Komunisme dalam Literatur Arab

Buku Islam Kolom Laman Utama

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Bulan September adalah bulan bersejarah bagi bangsa Indonesia. Kurang afdal kiranya jika pada bulan tersebut tidak ada pembicaraan tentang partai komunisme, partai berlogo palu arit berideologi marxisme-leninisme. Tentu saja termasuk di dalamnya bagian pro-kontra itu adalah soal film yang mengerikan, film pengkhianatan G30S/PKI, sejarah dan dalang di balik gerakan percobaan kudeta pada tahun 1965 itu.

Tahun ini 2020, moment 55 tahun peringatan 30 September 1965 agak berbeda. Sentimen anti komunis terasa gamblang, nyata dan keras sehingga satu-dua haris setelahnya peristiwa peringatan itu masih menjadi berita utama dan perbincangan di kalangan masyarakat. Barangkali karena peringatan itu tidak hanya karena keterlibatan rakyat biasa, tapi juga karena melibatkan mantan jenderal TNI.

Sebagaimana dimaklumi, atas dasar peristiwa 30 September tahun 1965 itu, sebagian besar rakyat Indonesia, utamanya muslim, membenci komunisme dan waspada terhadap kebangkitannya kembali. Secara umum, selain alasan pengkhiatan terhadap negara, -yang selalu menjadi doktrin ABRI atau terutama TNI, agaknya tidak ada alasan lain bagi orang Indonesia untuk membenci PKI.

Kalaupun ada alasan lain untuk membenci komunisme, itupun tentang kekejaman PKI terhadap kelompok agama, terutama kelompok Islam atau doktrin komunis anti agama, anti tuhan atau atheis. Semua itu dilancarkan tanpa penjelasan yang memadai. Selebihnya tidak ada yang tahu kenapa orang Islam harus membenci komunisme atau PKI atau pemikiran marxisme.

Represifnya rezim orde baru terhadap pemberantasan PKI, hingga melarang beredarnya buku terkait komunisme, melarang membicarakan komunisme, bahkan merazia buku yang mengkritik komunisme, maka jadilah kebencian umat Islam Indonesia terhadap komunisme berdasarkan doktrin negara, tepatnya doktrin tentara, bukan berdasar pada pengetahuan dan nilai keislaman itu sendiri.

Hampir dapat dipastikan tidak ada buku atau kajian serius dari umat Islam Indoneia sendiri, kenapa komunisme harus ditinggalkan dalam kehidupan beragama dan berbangsa. Minimnya alasan yang rasional dan berbasis pengetahuan ini membuat anak-anak muda muslim Indonesia masih tergiur dengan doktrin marxisme, perjuangan melawan kapitalisme dan ideologi proletarian. Pada saat yang sama juga terdapat anak-anak muda muslim yang membenci komunisme tanpa alasan yang jelas.

Kajian Ulama Timur Tengah tentang Komunis

Di bandingkan Indonesia, negara-negara muslim Timur Tengah jauh lebih terbuka dan maju untuk sebuah perdebatan tentang marxisme sebagai ideologi komunis. Tukar pendapat dilakukan secara terbuka tanpa tuduhan-tuduhan sinis tak masuk akal. Paling tidak terdapat lima buku yang diterbitkan oleh penerbit Timur Tengah membahas tentang komunisme dan membandingkannya dengan Islam. Salahuddin al-Munjid (1967) menulis buku berjudul Tadhamun al-Markisi Wa Tadhamun al-Islam (Solidaritas Marxisme dan Solidaritas Islam), Abdus Salam Yasin (1987) Islam wa Tahadda al-Markisiyah al-Lininiyah, Muhammad Imarah (1996) al-Tafsir al-Markisi Li al-Islam, Mustafa Mahmud (1975) Al-Makisiyah wal Islam, Syaikh Kamil Muhammad Muhammad ‘Aridhah (1993) Karl Marx; al-Markisiyah wal Islam.

Selain buku-buku tersebut, sesingkat pencarian penulis untuk penelitian doktoral, ada 18 buku karya pemikir komunisme, Marx, Engel, dan Lenin yang sudah diterjemah ke dalam bahasa Arab sejak 20dan beredar di Timur Tengah. Buku tersebut antara lain adalah magnum opusnya Karl Marx; Ra’su Mal; Naq al-Iqtishad al-Siyasi (Das Kapitas, -Kritik ekonomi politik), K. Marx dan F. Engels; Sur La Religion (Haula ad-Din), Lenin; al-Daulah Wa Thaurah (negara dan revolusi ), dan Marx; Upah, Harga dan Keuntungan (al-Ujurah, wal As’ar wal Arbah), Idiyulijiyah al-Maniya (Ideologi Jerman), Lenin; Iflas al-Umamiyah al-Thaniyah (Kebangkrutan dunia kedua), R. Lexamburc; Islah Ijtima’i Am al-Thaurah (Reformasi Sosial atau Revolusi?) K. Marx, Engels dan Lenin; Al-Hurriyah wa Dimuqatyah fi Zill al-Isytirakiyat (Kemerdekaan dan demokrasi Di Bawah Naungan Sosislisme) dan masih banyak lagi.

Keberadaan buku-buku beraliran komunis atau pemikiran marxisme di Timur Tengah menunjukkan, pertama, bahwa para ahli agama dan otoritas negara tidak melarang umat Islam mempelajari dan membaca buku tersebut, kedua, umat Islam Timur Tengah lebih mempunyai kesadaran pengetahuan yang tinggi dalam menghadapi ideologi komunis, -marxisme. Perbedaan pendapat tentang konsep ekonomi politik di Timur Tengah, khususnya dengan komunisme atau marxisme diperdebatkan dengan penuh kesadaran pengetahuan.

Lima buku di awal adalah kritik terhadap pemikiran Marxisme atau komunis yang dianggap berlawanan dan berbeda dengan Islam. Dan perlawanan itu dilakukan berdasarkan kajian yang serius, dan ilmiah.

Alasan Muslim Menolak Komunisme

Dari kajian pemikir muslim Timur Tengah itu, ada beberapa alasan kenapa muslim perlu meninggalkan komunisme atau ideologi politik dari aliran pemikiran Marxisme. Diantara banyak yang dikemukakan, ada dua alasan filosofis utama kenapa marxisme sebagai ideologi komunis bertentangan dengan Islam.

Pertama, tentang tafsir komunisme terhadap agama. Pemikiran Marxisme adalah soal materialisme. Segala sesuatu diyakini berasal dari realitas dan membentuk realitas baru. Segala materi itu ada dan tidak membutuhkan Tuhan untuk menciptakannya. Dengan kata lain, bagi Marxisme tidak ada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Atas dasar ini agama menurut komunisme adalah persoalan khurafat dan kebodohan yang muncul karena kelemahan manusia menghadapi kenyataan. Dan membicarakan masalah ketuhanan bagi komunisme tidak ada manfaatnya bagi perubahan dan kemajuan hidup manusia. Sebaliknya malah membawa kemunduran.

Dalam sebuah ungkapan yang khas Marxisme menggambarkan bahwa agama adalah jalan penjajahan bagi manusia sebagaimana negara menjadi jalan penguasan ekonomi. Sementara bagi umat Islam, atau agama lain, persoalan agama adalah persoalan hubungan manusia dengan Tuhan, sang pencipta. Umat Islam meyakini bahwa segala sesuatu terjadi karena diciptakan. Dan pencipta itu adalah Allah swt. Beragama adalah soal kemerdekaan, tidak tunduk dan tidak tergantung pada pada sesuatupun yang bersifat material dan kebendaan.

Kedua, Marxisme menganggap bahwa agama diciptakan oleh manusia sebagai tradisi, budaya dan undang-undang. Agama, berikut sumbernya, tidak terbentuk karena atau disebabkan oleh realitas sosial ekonomi masyarakat sebagaimana budaya dan tradisi. Bila agama dianggap sebagai ciptaan atau terbentuk karena faktor sosial, ekonomi dan ekonomi, maka pandangan ini menafikan keberadaan Alquran sebagai wahyu Allah.

Sementara itu setiap muslim harus meyakini bahwa agama bersumber pada Alquran dan Alquran adalah wahyu Tuhan, Allah swt kepada nabi Muhammad saw. Dan Allah melaukan sesuatu atas dasar kehendak-Nya. Sehingga Alquran diturunkan atas dasar kehendak Allah itu tanpa dipengaruhi, disebabkan, diinspirasi maupun diintervensi oleh sesuatu unsur di luar diri-Nya.

Kiranya dua alasan itu cukup menjadi pegangan bagi umat Islam sebagai alasan untuk tidak mengikuti komunisme. Mungkinkah menjadi marxisme atau komunis sekaligus muslim? Buya Hamka menyebut, kalau ada muslim menjadi komunis, maka keislamnya belumlah sempurna. Sebaliknya bila ada komunis yang menjalankan ibadah, komunisnya belum matang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *