Yang Tersisa dari Balimau; Dinamika Islamisasi Budaya Islam Melayu

Islam Slide Atas

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Ramadhan baru berjalan hampir separuh waktu. Tetapi aroma limau ketika mandi balimau tidak terasa lagi. Penyucian diri lahir dan batin yang dilakukan oleh masyarakat berupa sikap saling meminta dan memberi maaf, menziarahi pemakaman orang tua, berdoa dan makan bersama tak berpengaruh apa-apa ketika ibadah puasa dilaksanakan. Bulan puasa kali ini, menjadi bulan perseteruan antar sesama umat. Dan mungkin setelah lebaran nanti tensinya akan semakin meningkat.

Saya menduga mereka yang berseteru di bulan Ramadhan ini adalah orang yang tidak balimau menjelang puasa. Tentu Allah Yang Maha Tahu. Tulisan ini hanya ingin mengulas seputar balimau sebagai budaya Islam Melayu dan kaitannya dengan sikap keberagamaan.

Menjelang Ramadhan kemarin, tradisi balimau ini menjadi topik yang diperdebatkan masyarakat hingga tokoh agama. Masyarakat yang dekat dengan tradisi balimau atau belimau ini rata-rata berada di Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, dan Bangka.

Meski balimau adalah tradisi masyarakat dalam menyambut Ramadhan namun sebagian beranggapan tradisi balimau sebagai perilaku menyesatkan. Tradisi ini bahkan dihukumi sebagai pekerjaan khurafat, bid’ah dan haram karena tidak ada dasar hadis yang membolehkannya. Sekencang dan setegas suara pemuka agama menyerukan untuk segera meninggalkan tradisi balimau, sekuat itu pula tekad untuk balimau mesti dilakukan.

Sejauh ini belum ada kajian serius maupun penelitian terhadap tradis balimau yang tiap tahun dilaksanakan muslim Melayu-Indonesia dalam rangka menyambut datangnya Ramadhan. Bahkan belum terdengar fatwa resmi dari majlis ulama di daerah terkait selain sikap personal dari pemuka agama.

Terkait tradisi balimau ini, muncul dua sikap perseorangan dari pemuka agama itu, pertama, menolak tradisi balimau dan menyatakan tradisi balimau sebagai pekerjaan haram karena tidak ada dalil agama yang mendukungnya. Kedua, menyatakan tradisi balimau sebagai tradisi yang boleh dilakukan hanya saja prakteknya tidak boleh bercampur dengan sesuatu yang dilarang oleh agama.

Dari kedua pendapat di atas, alasan pendapat pertama merujuk pada praktek yang terjadi di masyarakat; dengan adanya percampuran laki-laki dan perempuan di tempat pemandian umum. Dan ada kesan bahwa pendapat pertama tersebut didukung oleh pemahaman tradisi balimau yang kurang memadai secara konseptual dan historis. Hanya dengan melihat praktek yang terjadi di masyarakat tradisi balimau dengan serta merta dihukumi sebagai perbuatan dosa dan bahkan ada pula yang mengait-ngaitkannya dengan tradisi Hindu sebagai upaya pembenaran untuk menolak tradisi balimau.

Sebelum menetapkan hukum terhadap balimau, tentunya ada beberapa pertanyaan yang perlu dijelaskan, antara lain apa itu balimau, apa tujuannya dan bagaimana prakteknya, bagaimana pula sejarah tradisi balimau muncul dalam masyarakat, sehingga ia bisa dihukumi sesuai dengan Islam.

Tentu saja dalam menghukumi sesuatu perbuatan, alasan atau tambahan praktek yang datang kemudian tidak dapat dijadikan untuk menghukumi perbuatan itu. Sebagai contoh, hukum asal bersedekah adalah sunat. Namun ada orang yang bersedekah dengan uang hasil korupsi misalnya, maka bersedekah tidak dapat dihukumi haram karena perilaku orang yang bersedekah dengan uang haram.

Dengan membaca alasan penolakan tradisi balimau dapat dipahami, bahwa yang dimaksudkan dengan balimau adalah bercampurnya laki-laki dan perempuan di pemandian umum. Apakah benar kondisi seperti itu yang dimaksud dengan balimau sebagai tradisi Islam sementara tradisi ini dikaitkan dengan penyambutan bulan suci Ramadhan? Kiranya penyambutan sesuatu yang suci tidak mungkin dilakukan dengan cara atau tradisi yang kotor. Dan tanpa melihat pada dalil agama, akal sehat jelas menolak bila ada pandangan yang membolehkannya. Sementara balimau adalah tradisi Islam; sesuatu yang sudah mendarah daging dalam masyarakat Muslim Melayu-Indonesia.

 

Menilik Asal Muasal Tradisi Balimau

Satu hal yang pasti, balimau bukanlah istilah yang muncul dari agama itu sendiri. Secara budaya istilah ini hanya dapat dirujuk pada praktek kebudayaan yang memang dekat dengan masyarakat budaya.

Dalam masyarakat budaya Melayu, bila seseorang menghuni rumah baru, lalu dirasa akan adanya gangguan dari jin atau makhluk halus misalnya, maka si empunya rumah akan disarankan untuk malimaui (menyemburi) rumah itu dengan air limau (biasanya dilakukan oleh paranormal atau dukun).

Praktik yang sama juga akan ditemukan bila ada benda-benda yang dianggap sebagai pembawa sial atau bencana ketika digunakan seperti pisau dan sabit. Demikian pula bila ada orang (anak kecil atau dewasa) yang lari atau menghilang tiba-tiba ketika menjelang magrib, maka ketika sudah bisa ditemukan ia akan dilimaui (dimandikan dengan air limau) oleh engku dukun.

Istilah balimau juga akan muncul ketika ada orang yang dalam masa pengobatan (pemandian dengan air limau) karena kerasukan jin atau ditimpa penyakit gila, atau orang yang baru sembuh dari sakit lajat yang dianggap oleh masyarakat sebagai akibat dari perangai jin. Demikian pula bila ada suami-istri yang bertengkar saban hari tanpa alasan yang jelas, rumah yang ditempati suami-istri itu perlu dilimaui oleh orang pandai.

Ini berarti balimau bukanlah terminologi yang lahir dari Islam tetapi ia lahir dari rahim umat muslim yang berbudaya. Sepanjang sejarah, istilah balimau besar kemungkinan hanya akan ditemukan dalam masyarakat muslim Melayu-Indonesia.

Bagaimana prosesnya balimau menjadi terminologi yang dekat dengan Islam? Dengan melihat realitas sejarah yang datang ke Nusantara berikut corak dakwah yang berkembang pada masa awal, tak terlalu sulit untuk menebak kenapa istilah balimau mengalami perubahan makna dari pembebasan dari nasib buruk, kesialan dan penyebuhan akibat gangguan jin menjadi penyucian diri lahir dan batin.

Menurut Azyumardi Azra, Islam datang ke nusantara pertama kali terjadi pada masa awal dengan corak sufisme. Pendekatan yang dilakukan dalam dakwah dan penyebaran Islam adalah pendekatan kebudayaan. Sehingga Islamisasi budaya di nusantara adalah sebuah keharusan sebagai akibat dari keberterimaan masyarakat terhadap Islam. Karena hanya dengan demikian Islam dapat berkembang dengan damai di nusantara, negeri yang hidup dengan keragaman budaya.

Balimau sebagai bentuk penyucian diri, diwadahi dan diterima melalui pemahaman tradisi mandi taubat dalam Islam. Sebuah tradisi yang sangat dekat dengan tasawuf. Mandi taubat dalam pandangan sufi, adalah awal dari penyucian diri menuju pertaubatan yang sempurna. Karena Ramadhan adalah bulan diterimanya segala taubat, maka masyarakat diharapkan benar-benar melakukan penyucian diri (pertaubatan) lahir dan batin selama sebulan penuh.

Terminologi balimau yang semula berupa praktek perdukunan diubah menjadi terminologi keislaman, sebagai ganti dari istilah mandi taubat dalam versi sufi.  Dengan demikian, mandi di tempat umum dengan pencampuran laki-laki dengan perempuan tidak dapat disebut sebagai balimau karena tidak sesuai dengan tuntunan syariat.

Dialektika Agama dan Budaya

Biasanya dalam proses penyebaran agama, kelompok agama memang cenderung terbagi pada dua pertama, kelompok keagamaan yang gamang dengan kebudayaan dan kedua, kelompok keagamaan yang siap berdialog dengan kebudayaan. Kelompok pertama biasa adalah mereka yang merasa bahwa kebudayaan lokal tidak sesuai dengan budaya agama dan bahkan mungkin berlawan. Sehingga setiap kegiatan kebudayaan dianggap sebagai penyimpangan yang harus dihentikan.

Sementara kelompok kedua adalah kelompok keagamaan yang mampu memahami bahwa kebudayaan tidak lain adalah persoalan profan. Selama tidak bertentangan dengan ajaran pokok keagamaan, maka kebudayaan itu dianggap hal yang wajar. Bahkan kelompok ini cenderung memanfaatkan kebudayaan untuk mengembangkan paham keagamaan mereka, (Zakiyyatuddin Baidhawy (ed), 2003). Barangkali para tokoh agama Melayu-Indonesia masa awal termasuk pada kelompok kedua ini dan kelompok agama hari ini adalah orang yang gamang dengan kebudayaan.

Itulah sebabnya kenapa balimau pada akhir-akhir ini menjadi tema yang diperdebatkan sebagai tradisi Islam. Karena melihat pada perkembangan dakwah Islam selama dua dekade ini, terutama sejak masa reformasi, memang ada perubahan model dan corak Islam yang berkembang di nusantara, tak terkecuali dalam masyarakat muslim Melayu-Indonesia.

Perubahan corak Islam itu secara nyata dan masif bergerak dari Islam yang berorientasi akhlaki (perilaku) menjadi orientasi hukum. Islam yang pada awal sejak lama terbuka terhadap keragaman budaya, mampu berdialog dengan tradisi dan lokalitas, berubah menjadi Islam yang eksklusif dan tertutup terhadap perbedaan. Perubahan itu dapat ditandai dengan (1) masifnya gerakan Islam yang tidak ramah budaya karena menginginkan Islam kembali pada masa keemasan (2) munculnya muslim otoritarian dalam masyarakat.

Prof. Bambang Pranowo (Kuliah Religion and Social Changes, SPS UIN Jakarta, 2014) mengatakan bahwa memang faktor agama mampu memengaruhi kehidupan masyarakat, tetapi kehidupan sosial masyarakat berikut cara pandangnya juga memengaruhi tradisi keagamaan. Inilah yang terjadi dengan tradisi mandi balimau dalam masyarakat muslim Melayu-Indonesia.

Tradisi balimau yang telah menjadi bagian dari tradisi Islam, pada akhirnya juga mengalami perubahan bahkan penyimpangan yang disebabkan oleh faktor sosial yang terus berkembang, antara lain faktor wisata. Di samping tidak adanya keinginan merawat tradisi Islam para tokoh agama masa kini yang eksklusif dan gamang dengan kebudyaan itu.

Jadilah mandi balimau yang sakral menjadi ajang pemandian ala anak-anak muda masa kini tanpa pengawalan dari tokoh agama. Karena yang dipahami sebagai mandi balimau adalah percampuran berlainan jenis di tempat pemandian umum, maka menghukuminya sebagai perilaku terlarang diterima sebagai kewajaran belaka.

Tampak jelas bahwa Islam masa kini adalah Islam yang gamang dengan kebudayaan dan jauh dari semangat dialog dengan tradisi/kearifan lokal. Alih-alih memperbaiki tradisi dari penyimpangan, meluruskan tradisi Islam yang pernah ada atau bahkan melakukan Islamisasi baru budaya, jalan yang dipilih oleh muslim hari ini adalah mengikis tradisi dan budaya dari kehidupan masyarakat.

Wallahu A’lam Bishshawab.

(Penulis adalah Peneliti Simak Institute (Lembaga Studi Islam dan Kebudayaan)

Gambar; kundurnewsc.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *