Syiah dalam Deskripsi Hamka – 1

Islam Laman Utama

Opini Izza Rohman

Dalam suatu uraian, Hamka menggambarkan Syiah lebih sebagai suatu paham politik yang bertumpu pada keyakinan bahwa Imam ‘Ali mendapatkan wasiat dari Rasulullah untuk menggantikan beliau sebagai pemimpin umat. Syiah didefinisikan oleh Hamka sebagai “satu golongan yang mempunyai aliran paham politik bahwa yang berhak menjadi Imam kaum Muslimin sesudah Rasulullah wafat hanyalah Saiyidina Ali bin Abu Thalib”, (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 8, 6090). Menurut Syiah, sebagaimana ditulis Hamka, Ali menerima wasiat dari Nabi s.a.w. untuk menjadi penggantinya memimpin kaum muslimin sesudah wafatnya Rasulullah.

Hamka memperkenalkan perbedaan pokok Sunni Syiah sebagai timbul dari pertentangan paham politik. Sunni mengakui keempat sahabat Nabi (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali) memiliki hak yang sama menjadi khalifah dan sama-sama sah. Sedangkan Syiah berpegang teguh pada pendapat bahwa sudah ada ketentuan pasti dari Nabi tentang pelanjutnya, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib, sehingga kekhalifahan Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman tidaklah menurut prosedur yang sah, (Hamka, 2018)

Saat menguraikan Syiah, tak jarang Hamka mengenalkan keragamaan kelompok ini. Hamka menyebutkan beberapa kelompok di dalam Syiah: Imamiyah Itsna ‘Asyriyah, Ja‘fariyah, Zaidiyah, Isma‘iliyah, Kisaniyah, dan lain-lain, (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 8, 6090). Dalam uraiannya, Hamka tidak tampak memberikan penekanan yang kuat pada kesesatan ajaran Syiah.

Pada satu sisi, Hamka tak jarang mengesankan bahwa di kalangan Syiah ada kelompok yang ekstrem atau berlebihan (ghulât).Tapi pada sisi lain, Hamka juga tidak segan memuji salah satu kelompok Syiah, seperti saat mengulas kelompok Zaidiyah – yang ditulis secara hati-hati oleh Hamka sebagai “termasuk golongan Syiah,” namun “orang menganggapnya Syiah yang moderat. (Hamka, 2018) Hamka menyebut kelompok ini sebagai kelompok yang mementingkan penyebaran agama Islam dengan melakukan dakwah terus-menerus namun tidak memperuncing perbedaan Sunni-Syiah ataupun membuat panas hubungan dengan mazhab Sunni. (Hamka, 2018)

(Bersambung…nantikan sambungannya di setiap Jumat)

http://simak.co.id/sunni-syiah-dalam-pandangan-buya-hamka-sebuah-pengantar/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *