Mendampingi Korban Terjangkit Covid-19

Editorial

Opini Muhammad Yusuf el-Badri

Berdasarkan akal yang sehat dan nalar yang wajar, tak seoranpun ingin dirinya mengidap penyakit, menderita secara psikologi karena menyendiri di tengah keramaian, menderita karena berjarak dan berpisah dari orang-orang yang dicintainya.

Tak ada orang yang ingin menjauhi atau dijauhi oleh keluarga dan anak-anaknya ketika mengalami kepayahan. Tak ada orang yang ingin disisihkan dan ditolak bahkan setelah mereka meninggalkan dunia yang fana. Terlebih lagi tak ada orang yang ingin terjangkit oleh virus Korona (Covid-19) yang nyata-nyata berpotensi merenggut nyawanya.

Percayalah, ketika seseorang menjadi salah satu korban korona, ia tak pernah berpikir untuk menularkannya agar orang lain mengalami penderitaan yang sama dengannya. Mereka hanya berpikir untuk sembuh. Sehingga hampir setiap orang yang dinyatakan positif mengidap virus oleh pihak berwenang bersedia undur diri dari pergaulan sosial, menjaga jarak dari keluarga dan anak-anak, suami atau istri, baik atas dasar inisiatif sendiri maupun karena pengobatan.

Menjadi salah satu korban korona jelas bukan kehendak dan keinginan siapapun. Ia tidak lain ada takdir yang harus diterima dengan sikap ridha. Namun begitu setiap korban terjangkit virus diwajibkan untuk berobat sebagai bentuk ikhtiyarnya dalam menjalani hidup. Mereka pasti ingin hidupnya kembali normal.

Oleh karena itu, tidaklah tepat kiranya kehadiran korban korona itu ditolak, dituduh sebagai biang kerusakan dan penyakit, dijauhi dalam pergaulan, bahkan mayatnya dilarang untuk dimakamkan di pemakaman umum. Mereka  yang menjadi korban korona adalah orang-orang yang membutuhkan perhatian, kasih sayang, cinta dan kepedulian dari semua pihak.

Korban korona adalah orang yang sedang melawan sakit dan penderitaan. Mereka menderita secara lahir dan batin, jasmani dan ruhani (psikologis). Penderitaan lahirnya adalah penyakit yang sedang mereka idap. Penderitaan batinnya adalah terjauhnya mereka dari orang yang dicintai. Jangankan untuk memeluk dan mencium anak atau orang yang dicintainya, sekadar membelai saja mereka tidak dibiarkan. Betapa tersiksanya para korban korona itu karena berbahaya virus yang mereka idap.

Dalam masa-masa sulit begitu, dalam masa kepasrahannya paling dalam, atau mungkin mereka sedang menyiapkan diri menghadap Tuhan, tak seharusnya pikiran dan perasaan mereka dibebani karena ketakutan kita yang berlebihan.

Ya. Kita adalah masyarakat  yang tengah mengalami ketakutan luar biasa. Kita takut terjangkit. Takut menjadi korban selanjutnya. Takut diisolasi dan dipisah dari keluarga dan sanak famili. Takut mati meninggalkan usaha dan perniagaan. Takut meninggalkan keluarga dalam kesusahan. Takut meninggalkan anak yang masih kecil-kecil. Takut meninggalkan suami atau istri yang amat sangat dicintainya.

Ketakutan itulah yang membuat kita pada akhirnya marah pada korban. Kita tidak pernah berpikir bagaimana seandainya kita sendiri adalah korban, atau saudara kita yang menjadi korban. Atau yang menjadi korban adalah anak kita, istri kita atau orang tua kita. Virus Korona menyebar tanpa memandang pangkat, jabatan, kekayaan, usia dan tempat tinggal. Ia dapat menyerang siapa saja dan kapan saja.

Sebagai makhluk, manusia hidup berdasar takdir dan ketetapan Tuhan. Maka tidak seharusnya mengidap ketakutan berlebihan. Semua yang terjadi pada manusia telah ditentukan bahkan sejak sebelum manusia dilahirkan. Manusia hanya diharuskan untuk berusaha semampu dan sewajarnya. Tanpa berlebih-lebihan.

Kenapa orang-orang yang terjangkit Korona perlu didampingi, disayangi dan dikasihi? Pertama, karena mereka adalah saudara kita, baik seagama, sebangsa dan sesama manusia. Bukankah setiap manusia diwajibkan mencintai saudaranya.

Kedua, karena mereka adalah korban dari penyakit yang mewabah. Mereka bukan pelaku kejahatan dan kriminal. Mereka bukan penyebab kematian. Mereka adalah orang yang sedang berjuang melawan penyakit. Melawan penderitaan lahir dan batin. Mereka berjuang melawan kerinduan pada orang-orang tercinta. Mereka sedang berjuang melawan hatinya yang terluka karena disangkakan sebagai penyebar virus pada orang lain. Bahkan mereka sedang berjuang menantang maut guna memperoleh takdir baik dari Tuhan.

Para koran korona butuh dukungan dari kita, dari setiap orang yang punya nurani kemanusiaan, agar mereka punya semangat untuk sembuh. Mereka butuh kasih sayang dan pendampingan agar kembali hidup normal.

Jangan tinggalkan korban sendirian. Kita, keluarga, saudara dan tetangganya tak semestinya menyisihkan, mengasingkan dan menolak kehadiran mereka. 

sumber gambar; Antaranews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *