Tokoh dan Literatur Syiah dalam Karya Hamka – 3

Islam Laman Utama

Opini Izza Rohman

Kutipan kisah atau pernyataan tokoh Syiah, tidak terlalu sulit untuk ditemukan di Tafsir al-Azhar. Misalnya ketika menafsirkan surah Al ‘Imran ayat 134, Hamka mengutip suatu cerita tentang Musa al-Kazhim yang berwudu untuk shalat subuh. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 2) Saat menafsirkan surah al-Baqarah ayat 31-3, Hamka mengutip pendapat Ja‘far al-Shadiq dan Muhammad al-Baqir, -dua dari dua belas imam dalam Syiah Imamiyah. (Hamka, Tafsir Az-Azhar, 1) Saat menafsirkan surah al-A‘raf ayat 199, dalam Tafsir Al-Azhar jilid 4, Hamka terlihat mengutip perkataan Ja‘far al-Shadiq, tokoh yang disebutnya sebagai “Imam Syiah yang besar”. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 1)

Dalam Tafsir al-Azhar, Hamka pun menggunakan beberapa literatur tafsir Syiah. Sebagaimana ia sampaikan dalam catatan kaki bibliografinya, keterbukaan Hamka pada literatur tafsir Syiah bermula dari pertemuan dengan seorang perwakilan Syiah di Mekah, Sayyid Asad Syahab, pada 1973. Sekembalinya ke Tanah Air, Hamka dikirimi dari Teheran tiga buah tafsir Syiah: al-Mîzân (al-Thabathaba’i), Âlâ’ al-Rahmân (Jawad al-Balaghi), dan al-Bayân (al-Sayyid al-Musawi al-Khu’i). Hamka memandang tambahan referensi tiga tafsir ini “amat penting”.

Menurut Hamka, tidak masalah menggunakan tafsir-tafsir Syiah karena toh tafsir Muktazilah seperti al-Kasysyâf saja juga banyak dipakai sebagai perbandingan. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 10) Hamka pun tidak segan untuk menyebut al-Thabathaba’i sebagai “ulama Syiah terbesar di zaman kita”. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 8)

Walaupun mengutip karya-karya tafsir mereka, tampaknya Hamka sering kali tidak tertarik untuk mengungkap pandangan mufasir Syiah ketika menafsirkan ayat-ayat yang krusial bagi doktrin keagamaan Syiah– yang umumnya ditafsirkan secara panjang lebar oleh al-Thabathaba’i. Misalnya, Hamka tidak masuk ke dalam perdebatan mengenai makna dan cakupan ahlul bait saat menafsirkan al-Ahzab ayat 33, ataupun makna dan cakupan ulil amri saat menafsirkan al-Nisa’ ayat 59.

Selain itu, Hamka juga tidak menyebut-nyebut Imam ‘Ali saat menafsirkan surah al-Ma’idah ayat 55 dan 67. Hamka juga tidak berbicara mut’ah saat menafsirkan surah al-Nisa’ ayat 24. Hamka juga tidak menyinggung imamah saat menafsirkan surah al-Baqarah ayat 124. Pun Hamka juga tidak menyinggung para imam maksum saat menafsirkan ungkapan al-râsikhûn fî al-‘ilm di surah Al ‘Imran ayat 7.

Akan tetapi, di luar tema-tema sensitif Syiah-Sunni, Hamka tidak jarang menyertakan pandangan kaum Syiah saat menyebutkan keragaman pendapat. Misalnya saat menerangkan pendapat tentang bismillah, tentang Adam sebagai khalifah, tentang mubahalah, atau tentang kemaksuman nabi-nabi.

Hamka juga menuturkan kecintaannya kepada keluarga Nabi Muhammad saw., termasuk dua cucu beliau, al-Hasan dan al-Husayn. Dalam suatu sambutan pengantarnya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia untuk suatu buku M.H. Alhamid Alhusaini berjudul Alhusain, Hamka bahkan mengawali sambutan dengan mengutip syair Imam al-Syafi‘i, “Jika saya dituduh orang Syiah karena saya mencintai keluarga Muhammad, maka saksikanlah oleh seluruh manusia dan jin bahwa saya ini adalah penganut Syiah.” (Alhamid AlHusaini, 1978)

Tentu Hamka, sebagaimana Imam al-Syafi‘i tidak sedang menyatakan diri seorang Syiah, melainkan orang yang benar-benar mencintai keluarga Nabi Muhammad saw. Sikap ini persis seperti jawaban Hamka kepada orang yang berkata, “Mazhab Syafii adalah mazhab yang paling dekat kepada Syiah dan paling cinta kepada Husain.” Hamka menjawab, “Maaf, saya tidak bermazhab Syiah tetapi saya mencintai Husain.” (Alhusaini) Di akhir sambutannya, Hamka menegaskan, “bertambahlah teguh rasa cinta saya kepada kedua cucu Rasulullah saw., Hasan dan Husain, di samping bertambah teguh keyakinan saya dalam mazhab Sunni. Sebab cinta lain dan pendirian agama lain pula.” (Alhusaini)

 

(Bersambung…nantikan sambungannya di setiap Jumat)

 

http://simak.co.id/pandangan-hamka-terhadap-doktrin-syiah-dan-praktiknya-2/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *