Tari Indang Oyak Ciputat

Liputan Mahasiswa

Oleh KMM Ciputat

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi, UIN Jakarta menyelenggarakan acara Nusantara Culture Festival 2 di teater Merah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Acara ini diisi dengan berbagai workshop, performance musik dan kesenian nusantara. Di antara bintang tamu yang hadir adalah budayawan nasional Suwidjo Tedjo, dan beberapa  grup kesenian daerah, salah satunya Sanggar Tari Rangkiang dari Keluarga Mahasiswa Minangkabau (KMM) Ciputat, Jumat(21/10/2016). Sanggar tari Rankiang sebagai salah satu pengisi acara tersebut menampilkan Tari Indang..

Pada penampilan tersebut disambut meriah dan tepuk tangan oleh para penonton. Penampilan yang kompak dan energik dengan perpaduan busana yang menarik. Hal ini membuat penampilan tari Indang menjadi salah satu daya tarik pada acara tersebut.

Rasa bahagia tampak jelas dari raut wajah anggota tari Indang setelah selesai performance.”Minang maimbau, anak rantau manjawek, proses tak mengkhianati  hasil dan harus selalu rendah hati, tetap melestarikan budaya Minang di tanah orang”, ungkap Maulana Asra Berlian salah seorang anggota sanggar.

Kepuasan juga terlihat dari salah satu pelatih sanggar Rangkiang Khairatunnisa, ia mengatakan, “Tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Amazing-lah pokoknya. Semoga sanggar Rangkiang tetap marantiang budayo mamaga pusako. Intinyo dima bumi dipijak di situ rantau dioyak. Semangat team! Keep solid.”

Penampilan tari Indang pada acara Nusantara Culture Festival 2 membuktikan bahwa masih eksistensinya kesenian Minangkabau di perantauan. Salah satunya melalui sanggar Rangkiang yang di bawah binaan KMM Ciputat.

Ryandi Rahmat selaku Ketua KMM Ciputat menambahkan, “Saya merasa sangat bangga sekali karena ini penampilan pertama  bagi anggota Sanggar Rangkiang yang baru dan ini merupakan sebuah prestasi. Tentu saja dengan melihat  penampilan dari sanggar Rangkiang di acara tersebut akan menumbuhkan kepedulian dan kecintaan kita terhadap kesenian Minangkabau dan sebagai motivasi bagi yang lain untuk melestarikannya dan semoga kedepannya lebih baik lagi”.

Menurut Mursal Tanjung, seorang pelaku seni dan budayawan Minangkabau di Jakarta menari bukan hanya menggoyangkan badan dan  hiburan semata,  melainkan bagaimana memaknai setiap gerakan tari tersebut karena setiap gerakan memiliki filosofinya. “Ke depannya agar kesenian Minang seperti tari atau randai dapat dikembangkan lagi dan lebih inovatif tanpa mengurangi esensi tari” tutupnya.

editor: Habiburrahman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *