Sunni-syiah dalam Pandangan Buya Hamka; Sebuah Pengantar

Editorial

Opini Izza Rohman

Dalam Tanfidz Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47, dialog Sunni-Syiah menjadi salah satu isu strategis keumatan yang menjadi perhatian Muhammadiyah. Melihat fakta tersedotnya energi umat untuk pertentangan antara kelompok Sunni dan Syiah – yang dilatari beragam faktor – dan potensi meluasnya kekerasan yang terjadi di tingkat lokal, Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk mengadakan dialog intra Islam. Dialog ditujukan pada penguatan sikap saling mengerti persamaan dan perbedaan, komitmen untuk memperkuat persamaan, dan sikap saling menghormati perbedaan, serta kesadaran historis bahwa kaum Sunni dan Syiah memiliki sejarah kohabitasi dan relasi konstruktif yang sangat panjang, (Berita Resmi Muhammadiyah, 113-4).

Untuk meneguhkan ajakan Muhammadiyah ini tentu upaya-upaya intelektual perlu dilibatkan. Salah satu upaya itu adalah menggali pemikiran tokoh-tokoh besar di Muhammadiyah tentang sikap terhadap Syiah atau tentang hubungan Sunni dan Syiah. Pertanyaannya, apakah ada tokoh Muhammadiyah yang pemikiran dan sikapnya dapat menjadi preseden yang baik untuk mengajak warga Muhammadiyah, dan juga umat Islam secara lebih luas, guna membangun dialog Sunni-Syiah?

Tulisan ini mencoba memotret pandangan dan sikap intelektual Hamka terhadap Syiah. Mengapa Buya Hamka? Mengangkat pemikiran Hamka dalam kaitan isu Sunni-Syiah ini “mungkin” dan “penting”. “Mungkin” karena Hamka memiliki banyak karya tulis dalam cakupan tema yang sangat luas. Sebagian karyanya berkaitan dengan tema akidah. Yang lebih penting lagi, Hamka menyusun kitab tafsir, yaitu Tafsir al-Azhar.

Itu berarti Hamka juga menafsirkan ayat-ayat yang sentral bagi suatu aliran keagamaan dalam Islam, termasuk ayat-ayat yang menjadi pilar doktrin keagamaan Syiah. “Penting” karena Hamka adalah seorang tokoh besar Muhammadiyah, bahkan tokoh dunia Islam. Dia pun dikenal memiliki keteguhan pendirian sekaligus dikenal toleran dan terbuka dalam menyikapi perbedaan fikih. Pertanyaannya, apakah keterbukaan Hamka tidak hanya melintasi keragaman mazhab fikih di dalam Ahlu Sunnah? Bagaimana dalam masalah akidah? Apakah Hamka juga memiliki keterbukaan pada mazhab teologis yang berbeda?

Kajian tentang pemikiran Hamka seputar Syiah sebelumnya terserak dalam tulisan-tulisan semi-populer yang terserak di media, baik cetak ataupun daring. Tulisan-tulisan ringan itu sering terjebak dalam pro-kontra apakah Hamka mendukung Syiah atau tidak. Tentu diperlukan kajian yang lebih serius tentang apresiasi dan kritik Hamka terhadap Syiah, dan bagaimana Hamka melihat hubungan antara Ahlu Sunnah dan Syiah.

Dalam membincang pandangan dan sikap Hamka, cakupan “Syiah” di sini akan diklasifikasi menjadi tiga: 1) Syiah sebagai suatu firqah (kelompok keagamaan dengan pandangan teologis tertentu); 2) pemahaman keagamaan yang sentral dalam Syiah; dan 3) tokoh dan literatur Syiah. Yang pertama untuk melihat bagaimana Syiah sebagai suatu kelompok didefinisikan dan dinarasikan oleh Hamka. Yang kedua untuk melihat komentar Hamka terhadap ajaran atau pandangan pokok Syiah. Yang ketiga untuk melihat sikap Hamka terhadap kisah atau karya tokoh Syiah.

Pandangan dan sikap intelektual Hamka yang dipaparkan dalam tulisan ini adalah yang utamanya terekam dalam Tafsir al-Azhar, namun juga dengan melihat karya-karya Hamka yang lain. Telaah awal terhadap Tafsir al-Azhar di sini dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan menelusuri kata “Syiah” dalam tafsir ini. Kedua, dengan melihat penafsiran Hamka terkait dua belas ayat yang paling sering diperdebatkan dalam kaitannya dengan isu Ahlu Sunnah dan Syiah. Ayat-ayat tersebut adalah: al-Ahzab ayat 33 (tentang ahlulbait), al-Nisa’ ayat 59 (tentang ulil amri), al-Ma’idah ayat 55 (tentang wilâyah Imam ‘Ali), al-Ma’idah ayat 67 (tentang pesan keimaman ‘Ali yang harus Nabi sampaikan), al-Nisa’ ayat 24 (tentang mut’ah), al-Baqarah ayat 125 (tentang imamah), Al ‘Imran ayat 7 (tentang al-râsikhûn fî al-‘ilm), al-Tawbah ayat 100 (tentang sahabat Nabi), al-Syura ayat 23 (tentang al-qurbâ), al-Ma’idah ayat 3 (tentang wilâyah), Al ‘Imran ayat 28 (tentang taqiyah), dan al-Nahl ayat 106 (tentang taqiyah),- baca Izza Rohman; 2016.

(Bersambung…nantikan sambungannya di setiap Jumat)

Islam Puritan sebagai Trauma Teologi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *