Lagu Pop Arab di Indonesia, Dari Maghadir ke Ya Tabtab

Islam Kolom Laman Utama

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Minggu lalu Nissa Sabyan dibincang warganet terkait lagu Ya Tabtab yang dinyanyikan oleh dalam acara bertajuk religi (Islami) di salah satu televisi Indonesia. Perbincangan masyarakat terkait lagu itu tertuju pada dua hal, pertama, tentang kesesuaian antara lagu dengan acara, kedua, tentang latar belakang penyanyi asli, Nancy Ajram yang beragama Kristen. Atas dasar kedua hal ini masyarakat ‘keberatan’ dengan lagu pilihan Nissa Sabyan dalam acara religi Islam itu.

Sebelum kasus ini terjadi, hampir tak ada kritik terhadap Sabyan Gambus. Meski Gambus Sabyan juga meng-cover lagu-lagu Arab di Channel Youtube-nya tapi tidak berpotensi ‘gaduh’.

Pertanyaannya adalah kenapa masyarakat ‘keberatan’ dengan lagu itu itu? Dan kenapa yang disorot adalah kesesuaian isi lagu dan latar belakang penyanyi asli? Inilah yang akan saya bahas dalam tulisan ini.

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang keberatan masyarakat itu, saya akan mengurai sedikit tentang keberadaaan lagu Arab dalam masyarakat muslim Indonesia.

Maghadir; Pop Dahulu, Religi Kemudian

Sekali seumur hidup, Anda pasti pernah mendengar lagu Maghadir, baik secara sengaja atau tidak. Lagu Maghadir ini adalah lagu Arab populer yang dirilis pertama kali pada tahun 1960-an di Mesir oleh Maddah, penyanyi asal Arab Saudi. Lagu ini pernah terkenal di Indonesia dalam waktu yang lama, 1985-an sampai tahun 2000-an melalui Mas’ud Sidik.

Lagu Maghadir berbicara tentang keinginan akan sebuah kebahagiaan dan cinta. Keinginan yang ada dalam setiap jiwa manusia tanpa batas keyakinan dan agama. Meski dalam lagu itu ada kata dosa dalam lirik ketiga, tetapi tidak cukup untuk mengidentifikasinya sebagai lagu religius, apalagi Islami. Karena kata itu bermakna umum, kesalahan.

Karena Maghadir bukan lagu religi maka lagu ini diproduksi dengan iringan tari khas Arab yang ‘disesuaikan’. Anehnya lagu ini diputar di masjid-masjid dan musala saat ada keramaian seperti gotong royong, acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw dan acara keislaman lainnya. Pemutaran lagu itu tanpa protes dan tuduhan penistaan atau ketidaksesuaian.

Bila diukur tingkat kereligiusannya, lagu Maghadir tidak termasuk lagu religi Islami. Dalam lagu itu tidak ada pesan untuk mengesakan Tuhan  dan menolak syirik, memuji Rasul, keluarga, sahabat dan perjuangannya, atau seruan untuk berbuat kebajikan kepada sesama manusia, seruan mengingat kematian, menegakkan keadilan atau seruan menghindari kejahatan.

Barangkali hanya karena lagu ini terdapat dalam satu album yang juga berisi lagu shalawat, sehingga dianggap sebagai lagu Islami. Lagu Maghadir ini seperti tidak pernah ada matinya sebagaimana lagu-lagu lain, sehingga sampai sekarang masih tetap diproduksi, -sekali lagi, sebagai lagu islami.

Proses semacam ini pula agaknya yang terjadi pada Ya Tabtab. Pada awalnya adalah lagu pop biasa, tetapi kemudian dianggap atau diperlakukan sebagai lagu Islami dan dinyanyikan oleh gambus yang lekat dengan citra Islami.

Horizon di Sekitar Pertentangan Ya Tabtab

Berbeda dengan Maghadir, kehadiran lagu Ya Tabtab di Indonesia melalui Sabyan Gambus dikritik oleh masyarakat karena dianggap tidak sesuai dengan semangat Ramadhan. Dalam ketidaksesuaian itu ada dua tendensi ideologis yang menjadi horizon penentangan, yakni ideologi berbasis teologis, Islamis dan ideologi berbasis kebudayaan, anti-Arab.

Terminologi Islamis erat kaitannya dengan ideologi gerakan politik. Julie Chernov Hwang (2009) mengatakan bahwa istilah Islamis seringkali dipakai untuk menjelaskan kelompok yang berjuang agar Islam diterapkan secara legal-formal dalam politik, ekonomi, sosial dan budaya. Gerakannya biasa berujung pada penerapan negara Islam dan formalisasi ajaran agama.

Ideologi Islamis biasa membagi dan membatasi segala sisi kehidupan berdasarkan keyakinan, Islam dan non-Islam. Terkadang dalam beberapa kasus keyakinan ini bercampur dengan kebudayaan. Sehingga tak jarang entitas budaya Arab juga dipahami sebagai yang Islam, seperti bahasa dan model pakaian.

Atas dasar keyakinan ini maka lagu Ya Tabtab, meski berbahasa Arab, harus dibedakan dari lagu Islami. Alasan utamanya adalah karena penyanyi asli dari lagu ini bukan penganut Islam, melainkan Kristen Ortodox. Sabyan Gambus dianggap keliru menampilkan sesuatu yang berasal dari non-Islam di acara keislaman.

Sementara itu, penolakan terhadap lagu dipopulerkan Nancy Ajram itu adalah bertendensi ideologi kebudayaan, yakni Anti Arab. Ideologi anti Arab di Indonesia lahir sebagai anti tesis dari gerakan Islamis tadi. Sebab gerakan Islamis yang berkembang berpotensi atau dianggap membawa serta semangat Arabisasi.

Kelompok kedua ini menilai bahwa keyakinan harus dibedakan dengan kebudayaan. Islam sebagai ajaran yang universal harus dipisah dari kebudayaan Arab yang partikular. Dengan demikian mereka percaya bahwa tidak semua yang Arab pasti sesuai dengan Islam dan sebaliknya, tidak semua yang Islami harus meng-Arab.

Dengan alasan ini Nissa Sabyan dituding salah memahami Islam. Terlebih Nissa Sabyan adalah ikon lagu bertema religi Islami yang biasa membawakan lagu Shalawat Nabi. Sementara lagu Ya Tabtab adalah lagu percintaan.

Jadi, jika muncul tudingan bahwa Nissa Sabyan telah memperlakukan yang Arab sebagai Islam, maka hal itu berdasar pada dua horizon ini, yakni teologis dan kebudayaan. Melalui kasus Ya Tabtab itu kita melihat sebuah fakta bahwa ada kelompok besar dari bangsa Indonesia yang secara tidak langsung telah bersepakat untuk bersikap eksklusif dan menolak keragaman, baik keragaman keyakinan dan agama maupun keragaman kebudayaan.

Tampaknya mungkin aneh ketika penolakkan itu muncul dari kedua kelompok yang secara ideologis saling bertentangan. Tetapi begitulah dunia, Saudara. Kadang dua orang yang saling bermusuhan bisa bersepakat ketika punya agenda yang sama. Agenda di balik kritik terhadap Ya  Tabtab itu bisa jadi sangat politis.

Bukankah hal itu juga sudah biasa terjadi di Indonesia. Sehingga akhir-akhir ini terlihat ada lembaga anti korupsi dan koruptor yang seolah ‘sepakat’ menolak penegakkan hukum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *