Ustadz Abdul Somad (UAS) Setelah Perceraian

Editorial Islam Laman Utama

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Sejak namanya melejit di media sosial, -lima tahun terakhir, UAS menjadi sumber berita. Semua kabar yang terkait dengan UAS akan dikejar oleh media dan di saat yang sama juga ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Tetapi pasca pilkada DKI, masyarakat Indonesia secara umum terbelah menjadi dua kubu dalam memandang UAS. Hal ini tentu saja karena indikasi dukungan UAS pada salah satu calon Gubernur. Keterbelahan masyarakat dalam ‘memperlakukan’ UAS semakin nyata sejak pemilihan presiden 2019.

Di satu sisi ada kelompok yang membela dan memuji UAS, nyaris tanpa kritik. Di sisi lain ada kelompok yang menghujat UAS, nyaris tanpa apresiasi. Kedua kelompok ini sudah dapat di diduga. Mereka adalah pendukung salah satu calon presiden yang berlaga di tahun 2019. Dan sampai pemilihan presiden akan datang, 2024, perseteruan akan terus berlanjut, meski prabowo sudah terlibat di dalam pemerintahan.

Kabar yang tak terduga datang dari UAS. Keluarganya sedang dalam ujian. Dikabarkan, UAS mengguat cerai istrinya, pada Juli 2019 dan setelah mediasi berkali-kali, pengadilan Agama Bangkinang pada hari rabu, 4 Desember 2019, memutuskan perkara. UAS dan istrinya resmi bercerai. Kabar perceraian ini akan menjadi bulan-bulanan media selama beberapa bulan akan datang, bahkan mungkin hingga pilpres 2024 selesai bila UAS masih memilih terlibat dalam arus politik.

Ada dua alasan yang membuat UAS menjadi bulan-bulanan pemberitaan selama beberapa bulan bahkan hingga pilpres 2024; pertama, karena popularitas dan daya tarik UAS sendiri sebagai pendakwah. UAS tengah berada di puncak popularitasnya, yang tak seorangpun lebih popular dibanding dia di Indonesia saat ini, baik dari kalangan artis maupun pendakwah kondang. Pada 2018, survei LSI bahkan menempat UAS sebagai pendakwah yang berpengaruh. Alasan kedua, adalah karena perceraian UAS yang oleh sebagian masyarakat dianggap tabu terjadi bagi seorang ulama.

UAS adalah seorang alim, luas ilmunya, tapi UAS adalah manusia biasa. Hanya saja di mata publik UAS adalah tokoh agama dan panutan dalam segala hal. Selama dua dekade ini, publik percaya bahwa orang tokoh agama boleh salah membaca ayat, salah dalam memahami hadis, boleh salah dalam bahasa, tetapi tidak boleh ada masalah dalam dalam satu hal, keluarga. Dengan begitu alasan perceraian ini mungkin masih dan akan terus dipertanyakan.

Sebagaimana maklum terjadi pada pendakwah kondang di Indonesia, betapapun hebat dakwahnya dan kuat dalil agamanya, ketika ia bermasalah dalam berumah tangga, ia akan dihukum oleh publik. Ia bahkan dihukum oleh pengikutnya sendiri. Ia akan ditinggalkan. Ceramah dan nasihatnya takkan lagi didengar. Bukankah ini yang menimpa AA Gym dahulu.

Akankah ‘hukuman’ itu kini akan menimpa UAS? Bisa iya, bisa tidak. Tapi melihat pada kasus serupa pada masa lalu, ada kemungkinan.  Bahkan mungkin takkan kalah ringan di bandingkan AA Gym. Alasannya sangat sederhana, UAS berada dalam satu kubu secara politis. Itu berarti bahwa ada kelompok yang berseberangan secara politis yang akan selalu berada dalam posisi menghujat, mengkritik dan bahkan memakinya. Posisi politiknya ini tidak menguntungkan sama sekali.

Kabar perceraian UAS akan menjadi komoditas politik guna membunuh karakternya sebagai pendakwah. Terlebih setelah beberapa kali upaya menghentikan dakwahnya, UAS tak terhentikan. UAS semakin kuat. Keberadaan UAS ini barangkali dianggap sebagai ancaman untuk pemilu yang akan datang. Kini langkah UAS tersandung di rumahnya sendiri. Orang-orang yang tidak menginginkan UAS barangkali akan mengaitkannya dengan banyak hal yang dianggap menarik. Perceraian UAS mungkin akan dihubung-hubungkan dengan Ahok, mungkin juga dengan kesultanan Yogyakarta atau yang lainnya.

Barangkali kini pendukung UAS sedang berharap tidak ada perempuan lain yang menyebabkan perceraian ini terjadi. Karena ketika ada pihak ketiga yang menjadi asalan perceraian UAS, itu berarti ia telah selesai dalam mengemban dakwah. Ceramahnya takkan lagi didengar, petuah keislamannya takkan dianggap lagi berguna oleh publik. Meski bercerai adalah hal yang bolehkan dalam agama, tetapi publik akan melihat perceraian sebagai kegagalan pribadi dalam tangga.

Dalam benak publik, rumah tangga adalah benteng terakhir moralitas sekaligus kunci utama dalam dalam membangun masyarakat. Gagal dalam mempertahankan rumah tangga ibarat keruntuhan benteng dan kehilangan kunci utama. Tak ada yang bisa diharapkan lagi. Untuk sementara waktu UAS bakal redup. Ia mungkin takkan disambut gegap gempita seperti bintang.

Semoga keadaan yang menimpa UAS adalah kesempatan yang diberikan Allah untuk lebih banyak melihat ke dalam dan merenung sejenak. Hingga saatnya nanti, UAS hadir kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *