Yang Mistik dan Yang Modern dalam CPNS

Editorial

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Penerimaan CPNS telah dan masih akan berlangsung hingga satu dua minggu ke depan dengan beberapa tahap. Tahun ini untuk kedua kalinya tes CPNS dilakukan secara online (daring) yang disebut dengan ujian CAT (Computer Assisted test). Peserta akan diuji tiga hal, wawasan kebangsaan, intelegensia umum dan kepribadian.

Mesti ada yang lulus melewati ujian tahap pertama ini, tak sedikit yang kecewa dan gagal karena tidak mampu mencapai batas minimal kelulusan (passing grade). Tapi bukan itu topik pembahasan artikel ini, melainkan sikap peserta menghadapi ujian CAT. Lebih tepatnya sikap peserta sebagai insan Indonesia terdidik menghadapi modernitas dan teknologi.

Secara umum, kehadiran dan perkembangan teknologi di Indonesia mengejutkan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Masyarakat kelimpungan dan gagap menghadapi perkembangan pesat ini. Karena teknologi itu mengepung masyarakat secara mengejutkan ketika mereka masih terbiasa berpikir tradisional dan mistik tentang dunia, alih-alih rasional dan saintifik.

Ketika taksi dan ojek manual masih beroperasi, umumnya masyarakat pengguna pernah menjadi korban penipuan soal tarif perjalanan dengan beragam modus. Modus paling jamak masa itu adalah penumpang dibawa berkeliling oleh driver untuk mendapatkan bayaran mahal. Penumpang sering dengan terpaksa membayar meski haknya cenderung terabaikan.

Pada awal kehadiran transportasi daring (online), -yang muncul tiba-tiba, tak sedikit pula para driver yang masih berupaya melakukan kecurangan dalam beroperasi demi keuntungan. Tetapi dengan sigap pengelola dan pengembang aplikasi memberi sanksi, teguran, bahkan pemutusan kerja sama karena terbukti melakukan pelanggaran.

Terkait kejahatan yang dilakukan itu, saya pernah beberapa kali iseng bertanya pada penarik dan sopir transportasi daring, kenapa di antara mereka ada yang berlaku curang seperti mematikan GPS, memasang aplikasi tuyul dan lain-lain untuk mengelabui penumpangnya. Rata-rata mereka menjawab, tidak tahu kalau bakal diberi sanksi. Intinya mereka mengira apa yang dilakukannya dengan aplikasi yang ada di tangan, tak diketahui oleh siapa pun selain dirinya. Mereka baru tersadar ketika sudah diberi sanksi.

Semakin banyak yang mendapat sanksi, semakin banyak penarik dan sopir transportasi daring yang takut berbuat di luar ketentuan normal. Ketakutan itu bukan karena mereka tahu bahwa aplikasi yang ada digawai terkoneksi dengan pengelola di pusat, yang mengetahui segala aktifitas mereka, melainkan takut kena sanksi dan berhenti bekerja. Sebagian besar mereka meyakini bahwa apa yang mereka lakukan dengan aplikasi daring akan diketahui oleh pengelola sebagai keajaiban bukan sains.

Kejadian ini persis seperti orang-orang awam pengguna media sosial yang tidak sadar bahwa segala yang mereka tulis di laman status akan diketahui oleh orang lain. Sehingga mereka dengan mudah mengumpat, mencaci dan mengancam orang di media sosial. Dan mereka baru sadar ketika sudah ditangkap oleh kepolisian.

Hal yang ingin saya katakan adalah bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia, baik di kota lebih-lebih di desa, adalah orang yang tidak hanya gagap dalam menghadap perkembangan teknologi, tapi juga gagap dan mamang untuk berpikir rasional, empiris dan saintifik.

Barangkali itulah sebabnya pada minggu lalu, di sela-sela ujian CPNS kita dikejutkan oleh temuan jimat dengan beragam bentuk dari peserta ujian. Mereka adalah generasi millenial yang hidup dalam masa perkembangan teknologi begitu pesat, berpendidikan minimal SMA. Mereka sangat sadar bahwa mereka tengah berhadapan dengan dunia teknologi, komputer dan ilmu pengetahuan rasional, tetapi mereka menghadapinya dengan logika mistik, jimat.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana orang terpelajar Indonesia menjadi kikuk berhadapan dengan kemodernan dan sains. Meski tampak lucu, kita harus mengakui bahwa masyarakat kita belum benar-benar siap mengikuti perkembangan dunia modern dengan logika rasional dan saintifik  secara kafah.

Sumber Gambar; Tribunews

 

Integritas Iman, Ilmu dan Amal untuk Good Governance

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *