemerhati perempuan memang tengah gencar mendorong perubahan terkait dengan otoritas dan pemahaman agama, kebudayaan dan perempuan, berani tampil terbuka.

 

Dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, di mana segala sesuatu dapat diketahui dengan mudah, maka pemerintah Arab Saudi akan menghadapi tantangan lebih besar. Era kebebasan Arab Saudi baru saja dimulai. Pemerintahan tidak dapat lagi membentuk doktrin agama dan imajinasi masyarakat tentang dunia luar. Maka budaya menjadi bagian paling signifikan mengalami perubahan.

Oleh karena wujud Islam Moderat yang diinginkan oleh Arab Saudi masih sulit untuk diterka, maka yang pasti terjadi selama beberapa tahun ke depan adalah semakin menguatnya gerakan kesetaraan gender, hak berpendapat, kebebasan berpikir dan semangat toleransi beragama. Apakah Arab Saudi akan menghadapi ini secara demokratis? Kita akan melihatnya nanti. Wallahu A’lam.

Pondasi Segitiga Budaya

Dalam kajian Timur Tengah, relasi politik, Agama dengan perempuan (budaya) adalah tiga hal yang saling terkait yang telah dan akan selalu menjadi perdebatan panjang. Oleh pengkaji budaya Timur Tengah, pembicaraan tidaklah dianggap tuntas bila satu di antara ketiganya tidak terjelaskan dengan baik.

Terkait tiga hal ini, rata-rata peneliti kajian timur tengah berpandangan bahwa otoritas keagamaan harus dipisah dari lembaga politik dan budaya. Agar satu dengan yang lain tidak saling tumpang tindih. Dan yang diharapkan dari hal ini adalah terjadinya dialektika budaya dan agama dalam rangka mencari bentuk yang sesuai dan disepakati tanpa meninggalkan substansi masing-masing.

Sebagaimana adatnya, masyarakat Arab Saudi belum terbiasa dengan dialektika dan dialog terutama hal yang terkait dengan agama dan budaya. Sehingga kecendrungan menggunakan kekuasaan dalam menghadapi masalah keduanya masih tampak. Bagaimanapun juga upaya Arab Saudi membangun Islam moderat disambut oleh dunia Islam. Meski wujud moderasi Islam yang diinginkan Arab Saudi masih sulit untuk diterka. Tapi ini adalah awal perubahan besar Arab Saudi. Perubahan yang dipicu oleh masalah ekonomi politik.

Sumbangsih Teknologi Informasi

Selain masalah ekonomi dan politik yang mendorong terjadinya perubahan Arab Saudi, faktor yang tak kalah pentingnya adalah arus teknologi informasi. Sejak 2007 Hani Naqshabandi, penulis asal Arab Saudi, telah membayangkan akan terjadinya perubahan besar dalam masyarakat Arab Saudi. Perubahan yang tak seorangpun mampu menghalanginya, yaitu pertukaran informasi lintas peradaban dan dunia melalui perkembangan teknologi.

Sebelum era teknologi canggih, cara berpikir masyarakat Arab Saudi bisa dibentuk oleh kekuasaan melalui doktrin dalam dunia pendidikan. Informasi yang keluar dan masuk negara Arab Saudi, bisa difilter oleh kekuasaan. Sehingga masyarakat hanya berpikir sebagaimana yang diinginkan oleh kerajaan. Islam yang dipahami sebagai Islam yang benar oleh masyarakat Arab Saudi, satu-satunya adalah Islam Arab Saudi. Sehingga muncul ungkapan untuk menggambarkan cara beragama masyarakat Arab Saudi,“siapa yang tidak mengimani apa yang kita imani di Arab Saudi, maka ia sungguh kafir”

Pada awalnya, pemerintah tetap berusaha membatasi penggunaan media sosial dengan cara memblokir Fesbuk, Twitter dan WhatsApp, tapi pemblokiran itu dicabut kembali. Dengan demikian imajinasi masyarakat Arab Saudi tentang dunia di luar Arab Saudi berubah drastis. Bayangan mereka tentang dunia di luar Arab Saudi sebagai dunia kafir, jauh dari nilai Islam, penuh dengan tipuan dan kesesatan, kian disadari. Oleh kaum perempuan upaya pemerintah dalam membatasi arus informasi dipahami sebagai pengekangan kebebasan belaka. Meski sebelumnya telah ada upaya sebagian masyarakat Arab Saudi berjuang untuk mendapatkan haknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *